Mengasihi Semua Makhluk! Mungkinkah? #Bhagavad Gita

buku-bhagavad-gita-mencintai-daging-sapi

Dalam suatu kesempatan tanya-jawab tentang keinginan bebas dari permusuhan dan kebencian, Bapak Anand Krishna menyampaikan bahwa apa yang kita makan memang terkait dengan sifat kasih dari dalam diri. Beliau cukup bercerita, ada seminar bagi para pencinta binatang yang dilakukan di hotel berbintang. Akan tetapi menu makanan pada seminar tersebut terdapat daging, ayam dan sebagainya. Mungkin mereka pencinta binatang tertentu, akan tetapi tidak peduli dengan binatang lain yang disembelih dan dihidangkan di atas meja. Kami semua tertawa……

Mari kita merenung sejenak. Bukankah kita pun demikian? Kita mencintai anjing, kucing, burung, ikan hias, dan hewan peliharaan lainnya. Akan tetapi di atas meja makan kita juga terdapat semur daging atau ayam goreng……..

Seperti para pencinta binatang yang mengadakan seminar dengan menu daging, kita pun ternyata mencintai hewan tertentu tetapi tidak peduli dengan hewan lainnya. Bila demikian terhadap hewan, wajar saja demikian terhadap orang. Kita bisa mencintai orang-orang yang kita sukai tetapi tidak peduli dengan selain yang kita kasihi? Kalau perlu lempari batu, pukul, bahkan darahnya halal.

Kita diajari mengasihi sesama, berdoa agar semoga semua makhluk berbahagia, akan tetapi kita masih suka menikmati kelezatan makanan lewat penderitaan makhluk tertentu. Lain halnya bila tuntutan kesehatan dan bukan tuntutan lidah yang menentukan diet kita. Atau di wilayah tertentu yang kita tidak bisa memilih makanan lain. Kita perlu jujur, ini demi kesehatan, makan untuk bertahan hidup atau demi kenikmatan lidahdan sudah terbiasa bagi kita?

Berikut penjelasan Bhagavad Gita tentang bagaimana bisa bebas dari permusuhan dan kebencian:

 

Buku Bhagavad Gita

cover-buku-bhagavad-gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Pandava (Arjuna, Putra Pandu), ia yang melaksanakan tugasnya sebagai persembahan pada-Ku – demi Aku; berlindung pada-Ku; berbhakti pada-Ku; tiada memiliki keterikatan; dan bebas dari permusuhan serta kebencian terhadap sesama makhluk, niscayalah mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 11:55

 

Inilah definisi Bhakti. Seorang bhakta atau panembah berada di dunia, di tengah kebendaan. Pun, ia menggunakan, memanfaatkan kebendaan, tetapi ia

 

TIDAK BERSANDAR PADA KEBENDAAN – Ia tidak bertopang pada kebendaan. Sederhananya, kita makan untuk bertahan hidup, tetapi tidaklah hidup untuk makan.

Terdengar perumpamaan yang sederhana sekali. Memang sesederhana itu. Secara harfiah pun, untuk menjadi seorang bhakta, langkah pertama adalah menjaga makanan, baik dari jenis maupun jumlahnya.

Tentang jenis, apa yang disebut satvika, akan dijelaskan oleh Krsna secara panjang lebar di bagian akhir Bhagavad Gita. Singkat saja – Makanan satvika yang menenangkan Jiwa, menjernihkan pandangan, sekaligus menyemangati kita untuk senantiasa bertindak secara tepat, adalah vegetarian. Pun, tidak dimasak terlampau lama, sehingga masih ber-energi. Dan tidak kalah penting makanlah secukupnya.

 

MAKANAN IBARAT BAHAN BAKAR – ada bahan bakar bertimbal, emisi karbonnya terlampau banyak. Ada bahan bakar standar, so-so. Dan, ada bahan bakar jenis utama yang terbaik untuk mesin kendaraan kita. Makanan satvika adalah bahan bakar jenis utama, dengan emisi karbon yang sangat minimal, sehingga tidak mencemari lingkungan.

Sulit menjadi bhakta, sulit mengembangkan semangat bhakti, dan mustahil mengalami kemanunggalan dengan-Nya, jika kita memikirkan makanan melulu.

Berpikir tentang makanan sepanjang hari membuat kita bersandar pada kebendaan. Makanan adalah agen utama Kebendaan.

 

TANPA MAKANAN KEBENDAAN TAK BERTAHAN. Adakah satu pun makhluk yang bisa bertahan hidup tanpa makan? Tidak. Ya, jenis makanan masing-masing makhluk beda. Lain makanan kita, lain makanan cacing, dan lain pula makanan virus dan kuman. Yang jelas, semua butuh makanan.

Kemudian jenis dan jumlah makanan menciptakan keterikatan pada dunia benda. Seberapa besar keterikatan kita, tergantung pada makanan yang kita konsumsi, juga jumlah dan porsinya.

Jika kita makan secukupnya, keterikatan kita pun secukupnya, cukup untuk bertahan hidup. Jika kita makan terlalu banyak, porsi kita besar, maka bertambahlah keterikatan kita. Dan, jika kita makan jenis yang menimbulkan gairah dan nafsu, maka kita pun menjadi bergairah dan bernafsu secara berlebihan.

Krsna mengatakan bahwa seorang bhakta…….

 

BEBAS DARI PERMUSUHAN DAN RASA BENCI – Adakah kita bebas dari keduanya ini? Jika tidak atau belum, maka sepatutnya kita mencari tahu, kenapa? Kenapa kita belum bisa bebas dari permusuhan dan rasa benci?

Lagi-lagi mulailah dari diet. Perhatikan diet. Perhatikan maja makan, perhatikan makanan yang disajikan. Adakah makhluk hidup yang disembelih untuk disajikan dagingnya di atas meja makan?

Silakan baca lanjutan penjelasan Bhagavad Gita 11:55 ini pada buku terkait.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Konsumsi daging adalah pilihan kelompok lain, bukan pilihan kelompok Sattvika, karena menyangkut “pembunuhan” sesama makhluk demi kepuasan pencecapan. Daging membuat kita terobsesi dengan makanan, seolah kita hidup untuk makan, bukan sebaliknya. Daging juga membuat kita terikat pada dunia benda. Kita melihat dunia ini sebagai satu-satunya kenyataan. Padahal barangkali dunia benda lebih tepat disebut virtual reality, kenyataan virtual — bukan kebenaran.

Sudahkah kita mulai melatih diri sehari atau dua hari seminggu tanpa daging?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s