Mutiara Bhagavatam: Memprogram Kelahiran Anak Saleh dengan Hidup Berkesadaran

buku-bhagavatam-parikshit-dalam-kandungan

Kalau ditelusuri lagi, dibedah lagi, dikerucutkan lagi—di antara kawan, kerabat, dan keluarga—, pengaruh yang paling berbahaya adalah dari anak kita sendiri. Coba dipikirkan, saat anak kita lahir, kesadaran kita seperti apa? Maunya enak, dapatnya anak? Kecelakaan? Atau memang mengharapkan anak dengan karakter tertentu?

Banyak di antara kita bahkan tidak tahu jika kita bisa mengundang jiwa untuk lahir lewat kita.Tentu mengundang jiwa yang kurang lebih berada pada frekuensi yang sama dengan kita. Jadi, bisa diprogram.

Oke, sekarang kita tahu. Tetapi, sudah terlanjur punya anak yang lahir tanpa programming. Jiwa yang menempati raga anak kita adalah atas undangan sengaja atau tidak sengaja dari kita sencliri, yang kita lontarkan beberapa tahun lalu, ketika kesadaran kita masih rendah. Ketika urusan kita masih sebatas makan, minum, tidur, dan seks. Jelas, jiwa yang kita undang pun urusannya kurang lebih sama, frekuensinya kurang lebih sama seperti frekuensi kita saat mengundangnya. Apa jadinya? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Belajar dari Srimad Bhagavatam

Parikshit adalah putra Abhimanyu, seorang pahlawan perang dan putra Arjuna. Ibu Abhimanyu adalah Subhadra, saudari Krishna. Ibu Parikshit adalah Uttari putri Raja Virata. Sewaktu dalam kandungan Parikshit diselamatkan Krishna dari senjata Ashvattama. Jelas Parikshit adalah putra pilihan yang sangat pantas berperan dalam Kisah Ilahi, Srimad Bhagavatam yang dikenal dunia sampai dengan saat ini.

Rishi Kasyapha adalah putra Brahmarishi Marici, cucu dari Brahma. Diti istri Kasyapa adalah putri Daksha Prajapati, cucu dari Brahma. Anak keturunan Rishi Kasyapha dari para saudari Diti adalah para dewa. Hanya karena kealpaan Diti yang berhubungan suami istri di saat yang seharusnya dipakai pemujaan, lahirlah Hiranyaksha dan Hiranyakashipu, sepasang raksasa yang menggegerkan dunia. Nantinya, Hiranyakashipu kawin dengan istri yang baik dan menurunkan Prahlada yang bijak.

Mungkin ada yang berkata, itu adalah skenario Gusti, agar ada cerita untuk dijadikan hikmah. Mungkin saja, akan tetapi tidak harus Diti dan Kasyapa yang mempunyai putra raksasa. Bila Diti dan Kasyapa sadar mungkin mereka akan menurunkan para dewa dan akan ada pasangan lain yang menurunkan sepasang raksasa.

Pilihan di tangan kita. Kita belajar untuk berdoa sebelum berhubungan suami istri, atau sekadar menuruti hawa nafsu di sebarang tempat, di sebarang waktu. Orang yang bermusuhan dengan kita karena karma masa lalu, pasti lahir. Tetapi tidak perlu lahir sebagai anak kita kan? Ini pilihan kita.

Mendiang ibu saya bercerita sebelum berhubungan suami-istri mereka memasang foto Bung Karno, dan waktu itu biasa karena idola rakyat adalah Bung Karno….. dan lahirlah kami, hehehe…… versi orangtua dengan genetika bawaan mereka yang mengalir pada diri kami…. Demikian pula istri kami, mertua sudah punya putra empat dan ingin memperoleh seorang putri. Mereka berdoa dan lahirlah istri kami, anak hasil pemujaan.

 

Belajar dari Bhagavatam

Kita gelisah, jiwa yang menempati badan anak kita pun gelisah, “Nyokap dan bokapku kok tiba-tiba jadi begini? Pakai meditasi segala! Dulu masih normal, masih oke, sekarang…….”

Nah, terjadilah tarik-menarik antara Anda dan sang anak. Biasanya orangtualah yang mengalah, “Mau bagaimana, anak sendiri!” Padahal, sikap mengalah seperti itu bisa membahayakan anaknya sendiri. Setidaknya tidak mengedukasi anak.

Semestinya para orangtua yang sudah berada pada jalur meditatif lebih agresif mendorong anak-anaknya—yang lahir ketika mereka masih berada pada jalur nonmeditatif—supaya ikut berpindah jalur juga…….. Tetapi tidak, kita tidak selalu melakukan hal itu, banyak pertirnbangan kita, “Anak kan tidak bisa dipaksa, mereka pun punya pilihan sendiri. Mereka kan lahir lewat kita, bukan dari kita, seperti kata Kahlil Gibran!”

Ya, betul. Tidak bisa dipaksa, dan sesungguhnya tidak perlu dipaksa. Namun, kita mesti menunaikan kewajiban kita sebagai orangtua. Setidaknya memberitahu tentang pilihan meditatif yang terbuka bagi dirinya, pilihan yang bisa membahagiakan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-soul-awareness

Kami mulai mengenal Anand Ashram saat usia 50 tahun dan istri 47 tahun, sehingga pada saat itu anak-anak kami sudah besar…… Walau terlambat, beruntunglah kami bisa belajar kehidupan dari Anand Ashram dan mulai mempelajari Srimad Bhagavatam.

Rishi Kapila yang mengajarkan Samkhya adalah putra dari Rishi Kardama Putra Brahma dan Devahuti Putri Svayambhu Manu. Pasangan yang sempurna dan selalu berada dalam kesadaran. Bagaimana dengan kita yang pada waktu membuat anak belum berkesadaran?

Dhruva mempunyai ayah yang merupakan anak keturunan Svayambhu Manu dan ibu Suruchi yang bijak. Akan tetapi sang ayah lebih memperhatikan ibu tirinya yang lebih cantik dan lebih muda. Justru hal tersebut membuat Dhruva kecil sadar dan bangkit untuk mencari bagaimana cara memusnahkan segala kegelisahan, kekecewaan

Vena mempunyai ayah anak keturunan Dhruva, sedangkan ibu anak Mrithyu, Kematian. Vena mempunyai warisan dua genetika yang berseberangan, akan tetapi genetika dari sang ibu lebih dominan sehingga dunia menjadi sangat memprihatinkan karena dikuasai Raja Lalim Vena. Maharaja Prithu adalah intervensi Narayana untuk memperbaiki Bumi yang porak poranda akibat Vena. Di saat itu para brahmana sudah menguasai teknologi untuk melahirkan Prithu dari jasad Vena yang mempunyai dua genetika yang berseberangan.

 

Hubungan Darah, Hubungan Air dan Hubungan Roh

Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. Bagaimana pun juga, kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri”. Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air”.

Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air”. Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga- “ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi kesadaran murni yang luar biasa.” Pesan Bapak Anand Krishna yang sempat kami catat.

Sadar dalam diri ada genetika yang kondusif maupun yang tidak bagi peningkatan kesadaran. Mengubah diri menjadi lebih baik adalah karakter anak yang berbhakti.

Selanjutnya sadar bahwa semua manusia bahkan semua makhluk pada dasarnya hidup karena air. Elemen alami yang membentuk kita semua adalah air, api, tanah, udara dan ruang.

Semoga kita semua sampai pada tingkat kesadaran bahwa roh kita adalah Sumbernya Satu. Karena menempati tubuh dan sejarah pengalaman yang berbeda, kita mempunyai karakter yang berbeda. Silakan ikuti Kisah Maharaja Prithu dan Raja Puranjana dalam Kisah Srimad Bhagavatam……..

 

Catatan:

Jika Roh atau Jiwa tidak lagi menyinari tubuh, tubuh tanpa roh itu disebut jasad. Raga tanpa Jiwa adalah mayat. Kemudian, matahari, angin, api, air, tanah, semua menjadi tidak berarti. Sementara itu, untuk kita ingat kembali, Roh atau Jiwa tidak pernah terputus dari Sumber Utama—atau lebih tepatnya, Sumber Tunggal Seluruh Energi dan Segala-galanya, yaitu Sang Jiwa Agung. Dari buku Soul Awareness.

Sudahkah kita mulai latihan meditasi, olah batin, merenungkan diri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s