Memprihatinkan: Kecanduan Televisi dan Internet di Indonesia

gita-kehidupan-internetan

Tarik-Menarik Energi Teriadi Setiap Saat!

“Jika acara televisi lebih kuat daripada saya, maka saya pun tertarik pada acara tersebut. Kita boleh mengaku, ‘Saya tidak lagi diperbudak oleh televisi. Saya memilih sendiri tontonan saya, sesuai dengan keinginan saya sendiri.’ ]adi? Berarti: Diperbudak oleh keinginan dan keinginan itulah yang mendorong kita untuk menonton sesuai dengan yang kita inginkan. Sama saja. Kita menarik energi dari tontonan itu…………

                “Ada objek di luar diri yang menarik kita dan ada ketertarikan di dalam diri kita, maka terjadilah interaksi. Tidak ada tontonan yang dapat memaksa kita untuk menontonnya jika tidak ada keinginan di dalam diri kita. Karena itu, para hipnotis dari James Braid hingga Milton Errickson dan Richard Bandler, semuanya mengatakan bahwa seorang tidak dapat dihipnosis di luar kemauannya.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sudah banyak tulisan yang membahas bagaimana acara televisi memperbudak dan mempengaruhi diri kita. Bukan hanya acara televisi, akan tetapi smartphone yang terhubung dengan internet pun telah memperbudak diri kita. Telah mengubah gaya hidup kita.

Berikut data yang diperoleh dari http://bgr.com/2014/05/29/smartphone-computer-usage-study-chart/

Di Amerika Serikat, orang menghabiskan rata-rata 444 menit setiap hari melihat layar, atau 7,4 jam per hari. 147 menit dihabiskan menonton TV, 103 menit di depan komputer, 151 menit pada smartphone dan 43 menit dengan tablet.

Memprihatinkan sekali. Dan, yang paling tinggi adalah pemirsa di Indonesia. Di bagian paling atas daftar adalah Indonesia, di mana orang menghabiskan rata-rata 540 menit, atau 9 jam setiap hari, menonton televisi, komputer, smartphone dan tablet.

gita-kehidupan-daftar-pemirsa-internet

Gangguan Kejiwaan akibat kebanyakan internetan

 

Saat ini, web sudah betul-betul menjadi jala perangkap. Kita bisa terperangkap dalam web, dalam jala pengetahuan  yang tidak berujung, tidak berpangkal, dan—di atas segalanya—tidak berguna. Kita sudah tidak lagi menggunakan web, tetapi digunakan, dimanfaatkan oleh web. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Internetan dan online sepanjang hari adalah hal yang menyenangkan dan bisa bikin ketagihan. Namun hati-hati, ternyata jika seseorang terlalu sering internetan dan online, akan memunculkan risiko gangguan kejiwaan. Inilah beberapa gangguan jiwa yang bisa terjadi akibat terlalu sering online:

Sumber: https://www.mindtalk.com/channel/ohternyata/post/suka-internetan-hati-hati-5-gangguan-jiwa-karena-510973796073923413.html

 

  1. OCPD ( Obsessive-Compulsive Personality Disorder). Gangguan yang bisa terjadi jika seseorang terlalu sering mengakses internet. Gangguan ini membuat seseorang sulit berpikir rasional. Orang yang terkena gangguan OCPD akan menganggap dirinya paling cerdas di dunia maya, sedangkan orang lain bodoh.
  2. Munchausen Syndrome. Gangguan jiwa yang satu ini dalam dunia psikologis bernama Munchausen Syndrome. Gangguan ini membuat seseorang mau membuat kebohongan tentang dirinya demi mendapat simpati dan rasa kasihan dari orang lain di dunia maya. Tindakan ini sebenarnya dampak dari haus perhatian dan kasih sayang.
  3. Asperger Syndrome. Pernah bertemu dengan orang yang sangat bawel, cerewet dan sangat aktif di dunia maya? Namun saat bertemu langsung dengan orangnya, dia sangat-sangat pendiam. Hal yang sama bisa terjadi pada orang yang sangat kasar dan suka memaki orang di internet, padahal di dunia nyata, dia sangat pemalu.
  4. Intermittent Explosive Disorder. Gangguan ini bisa membuat seseorang marah atau berkobar emosinya karena hal-hal yang remeh. Biasanya, orang yang terkena gangguan ini mudah marah hanya karena status sepele temannya.
  5. Low Forum Frustation Tolerance. Orang yang mengalami gangguan ini sangat ingin dirinya dianggap penting dan apa yang dia lakukan harus mendapatkan hasil seperti perkiraannya. Maka dia akan melakukan banyak hal agar orang lain mengakui kehebatan dirinya di internet. Contohnya adalah bila seseorang memposting foto yang dianggap bagus dan bisa menjaring banyak like, maka dia akan mengecek postingan fotonya setiap sekian menit sekali, hanya untuk memastikan bagaimana respon orang atau like yang diberikan pada fotonya.

 

Pesan Bapak Anand Krishna (sekitar 4 tahun lalu) yang masih kami ingat:

Mereka yang menghabiskan waktu 4 jam sehari di depan televisi, atau 2 jam non-stop di depan televisi, sama artinya menyediakan diri untuk diperbudak. Rasa diskriminasi untuk memilah informasi menurun karena dibombardir dengan segala macam informasi yang diberikan acara televisi.

Browsing internet untuk alasan apapun selama lebih dari 4 jam sehari; menghabiskan lebih dari 2 jam di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya juga membuat kita menyediakan diri untuk perbudakan. Pencipta Facebook, Twitter, dan sebagainya mungkin tidak menyadari hal ini. Mereka bahkan mungkin tidak memiliki firasat bahwa ciptaan mereka telah mempengaruhi gaya hidup umat manusia.

Para meditator menyadari kesia-siaan semua ini – namun mereka tidak berhenti menggunakan semua fasilitas ini. Hanya meditator yang benar-benar dapat menggunakan Facebook dan Twitter dan sebagainya – sedangkan sebagian besar “digunakan”!

Meditasi membuat mereka tidak kecanduan. Menjadi bebas dari kecanduan tersebut, mereka tidak bisa diperbudak. Mari kita bertanya pada diri sendiri, kita kecanduan atau tidak?

 

Memanfaatkan Sosmed untuk berbagi kesadaran

Para murid yang belum matang, belum siap, hanya meniru kata-kata Sang Murshid. Mereka tidak memahami maknanya. Kemudian dengan “modal kata-kata bijak” itu mereka berdagang di pasar dunia. Mereka mengumpulkan orang dan berpidato panjang lebar.

Tanpa memahami kata-kata itu, tak seorang pun memperoleh keuntungan dari pidato mereka. Dan untuk memahami kata-kata tersebut, yang dibutuhkan hanya satu: Anugerah Allah!

Jangan bosan “bercermin diri” pada Sang Murshid sampai memahami arti setiap kata yang diucapkan-Nya. Jangan lupa bahwa yang sedang bicara di balik cermin adalah “Dia”. Demikian, pada suatu ketika anda sendiri akan menjadi cermin. Cermin tidak pernah membesar-besarkan diri. Cermin tidak pernah bicara. Dia bisu. Dan karena dia bisu, dia diam, maka yang “Ada” di baliknya mulai berbicara.

Selama Anda masih memiliki keinginan untuk tampil sebagai Guru, Master atau Murshid, Anda belum bisu. Anda masih terlalu berisik. Anda masih belum menjadi cermin. Dan Dia pun belum bisa menjadikan Anda sebagai alat-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Sosial media merupakan alat komunikasi yang sangat praktis, karena tidak membutuhkan waktu dan biaya yang mahal. Pengetahuan yang kita share cepat menjadi viral dan tetap dapat dibaca bahkan di masa depan.

Yang perlu diperhatikan pada waktu share adalah jangan sampai kita menjadi angkuh karena merasa lebih dulu paham. Demikian juga bagaimana caranya agar pembaca tidak menjadi angkuh karena sudah merasa paham.  Kesadaran tidak terkait pemahaman, akan tetapi yang lebih penting adalah praktek di kehidupan nyata.

Itulah sebabnya seperti contoh dalam setiap buku Bapak Anand Krishna selalu dilengkapi latihan meditasi. Agar bukan hanya membaca dan memahami. Pemahaman sebagai pemicu dan kemudian dipraktekkan di kehidupan nyata. Sesuai saran Beliau agar di setiap postingan juga perlu ada seruan untuk meditasi. Agar pembaca berkenan mengubah gaya hidup dan melakoni setiap tindakan dengan penuh kesadaran. Apabila hanya sebatas pemahaman, apabila di masa tua terkena stroke, kita tidak meninggalkan kebaikan bagi diri kita sendiri…….

Bagi kami pribadi, yang menyebarkan pengetahuan adalah Bapak Anand Krishna, kami hanya salah satu alatnya. Sebelum memposting, kami selalu berdoa, yang berbagi penuh kasih adalah Beliau, dengan energi Beliau, kebijaksanaan Beliau…………….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s