4 Macam Dualitas Yang Menunjang Kesadaran #YogaSutraPatanjali

yoga-sutra-patanjali-4-kumaras

“4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan penciptaan adalah berbeda.

Sananda adalah cara pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta.

Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir,

Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya. Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluarga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatnya dan secara proporsional. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut pandangan Yoga Sutra Patanjali bahwa ada 4 macam dualitas yang masih menunjang kesadaran:

cover-buku-yoga-patanjali

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Samprajnatah atau Kesadaran (yang masih belum sepenuhnya melampaui dualitas) adalah yang berlandaskan pada Vitarka utau Pertimbangan, Penilaian, dan Penyimpulan yang Tepat; Vicara atau Perenungan yang Tepat; Ananda atau Kebahagiaan Sejati yang bersumber dari diri sendiri, tidak tergantung pada sesuatu apa pun di luar diri; Asmita atau Kesadaran Aku yang Sejati (sebagai Jivatma atau Jiwa Individu atau Percikan Sinar Purusa atau Gugusan Jiwa, Hyang adalah bagian tidak terpisahkan dari Paramatma atau Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.17

 

Jika diperhatikan, dalam keadaan ini pun, dalam Kesadaran Sejati seperti ini pun, masih ada dualitas. Ada Dualitas antara “kita yang sadar dan “apa yang disadari”.

 

DUALITAS INI TIDAK BISA LANGSUNG TERLAMPAUI. Bahkan, setelah terlampaui pun-—ketika kita “turun lagi dari Keheningan atau Kasunyatan meditasi, dan berpijak lagi pada bumi”—maka dualitas murni atau visistadvaita tetaplah dibutuhkan untuk menjalani hidup ini. Menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

Untuk itu, dualitas yang, sebut saja menjadi keharusan, mesti berlandaskan pada faktor-faktor di atas—setidaknya salah satu dari keempat faktor tersebut.

 

PERTAMA, DUALITAS BERLANDASKAN VITARKA atau Pertimbangan yang matang, penilaian yang cakap, dan penyimpulan yang tepat. Jadi, bukan sembarang dualitas.

Hendak bekerja sama dengan seseorang, jelas ada faktor dualitas yang bekerja, maka itu gunakan vitarka. Jangan asal bekerja sama. Memaksa diri untuk bekerja sama demi kepentingan pendek di depan mata; tanpa perhitungan, bukanlah keputusan yang sadar; bukanlah kerja sama yang baik.

Kerja sama mesti dijalin dengan mempertimbangkan segala aspek, termasuk kemungkinan-kemungkinan terburuk. Kerja sama mesti dijalin atas landasan kebersamaan, jangan sampai going London, looking Tokyo. Kerja sama “jereng” seperti itu bukan saja membahayakan pihak-pihak yang bekerja sama tapl juga mereka semua yang berhubungan dengannya.

 

KEDUA KESADARAN DUALITAS BERDASARKAN VICARA atau Perenungan yang dalam, perenungan yang tepat. Perenungan bukanlah berkhayal. Perenungan tidak sama dengan melamun. Perenungan adalah “berpikir dengan hati dengan nurani dengan sanubari”. Itulah vicara.

Dalam keadaan bimbang, saya menghadapi Guru saya, dan beliau mengatakan, “Vicara nahi(n) karne ka.” Saat itu, saya mengartikannya, “Jangan khawatir semua akan beres.”

Padahal, maksud beliau jauh leblh dalam daripada sekadar “Jangan khawatir” dan “Jangan berpikir banyak”. Beliau menghendaki supaya saya membebaskan Jiwa, membersihkan hati sanubari dari beban kekhawatiran, kegellsahan, pikiran yang bukan-bukan, dan sebagainya.

Kata Vicara memang memiliki makna yang sangat dalam. Vicara adalah kegiatan batin. Perenungan bukanlah kegiatan gugusan pikiran atau perasaan.

Lagi-lagi, jika kita mau “bekerja sama” atau katakanlah, mau “kawin”, mau “menjalin hubungan apa pun dengan orang lain”—mau menciptakan dualitas jenis apa saja—semestinya berlandaskan vicara, perenungan yang dalam.

Silakan ikuti 2 macam dualitas yang menunjang kesadaran berikutnya pada catatan selanjutnya………

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Kami sudah melakukan penelitian dalam bidang ini. Dibantu oleh beberapa Dokter ahli di bidang mereka masing-masing, kami memang menemukan bahwa dalam keadaan meditatif, ada kelenjar-kelenjar yang menjadi aktif dan mengeluarkan hormon-hormon tertentu. Salah satu hormon, misalnya “Melatonin”, dapat membuat manusia sangat tenang dan tenteram. Dari buku Paramhansa Yogananda.

Sudahkah kita mulai latihan meditasi untuk memperoleh ketenangan dan ketenteraman?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Advertisements

One thought on “4 Macam Dualitas Yang Menunjang Kesadaran #YogaSutraPatanjali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s