Berada di Tengah Masyarakat Rajasika yang Suka Gemerlapan #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-anak-kecil-pakaian-dewasa

Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), ketahuilah bahwa sifat Rajas, agresif dan penuh nafsu, muncul dari keinginan serta keterikatan. Ia membelenggu Jiwa dengan mengikatnya pada perbuatan dan hasil perbuatan.

Hukum Karma bekerja rapi ketika seseorang memiliki sifat rajas. Roda Karma berputar lancar dan mengikat Jiwa dengan badan serta alam benda lewat setiap tindakan serta hasilnya.

Perbuatan tercela berakibatkan kesengsaraan; sifat terpuji menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan – inilah Hukum Karma. Seseorang bersifat rajas selalu mengejar pujian. Ia tidak sadar bila pujian dunia juga merupakan sangkar yang memenjarakan Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 14:7 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Masyarakat kita termasuk kelompok Rajasika? Mengapa? Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali di bawah ini:

 

Buku Yoga Sutra Patanjali

cover-buku-yoga-patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“(Pengetahuan Sejati adalah tentang) Purusa, Gugusan Jiwa yang tidak terpengaruh oleh guna atau sifat-sifat kebendaan; tidak terikat padanya; dan tidak merindukannya (ini pula yang disebut pelepasan diri atau Vairagya yang sesungguhnya).” Yoga Sutra Patanjali I.16

 

Kita sudah sering membahas tentang 3 Guna, Tiga Sifat Kebendaan. Lagi-lagi, Gita memberikan penjelasan yang sangat terperinci. Di sini kita akan menyinggung sedikit untuk menyegarkan memori kita.

 

SATTVA, RAJAS, DAN TAMAS, itulah tiga Guna atau Sifat Kebendaan. Segala sesuatu dalam dunia benda ini—mulai dari manusia, hingga makanan, cara hidup, bahkan cara kita berpakaian—semua berlandaskan ketiga sifat itu dalam proporsi tertentu; dan berbeda dari orang ke orang, dari satu keadaan dengan keadaan yang lain.

Beberapa Waktu yang lalu saya menonton acara Lomba Lagu anak-anak di televisi. Rata-rata mereka berusia di bawah 10 tahun. Suara mereka indah, tetapi busana yang mereka pakai hampir tidak memberikan kesan jika mereka masih kanak-kanak. Penuh dengan pernak-pernik dan aksesori yang lazim dipakai orang dewasa.

Saya berusaha menempatkan acara tersebut ke dalam salah satu kelompok, dan ternyata susah sekali. Kepolosan dan keluguan anak-anak itu, yang semestinya berada dalam kelompok Sattva yang menyejukkan, dinamis tapi tenang, hampir hilang dalam kegemerlapan Rajas yang membuat mereka tidak lagi selaras dengan usia maupun lagu-lagu yang mereka nyanyikan.

Kemudian, saya perhatlkan pula mereka yang “mengadakan“ acara tersebut, ternyata walau tampak dinamis, sesungguhnya malas sehingga masuk dalam kelompok Tamas. Pasalnya mereka tidak kreatif.

Barangkali mereka terlalu sering mengadakan acara lomba orang dewasa sehingga ketika mendapatkan proyek untuk acara lomba anak-anak, mereka enggan memutar otak. Segala properti, busana, perhiasan, dan lain-lain yang mereka gunakan untuk acara lomba bagi dewasa juga digunakan untuk anak-anak.

 

BUKAN, BUKAN LUCU! Menonton acara itu, Hola berkomentar, “Nah ini yang mesti disikapi para psikolog dan pengamat. Mana mereka? Di manakah mereka?

“Lihat gerak-gerik anak-anak yang masih di bawah umur itu! Apakah tampak lugu? Tampak polos? Siapa yang melatih mereka? Di manakah para pendidik? Apa ini pendidikan yang kita harapkan untuk anak-anak kita?

“Kalau ada orang yang ‘lemah syahwat’, dalam pengertian tidak mampu mengendalikan syahwatnya—orang bersifat tamas, bejat—menonton acara itu, apa yang akan dilakukannya? Jika ia menjadi pedofil, melecehkan anak-anak di bawah umur, maka ‘doanya’ mesti ditanggung bersama oleh setiap orang yang terlibat dalam acara seperti itu, dan mereka yang duduk manis di depan layar televisi dan menyaksikannya. Termasuk orangtua dan para guru anak-anak ini.”

Akhirnya, Hola pun menantang, “Aku sudah bersuara, bagaimana dengan kamu?”

Bagaimana dengan Anda, dengan saya, dengan kita?

 

PENGALAMAN HOLA INI PERLU DISIMAK SAKSAMA dalam kaitannya dengan Sutra atau Rumusan yang satu ini.

“Tidak terpengaruh oleh guna atau sifar-sifat kebendaan; tidak terikat; dan tidak merindukarmya” tidak berarti kita membisu ketika melihat kejadian-kejadian yang tidak harmonis, tidak selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Sama seperti cara menyikapi acara televisi tersebut. Vairagya, Ketakterikatan atau Pelepasan Diri bukanlah tidak mengambil sikap terhadap tontonan seperti itu. Dengan tidak mengarnbil sikap, kita masuk dalam kelompok Tamas. Kita ikut menjadi bejat.

Dengan bertepuk tangan dan ikut menjadi penggembira, kita masuk dalam kelompok Rajas. Dinamis tapi berotak lumpur, alias tidak cerdas.

Dan jika kita menganggap diri sebagai orang yang bersifat Sattva, sudah menjadi Yogi, sudah cerah, dan berkomentar, “Ya, memang begitulah adanya dunia ini,” maka kita pun masih terjebak dalam permainan kebendaan yang multisifat itu.

 

SEORANG VAIRAGI, seorang yang telah bebas dari segala keterikatan, melampaui ketiga “model” orang tersebut.

Ia akan bersuara—bahkan bukan bersuara saja, tetapi ia pun akan bertindak sebatas kemampuannya. Tapi ini penting, ini yang membuatnya seorang vairagi, yaitu ia akan melakukan semua itu tanpa kepentingan pribadi. Bahkan, bukan untuk mencari nama atau pengakuan dari siapa-siapa.

Ia pun tidak gelisah jika segala daya upayanya tidak berbuah; jika tontonan di televisi tetap sama seperti itu. Ia sudah puas karena telah melakukan dharma-nya, kewajibannya sebagai seorang vairagi yang berbuat luhur, seluhur-luhurnya, tanpa mengharapkan hasil.

Inilah “kesadaran”, inilah contoh hidup tentang “hidup berkesadaran”. Patanjali melanjutkan…..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Meditasi membuat kendaraan kita layak untuk dibawa ke jalan raya. Meditasi membuat kita sadar akan keadaan kendaraan kita – yaitu kendaraan badan, indra, pikiran, perasaan, dan sebagainya. Penjelasan Bhagavad Gita 10:10

Sudahkah kita memulai langkah pertama latihan meditasi?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s