Tidak Mudah Melupakan Kebiasaan Masa Lalu #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-impresi-samskara

Profesor Radhakrishnan, mantan Presiden India, yang juga adalah seorang pemikir luar biasa, seorang filsuf, pernah mengatakan bahwa the greatest quality of human mind is its ability to forget things. Berarti, kemampuan otak manusia yang paling hebat adalah kemampuannya untuk melupakan, bukan untuk mengingat.

Pada saat kematian, kalau kita tidak melupakan segala vasana kita, obsesi-obsesi kita, terjadilah kelahiran baru. Jika setiap pengalaman, setiap keberhasilan dan setiap kegagalan, setiap kejadian masih tetap tersimpan rapi dalam gugusan pikiran dan perasaan atau mind, seseorang akan tetap mengalami kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengan perjuangan, kita bisa berhasil men-delete kebiasaan tidak baik di masa lalu. Akan tetapi kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

Silakan mewaspadai retrievable file seperti dijelaskan pada Yoga Sutra Patanjali I.18 di bawah ini:

cover-buku-yoga-patanjali

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Keadaan lain (Asamprajnatah atau Samadhi, Pencerahan yang bebas dari dualitas, namun masih) mengandung muatan purva samskara atau sisa impresi, kesan-kesan dari masa lalu, yang dapat dieliminisasi, dihabisi, dihapuskan dengan niat yang kuat dan upaya terus-menerus untuk tujuan mengeliminasinya.” Yoga Sutra Patanjali I.18

 

Ini adalah peringatan bagi setiap meditator. yang barangkali merasa dirinya sudah melampaui dualitas, “Bagi saya sekarang, logam mulia dan gumpalan tanah sama saja.”

 

PERHATIKAN APA YANG TERSIRAT DALAM PERNYATAAN TERSEBUT— walau menyatakan keduanya sama, sesungguhnya si pembuat pernyataan masih melihat logam mulia sebagai logam mulia; dan tanah liat sebagai tanah liat. Maka, ia masih menyebut keduanya. Kemudian, ia menyatakan bahwa “baginya kedua itu sama.”

Berarti, sesungguhnya ia tidak menafikkan perbedaan antara tanah liat dan logam mulia. Hanya saja, “baginya” sama.

Nah, pengetahuan tentang perbedaan inilah yang disebut sesa atau sisa dari purva samskara atau kesan-kesan masa lalu.

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

cover-buku-soul-awareness

CONTOH LAIN. Hola sudah lama lepas, sudah bersih dari rokok, shabu, ganja, dan sebagainya. Tetapi, ketika ia mencium aroma tembakau atau daun ganja yang terbakar, “Wah aromanya sedap sekali!”

Berarti, ia masih memiliki retrievable file tentang memori sedapnya aroma tembakau dan ganja.

Sebaliknya, Bola yang memang tidak pemah dan tidak suka merokok, saat mencium aroma yang sama, memberikan komentar berbeda, “Bau apa ini, apa yang terbakar?!”

Hola dan Bola mencium aroma yang sama. Namun, komentar mereka sesuai clengan purva samskara mereka masing-masing. Hola punya pengalaman sebagai “pemakai” pada masa lalu, maka aroma itu diterjemahkannya sebagai “sedap”. Bola tidak punya pengalaman rnasa lalu, maka ia menerjemahkannya sebagai “bau bakar”—bahkan, “bakar apa” pun tidak bisa ditentukannya.

Dalam hal ini, Hola dengan bekas residu atau sisa impresi masa lalu “berpotensi” untuk tergoda dan mulai merokok lagi, “memakai” lagi. Sebaliknya, Bola yang tidak memiliki seperti itu, relatif lebih aman.

 

CELAKANYA, DALAM HAL KEBENDAAN, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menyebut dirinya Bola, yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas seperti Bola, dan berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola, masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri.

Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya.

 

RETRIEVABLE FILES PURVA SAMSKARA hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan.

Jadi, selain mengeliminasi files dari masa lalu, kita pun mesti pintar-pintar menjalani, melewati masa kini tanpa meninggalkan residu. Kita mesti hidup tanpa menyisakan sampah-kesan. Kalau tidak, maka sepanjang usia kita akan tersibukkan oleh upaya penghapusan files masa lalu, sembari menambah files masa kini yang kelak akan menantang dan mengganggu kita lagi.

Untuk itulah adanya teknik-teknik dalam Yoga, yang akan kita dalami sepanjang perjalanan kita lewat sutra-sutra ini. Pun, di bagian akhir buku ini, ada beberapa saran yang sudah teruji dan terbukti manfaatnya, dan dapat membantu Anda.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Mind ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind)dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berada dari aslinya. Ini yang disebut proses deconditioning dan re-creating mind. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Mind itu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Mind itu rewritable ! dari buku Bodhidharma

Sudahkah kita mulai latihan meditasi untuk me-rewrite, mengubah mind?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Advertisements

Mutiara #Bhagavatam: Menunggu Giliran Kedatangan Utusan Dewa Yama

buku-bhagavatam-menghadap-yama

 

Pandangan jernih seorang Yogi

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kita anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Seorang non-yogi tidak mampu melihat sesuatu tanpa intervensi persepsi yang sudah terbentuk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setiap orang lahir dengan genetik tertentu yang merupakan warisan dari orang tuanya. Kemudian dia memperoleh pelajaran dari orangtua, pendidikan dan lingkungan secara repetitif dan intensif.  Sehingga kebenaran yang dipunyainya adalah kebenaran dengan kerangka pengalaman dia. Apabila dia lahir di negeri berbeda, diasuh orang tua berbeda, pendidikan dan lingkungan yang berbeda, maka pandangan kebenaran yang dimilikinya juga berbeda. Persoalannya adalah bagaimana caranya meningkatkan kesadaran agar bisa melihat sesuatu dengan jernih tanpa dibebani persepsi yang telah terpola akibat conditioning masa lalu kita?

 

Belajar dari kisah-kisah Srimad Bhagavatam

Para pelaku kisah di Srimad Bhagavatam adalah para bhakta, panembah Gusti. Sehingga setelah paruh baya (bhaya pada kisah Puranjana dalam Srimad Bhagavatam berarti Cemas, Kecemasan) mereka melakukan vanaprastha, meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan, fokus pada Gusti menjelang datangnya kematian. Awam mulai cemas, setelah usia paruh baya, takut kematian mendekat, sedangkan para bhakta justru mulai fokus pada Gusti Pangeran.

Dalam kisah Ajamila, seorang brahmana yang taat, sebelum meninggal, hidupnya keluar dari rel dharma. Ajamila masih mempunyai anak kecil di usia 80-an. Pada saat para bhakta fokus pada Gusti Pangeran, Ajamila terfokus pada anak kecilnya. Akan tetapi, pada akhirnya Ajamila dengan dramatis kembali menjadi bhakta, panembah Gusti sampai maut datang menjemput.

Kami menulis Note, Catatan ini untuk mengingatkan diri kami sendiri, dan juga para pembaca murni yang tanpa melakoni sadhana, laku olah batin, yang merasa dengan memahami kisah-kisah Ilahi kita sudah lebih paham dan lebih cerah. Kisah Ilahi ini memang penuh hikmah, akan tetapi kadang otak kita bekerja terlalu cepat dan memudahkan permasalahan.

Misalkan kita tahu Korawa pasti kalah melawan Pandawa yang dibantu Krishna. Akan tetapi bila kita mengalami sendiri di zaman itu, belum tentu kita berpihak kepada Pandawa. Pandawa diasingkan selama 13 tahun. Bagaimana rasanya 13 tahun dikuasai Pemerintahan Korawa? Masihkah kita bertahan dalam kebaikan ketika adharma merajalela?

Kita membaca di Srimad Bhagavatam, saat dunia dikuasai Raja Vena keadaan kacau balau dan akhirnya Vena mati dan diganti Maharaja Prithu. Mungkin hanya 2 halaman tulisan dan sekali baca paham. Akan tetapi bagaimana kalau kita menjadi rakyat Vena dan mengalami kondisi adharma selama puluhan tahun? Sejak kita nikah sampai anak besar, mungkin sampai punya cucu, negara dalam keadaan kacau. Mungkinkah kita masih bertahan dalam kebaikan?

Sehingga adanya syarat untuk melakukan spiritual, kita harus hidup mandiri, mempunyai penghasilan tetap baru memperdalam spiritual, masuk logika. Mereka yang belum bekerja, masih menggantungkan kehidupan kita pada orangtua, mungkin merasa sudah bisa spiritual dengan mengabaikan dunia. Padahal kerja dan hidup mandiri, memperoleh penghasilan tetap itu sendiri sudah merupakan perjuangan tersendiri, tidak bisa disederhanakan.

Berikut ini catatan untuk introspeksi diri, sudahkah kita spiritual? Sampai tingkat kesadaran yang mana? Agar tidak menyederhanakan permasalahan……

 

Karakter spiritual sejak dini

Karakteristik para pemandu rohani sudah bisa dideteksi sejak usia dini. Baru-baru ini kami melakukan penelitian kecil-kecilan dengan melibatkan lebih dari 300 responden di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali.

Walau penelitian itu dilakukan di kota-kota tersebut, mereka yang terlibat sebagai responden mewakili Indonesia selengkapnya. Ada orang Bugis, ada Betawi, ada Batak, ada yang berasal dari Flores, Aceh, Minang, KaIimantan…. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun orang yang pada usia 5 hingga 10 tahun memikirkan spiritualitas. Tidak seorang pun.

Keadaan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa para Sadguru atau Pemandu Sejati memang bukan run of the millproduct, bukan produk pabrikan.

Seorang Pemandu Sejati, seorang Sadguru sudah menunjukkan sifat-sifat rohani sejak usia dini. Ia sudah memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dilakukannya selama perlawatannya di dunia ini. Ia sudah mengantongi blueprint yang jelas tentang dunia yang akan dibangunnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sesuai penjelasan di atas, jelas kita belum memikirkan hal spiritual pada waktu kecil. Penjelasan di bawah memperjelas kondisi kita saat ini.

cover-buku-soul-awareness

Introspeksi Diri

Saya masih ingat pengalaman seorang yogi, seorang Samnyasi, yaitu Svami Ranganathananda dari Ordo Sri Ramakrishna yang berkunjung ke Indonesia sekitar akhir tahun 1950-an—awal 1960-an.

Sebagaimana kita tahu, Bung Karno, Bapak Bangsa kita, Bapak Republik Indonesia Modern, amat sangat mengagumi pandangan-pandangan Svami Vivekananda, murid Sri Ramakrishna. Maka beliau mengundang sang Svami ke istana. Menurut catatan-catatan dan jurnal sang Svami yang masih tersimpan rapi di pusat dokumentasi Ordo Ramakrishna, pertemuan dengan Bung Karno bukanlah sekali saja, tapi beberapa kali.

Saat itu, Bung Kamo menawarkan segala fasilitas dan bantuan supaya Ordo Ramakrishna membuka cabang di Indonesia. Sang Svami tidak langsung menerima tawaran itu dengan alasan beliau masih ingin mengunjungi Surabaya, pulau Bali, dan beberapa kota lain untuk memahami tabiat dan kebutuhan Manusia Indonesia, sebelum memutuskan membuka cabang.

Setelah berkeliling Indonesia selama beberapa bulan, ia memutuskan untuk menangguhkan pembukaan cabang hingga suatu waktu yang tepat. Pandangannya itu pun disampaikannya kepada Bung Karno.

Setelah pulang ke India, para svami lain dari Ordo Ramakrishna  mengkritisi keputusannya, “Seorang kepala negara bersedia memfasilitasi dan membantu, dan Svami, kamu menolak!?! Nggak salah?”

Sang Svami menjawab dengan tenang. By the way, cerita ini saya dengar dari seorang Svami Senior, Svami Tapasyananda sebelum beliau wafat. Kernbali pada jawaban Sang Svami, “Saya sudah berkeliling Indonesia, dan saya belum juga menemukan benih, bibit seorang samnyasi. Jika saya menemukan satu bibit saja, saya akan menerima tawaran Bapak Presiden. Tanpa bibit asli Indonesia, benih yang berasal dari Bumi Indonenesia, sekadar membuka cabang saja tidak berguna.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari kutipan buku di atas, maka kami pribadi memang jelas masuk dalam kriteria belum mengenal spiritual sejak dini. Walau menurut pandangan umum, karakter kami tidak jelek-jelek amat, tetapi kami sadar bahwa kami belum spiritual.

Kesadaran mulai muncul saat kami dan istri bergabung dengan Anand Ashram di usia setengah baya di tahun 2004. Selanjutnya, di tahun 2008, saat mempelajari buku Sanyas Dharma, kami baru lebih memahami tujuan hidup. Kami mulai intensif melakukan sadhana, baru sekitar tahun 2015 setelah mengikuti program Yoga sadhana. Tentu saja energi di usia 60-an tahun sudah tinggal sisa. Ditambah berbagai penyakit mulai berdatangan.

cover-buku-yoga-patanjali

Belajarlah Melakoni Spiritual Sebelum Usia 35 tahun

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa Kenyamanan tidak sama dengan Kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang sahabat yang ingin teman-teman aktif hadir di kelas Selasa Ananda’s Neo Self Empowerment di Jogja, sampai bilang takut kalau yang datang hari Jumat kalah dengan yang hari Selasa karena pada hari Selasa diputarkan video tentang penjelasan Bapak Anand Krishna yang tidak keluar di youtube.

Kami berdua berupaya, tetapi jujur memang kami mepunyai keterbatasan. Kami berdua yang berusia sekitar 60-an memang harus fit kedua-duanya. Salah satu nggak fit kami nggak bisa pergi. Juga kenyataan bahwa setiap pergi ke Jogja esoknya perlu recovery 1 hari karena pulang sudah malam dan menyetir kendaraan sendiri.

Yang kami syukuri adalah dengan adanya video youtube dan buku-buku Bapak Anand Krishna yang masih banyak yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Itu saja persiapan kami menunggu giliran kedatangan utusan Giam Lo Ong, Dewa Yama.

Istri kami setiap membersihkan rumput/tanaman di sela-sela paving atau menggosok paving dari lumut ataupun pekerjaan rumah lainnya, selalu melakukannya sambil merenung. Dan, kadang kami menghentikan pekerjaan cuci baju atau lainnya untuk mendalami perenungan yang kita peroleh.

Misalnya perenungan tentang seseorang yang menjadi dambaan setiap orang. Menjadi Pemimpin selama 2 periode. Punya 2 anak yang mestinya sukses. Kekayaan materinya sudah berlimpah. Mengapa dari berita di dunia maya masih belum juga tampak bahagia?

Tidak semua perenungan kami tulis. Belum tentu juga disampaikan pada waktu study circle seminggu sekali di Solo yang terbuka bagi para pembaca buku. Akan tetapi study circle tersebut bagi kami pribadi terasa sangat bermanfaat. Membahas Soul Awareness sekitar 2 bab sekali pertemuan memberikan tambahan pencerahan yang tadinya belum diperoleh. Ada hal-hal yang hanya kami berdua pahami yang juga belum tentu benar sebelum mendapat pengetahuan dari Guru.

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Tidak Terpengaruh Keadaan di Luar? Mungkinkah? #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-gandhi-jesus-martin-luther-john-lennon

Kita perhatikan Gandhi dan Jesus, Martin Luther King, Jr. dan, bahkan, John Lennon dari kelompok Beatles, mereka semua adalah pelaku meditasi. Mereka tidak berhasil membuat setiap orang senang, tetapi cukup berhasil membahagiakan banyak orang. Mereka tidak pernah memikirkan kepentingan diri saja.

Itulah ciri khas seorang meditator, seseorang yang telah meraih kesadaran diri, kesadaran rohani, kesadaran jiwa—yang amat sangat mudah terdeteksi.

Ciri lain yang mudah terdeteksi adalah bahwa seorang meditator tidak mudah terpengaruh oleh keadaan-keadaan di luar, dan tidak mudah pula terpengaruh oleh perkataan orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-soul-awareness

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 9:14 tentang Kesadaran Jiwa:

 

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

 

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

cover-buku-bhagavad-gita

SEBAGIAN DIANTARA KITA MENGAGUNG-AGUNGKAN EMOSI – bahwasanya, jika emosi kita ditingkatkan maka, apa pun yang kita kehendaki akan terjadi. Bisa, tapi jangan lupa, sifat emosi adalah naik-turun, pasang-surut, kadang panas, kadang dingin. Mustahil kita bisa mempertahankan emosi di suatu level, suatu tingkat tertentu untuk selamanya.

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri.

 

DEMIKIAN PULA DENGAN EMOSI MANUSIA – Makin tinggi, jatuhnya pun makin hebat, makin dahsyat – makin menyakitkan!

Level emosi yang tinggi, yang dikaitkan dengan kebahagiaan atau keceriaan, sesungguhnya hanyalah kesenangan sesaat. Emosi tidak pernah dan tidak bisa menghasilkan kebahagiaan sejati. Emosi tidak dapat, tidak mampu menggapainya. Adalah kesadaran Jiwa, yang berasal dari sanubari terdalam atau bhava ‘saja’ yang dapat membahagiakan Jiwa.

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

 

JIKA KITA MEMILIKI TABUNGAN, atau, jika penghasilan kita memadai, maka ketika kendaraan kita rusak, kita akan menukarnya dengan kendaraan baru. Tukar-tambah, atau bahkan kendaraan yang sudah lama dan rusak itu dibiarkan di garasi untuk menjadi rongsokan. Tidak menjadi soal.

Tetapi jika penghasilan kita tidak cukup, tabungan kita tidak cukup—maka rusaknya kendaraan bisa membuat senewen. Kita stres berat. Tabungan dan penghasilan yang dimaksud di sini adalah “Kesadaran Jiwa.”

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Apa yang dapat membahagiakan? Bila harta benda, sanak-saudara, tak dapat memberi kebahagiaan, apa yang harus kulakukan? Hanya dua pilihan. Masuk ke dalam alam depresi berat atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan dalam diri. Bhaja Govindam

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Petunjuk Sudah Ku-sampaikan! Mengikuti Kehendakmu Urusanmu #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-nasihat-krishna-pd-arjuna

Sungguh karena Aku sangat menyayangimu, maka nasihat-Ku ini pun demi kebaikanmu sendiri.

Dhammapada 22:306 menjelaskan apa yang dapat mencelakakan diri, yaitu kebohongan. Mengingkari perbuatan keji, dan berbohong untuk menutupinya – inilah pertanda orang yang sedang mencelakakan dirinya.  Kita tidak dapat membohongi Keberadaan Yang Maha Mencatat setiap kegiatan. Perbuatan keji untuk mencelakakan orang lain adalah serangan terhadap Keberadaan. Dan, begitu kita menyerang Keberadaan yang adalah Kasunyatan Abadi, maka perbuatan keji dan kebohongan akan bergaung kembali. Tidak ada yang menghukum kita kecuali perbuatan kita sendiri. Ada kalanya benih perbuatan keji itu belum tumbuh menjadi pohon, maka sepertinya lama sekali baru berbuah. Ada kalanya Keberadaan membiarkannya tumbuh malah diberi air hujan dan difasilitasi pertumbuhannya, supaya pada saatnya dapat ditebang karena ilalang memang tidak berguna dan malah mencelakakan pertumbuhan tanaman lainnya. Catatan Nasehat Bapak Anand Krishna tentang Interfaith

Karena kasih sayang-Nya kepada kita, Tuhan telah memberitahu kita jalan yang benar. Akan tetapi Tuhan tidak memaksa agar mengikuti kehendak-Nya. Pilihlah tindakan sesuai kehendak kita, dan konsekuensinya juga kita sendiri yang menerima. Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita tentang hal ini:

cover-buku-bhagavad-gita

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Demikian, Kebijakan Tertinggi, Pengetahuan Sejati yang lebih dalam dari yang terdalam ini telah Ku-sampaikan padamu. Renungkan, dan selanjutnya bertindaklah sesuai dengan kehendakmu.” Bhagavad Gita 18:63

Tidak ada pemaksaan. Seorang Krsna — seorang guru sejati atau Sadguru — tidak pernah memaksakan kehendaknya.

 

SEORANG KRSNA, AVATARA, SADGURU atau apa pun sebutannya — juga bukanlah seperti guru di sekolah, entah sekolah biasa atau sekolah kepercayaan. Para guru sekolah, termasuk guru kepercayaan dan sebagainya memberi sanksi jika kita tidak menghafal pelajaran yang diberikannya

Seluruh social machinery ikut menjatuhkan sanksi. Pihak sekolah menjatuhkan sanksi berupa “lulus” atau “tidak”. Belum lagi pemerintah yang sama sekali tidak berurusan dengan para siswa selama bertahun-tahun, menjatuhkan sanksi yang sama lagi lewat Ujian Nasional. Jadi seorang anak itu dihukum dua kali atas “kesalahan” yang sama. Jangan bicara keadilan. Pendidikan kita tidak berurusan dengan itu.

Siswa membutuhkan pengetahuan bahasa Inggris untuk mampu berkomunikasi dengan dunia luar. Para psikolog boleh menganjurkan bahwa usia paling tepat untuk pelajaran bahasa adalah di bawah 12 tahun. Tapi, kebijakan sistem Pendidikan Nasional bisa saja menentukan sesuatu yang lain.

Senangnya ketika buku ini masuk cetak, ujian nasional yang hanya rnemboroskan waktu, tenaga, dan uang itu sudah dihapuskan. Dan bahasa Inggris diajarkan sejak usia dini. Tentunya, demikian juga dengan pelajaran tentang sejarah bangsa maupun dunia, tanpa interpretasi menyesatkan dari salah satu pihak.

 

SEJARAH DAN NILAI-NILAI BUDAYA NUSANTARA yang setidaknya sudah berusia 5.000 tahun mesti diajarkan selengkapnya, seutuhnya tanpa bias prejudis apa pun. Biarlah para siswa didik menilai sendiri bagian sejarah yang mana, tokoh mana, nilai-nilai budaya mana yang akan menjadi pegangan hidupnya.

Persis seperti yang dilakukan oleh Krsna setelah menyampaikan pandangan-pandangannya Krsna tidak memaksa Arjuna, “Selanjutnya terserah kamu sendiri, kamu mau mengikutinya, mengindahkannya — silakan. Mau menolaknya, pilihanmu juga.”

Kebebasan inilah yang menempatkan Bhagavad Gita pada posisi yang unik. Tidak ada sumpah-serapah, tidak ada sanksi api-neraka — Bhagavad Gita mengajak kita untuk menggunakan inteligensia kita masing-masing.

 

“Dengarkanlah sekali lagi kata-kata penuh makna tentang Kebenaran Terdalam nan Tertinggi ini; Sungguh karena Aku sangat menyayangimu, maka nasihat-Ku ini pun demi kebaikanmu sendiri.” Bhagavad Gita 18:64

 

Setelah menyarankan supaya Arjuna berpikir secara matang, melakukan perenungan mendalam —sekarang Krsna menasihati Arjuna,

 

“DEMI KEBAIKANMU SENDIRI” – Sejak awal, Arjuna bertanya tentang “apa itu kebenaran” — kebenaran tentang segala sesuatu. Dan Krsna pun memberikan pandangan-pandangan-Nya. Ternyata, kebenaran memang memiliki banyak sisi — jumlahnya tak terhitung. Jika kita ingin memahami setiap sisi kebenaran, maka lahir-mati-lahir berapa kali pun tidak cukup.

Sebab itu, dalam kesimpulannya ini, Krsna menjelaskan “apa yang baik” dalam pengertian apa yang tepat bagi Arjuna. Ini pun, sebagaimana dikatakan oleh Krsna, “karena Aku menyayangimu”. Ada hubungan khusus antara Krsna dan Arjuna — antara seorang Sadguru dan siswa yang telah menundukkan kepala-egonya. Tanpa hubungan itu sebagai landasan, Krsna tidak akan memberi kesimpulan-Nya. Ia akan membiarkan Arjuna menyimpulkan sendiri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bagaimanakah nasihat Krsna tentang Kebenaran Terdalam dan Tertinggi? Silakan simak Sloka Bhagavad Gita selanjutnya………

Catatan:

Hendaknya seseorang tidak bersikap kekanak-kanakan. Pengertiannya ialah, tidak cengengesan saat suka dan tidak cengeng saat duka. Segala macam derita mental/emosional dapat diatasi dengan kesadaran akan tidak kekalnya pengalaman suka maupun duka (meditasi dan sebagainya). Dikutip dari buku Dvipantara Dharma Sastra.

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Mengelola Kemarahan lewat Latihan Meditasi di Anand Ashram #Meditasi #Yoga

buku-meditasi-gadis-marah

Saat seseorang marah, ia mengaktifkan beberapa kelenjar dalam tubuhnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelimpahan adrenalin dan beberapa hormon stres yang lain, dengan efek-efek yang nyata pada fisik Anda. Wajah menjadi merah, tekanan darah semakin tinggi, nada suara kita menjadi tinggi, pernafasan kita menjadi cepat, detak jantung tidak teratur dan otot-otot kaki maupun tangan mulai tegang. Seluruh tubuh kita merasakan perubahan semacam ini. Apabila seseorang sering marah, keadaan itu akan berulang terus dan pada akhirnya dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan yang serius. Situasi seperti ini dapat menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit seperti tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung, maag, dan lain sebagainya. Karena itu, demi kebaikan Anda sendiri, hendaknya Anda mengendalikan emosi kemarahan ini.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kadang kita tidak menyukai suasana tertentu seperti yang kita harapkan, misalnya seseorang menyakiti kita baik sengaja maupun tanpa menyadari kata-katanya menyakiti kita. Kadang-kadang kita sedang tertekan oleh banyak masalah, ada seseorang yang perkataannya menyulut api kemarahan kita.

Marah sesungguhnya adalah ungkapan perasaan tidak senang yang tidak terkontrol oleh kita. Biasanya kemarahan terungkap tanpa dipikirkan kita terlebih dahulu. Tembak langsung. Yang lebih parah adalah karakter kita yang mudah tersinggung atau dikenal dengan istilah sumbu pendek.

 

Latihan Memperbaiki Pola Napas dan Emotion Culturing

Dengan napas panjang yang terlatih, pola napas kita akan tenang dan kita tidak menjadi “emosian”. Seseorang yang mudah marah akan nampak dari pernapasannya yang cepat, pendek dan sering kacau.

10 menit setiap pagi latihan napas seperti yang dilatih di Anand Ashram ternyata mengubah karakter kita menjadi tidak emosian.

Rajin latihan Emotion Culturing dari program Anand Ashram membuat kita sadar, tidak ada gunanya kita marah yang tak terkendali yang membuat kita menyesal kemudian. Kadang-kadang kita memang perlu marah tetapi dengan penuh kesadaran. Kita bisa belajar dari marahnya pembimbing rohani yang bijak kepada kita demi kebaikan diri kita agar tidak mengulangi kesalahan.

cover-buku-damai-ceria

Latihan Voice Culturing

Ada tiga cara untuk menangani kemarahan. Yang pertama adalah dengan cara mengekspresikannya. Para ahli ilmu berpendapat bahwa ini adalah cara yang terbaik. Dengan menyatakan atau mengekspresikan kemarahan, kita membagi beban pikiran kita dengan orang lain dan karena beban atau sebagian beban itu terangkat dari kita, kita lalu merasakan ketenteraman. Pendapat itu memang benar, namun keadaan semacam ini tidak langgeng. Kita tidak pernah bebas dari kegelisahan. Pada akhirnya, kemarahan menjadi kebiasaan dan Anda menjadi budak amarah. Anda menjadi budaknya dan amarah adalah atasan yang kejam. Saya pernah mendengar tentang seorang ibu yang membakar anaknya hanya karena marah. Cara kedua adalah dengan menahan atau menekan kemarahan. Ini pun tidak bagus, karena menekan kemarahan hanya memaksanya untuk menjadi bagian dari alam bawah sadar kita, dan dapat membahayakan kita. Cara ketiga (menangani kemarahan) dan cara yang benar adalah dengan memaaf kan. Maafkan dan bebaskan diri Anda dari kegelisahan! Setiap malam sebelum tidur, renungkan kembali sejenak kejadian-kejadian sepanjang hari yang telah Anda lalui. Apakah ada seseorang yang menipu Anda? Apakah ada yang menyinggung perasaan atau menghina Anda? Kalau ada, ucapkan namanya dan katakan, “Sdr. X, saya maafkan Anda.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Latihan Katarsis dalam Voice Culturing Program Anand Ashram sangat membantu dalam memuntahkan kemarahan dalam bentuk yang tidak merusak pergaulan sosial. Setelah kemarahan di dalam diri dipicu dan dikeluarkan pada waktu latihan, maka diri kita merasa lega. Dan masalah emosi sudah terselesaikan dengan sendirinya, sehingga kita dapat menyelesaikan permasalahan dengan bijak.

 

Program Latihan di Anand Krishna Joglosemar di Jogja

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

5 Berkah Alam Semesta bagi Kehidupan Manusia #Meditasi #Yoga

buku-life-workbook-meditasi-di-alam

Pada saat latihan meditasi untuk menenteramkan pikiran liar, kita membuat pengalihan energi dengan cara memperhatikan napas masuk dan napas yang keluar. Dengan sebagian energi pikiran yang terpecah pada memperhatikan napas, pikiran mulai tenang. Setelah beberapa lama pikiran kita beri tugas pula untuk memperhatikan kembung dan kempisnya perut.

Kemudian, setelah lebih tenang, saat menarik napas kita ucapkan dalam hati, “Aku mendapatkan berkah dari semesta” lalu saat membuang napas kita ucapkan, “Dan aku berbagi berkah dengan sesama dengan semua.” Dalam keadaan tenang muncul rasa bahagia yang datang dari dalam diri………... Sumber buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setelah mendapatkan berkah kita perlu berbagi berkah. Apa sajakah 5 berkah dari alam semesta? Leluhur kita menyebut “berkah” tersebut sebagai hutang berkah (rina) yang harus kita bayar.

Silakan simak penjelasan buku Life Workbook tentang Rina, hutang kita pada alam semesta:

Buku Life Workbook

cover-buku-life-workbook

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Interaksi atau hubungan dengan dunia tidak dapat dihindari. Para bijak jaman dulu mengaitkan interaksi atau hubungan tersebut dengan “utang” yang harus dibayar. Jika tidak, kita dikenakan bunga. Kita harus membayar lebih baik lagi.

Adalah 5 macam hutang atau Rina yang disebut :

Pertama: Deva Rina, yaitu utang terhadap Dewa. Yang dimaksud dengan Dewa adalah Kemuliaan, Kesadaran, Pencerahan, karena kata “dewa” sendiri berasal dari “divya”, yang berarti “yang mulai, yang terang, yang berasal dari cahaya”. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api bersifat membakar. Ia membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin sangat ringan dan dapat menyusup kemana-mana. Ia juga memberi kehidupan. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis. Kekosongan, kehampaan, kesendirian, space atau apa pun sebutannya, menciptakan peluang untuk diisi.

Belajar dari sifat-sifat alami itu adalah utang pertama yang harus dibayar. Belajarlah untuk membakar sampah pikiran , gejolak emosi dan sifat-sifat yang tidak menunjang evolusi batin kita. Belajarlah untuk menjaga kebersihan  kebersihan pikiran, perasaan dan sebagainya. Belajarlah untuk hidup sederhana, ringan dan tidak menjadi beban pada siapa pun jua. Belajarlah untuk membantu, untuk melayani.

Bumi dieksploitasi; isi perutnya dijarah, namun ia tetap mernberi. Kita menginjak-injaknya; ia tidak berkeluh-kesah.

Terakhir, jadilah seperti ruang. Ya, ruang kosong yang selalu akomodatif. Tidak hanya perabot yang baru dibeli, tetapi mebel lama pun diterimanya. Dan semua itu tidak mempengaruhi kekosongannya. Terimalah suka dan duka secara saksama.

Deva Rina juga berarti utang terhadap kemuliaan di dalam diri dan di luar diri. Buatlah sebuah diary pribadi; setiap sore lakukan dialog dengan diary itu, “Apakah aku melakukan sesuatu yang mulia sepanjang hari ini? Apakah aku membantu, melayani tanpa mengharapkan imbalan?”

Banyak hal saya lakukan semata untuk kenikmatan sesaat; itu pun bagi diri sendiri. Makan, minum, tidur, seks — semua itu hanya menyenangkan bagi diri sendiri. Sepanjang hari, saya hanya melayani diri sendiri… lebih tepat lagi, “badan” saya saja. Saya tidak tahu apakah itu juga pengalaman Anda. Marilah bertanya, “Adakah aku memperhatikan kebutuhan jiwaku?” Kebutuhan badan, kebutuhan jiwa, kebutuhan diri, kebutuhan tetangga, kebutuhan negara, kebutuhan dunia — semuanya — harus diperhatikan dan dilayani dengan baik. Itulah kemuliaan. Itulah utang terhadap kemuliaan yang harus dihayar.

 

Kedua: Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih cepat “utang terhadap keluarga”. Saya mengartikannya demikian, karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur, dan leluhur adalah keluarga.

Banyak orang meninggalkan keluarga dan menjadi petapa. Mereka mengaku tidak terikat lagi dengan keluarga, tetapi menciptakan keterikatan baru pada institusi yang mereka pimpin, pada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya sebagai “murid”.

Dengan meninggalkan rumah, kita tidak dapat memutuskan hubungan dengan dunia. Hubungan kita dengan dunia tidak pernah putus. Jika kita tidak menyelesaikan utang kita terhadap keluarga, kita akan dituntut untuk menyelesaikannya terhadap keluarga yang lebih besar — dunia ini.

Para mesias dan buddha juga meninggalkan rumah, tetapi lain mereka, Iain kita. Kita melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab, sementara mereka memikul tugas dan tanggung jawab yang lebih besar, lebih berat.

Kita melalaikan tugas dan tanggung jawab terhadap “satu keluarga”. Mereka mengambil-alih tugas dan tanggung jawab “keluarga besar umat manusia”.

Dalam salah satu tradisi di India, seorang petapa dilarang untuk “buka mulut” tentang apa yang diinginkannya, tetapi tidak ada Iarangan bagi lirikan, maka ia menggunakan kedua matanya untuk meminta apa yang diinginkannya. Ia akan melirik pada apa yang diinginkannya, dan sinyal itu sudah cukup bagi para muridnya. Mereka akan langsung menyediakan apa yang dia lirik itu. Repot sekali bila Anda harus menjamu seorang petapa seperti itu. Anda harus menyuguhinya dengan berbagai macam sajian, kemudian menunggu isyaratnya. Menunggu lirikan matanya, apa yang dimauinya.

Kembali pada tugas dan kewajiban terhadap keluarga, Pitra Rina: apa yang kita lakukan itu adalah tugas kita, kewajiban kita, utang kita. Kita sedang melunasi sesuatu. Janganlah mengharapkan apa-apa dari pekerjaan kita, maka kita akan terbebaskan dari rasa kecewa. Kita tak akan pernah kecewa.

Jadilah seorang pelayan. Layanilah keluarga Anda sebagaimana orangtua Anda pernah melayani Anda. Semangat pelayanan inilah yang semestinya berada di balik pelunasan Pitra Rina.

Janganlah mengharapkan sesuatu dari anak-anak Anda. Di usia senja Anda, jika mereka masih mau melayani Anda, bersyukurlah untuk itu, tetapi janganlah sekali-kali mengharapkan sesuatu dari mereka.

 

Ketiga: Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri.

Cara kita melunasi setiap utang haruslah bijak. Cara kita menangani setiap persoalan harus bijak. Cara kita melayani hidup harus bijak. Dan nilai kebijakan tertinggi adalah : “Aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun mesiti bahagia. Berarti, aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.”

Tentu saja, kita tidak dapat membuat senang atau membahagiakan setiap orang. Mau berbuat apa saja, pasti ada yang senang, ada yang tidak, tetapi setidaknya kita tidak mencelakakan orang Iain. Inilah sikap bijak.

Komitmen kita terhadap non-violence atau non-injury, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti dengan sengaja adalah kebijaksanaan.

Pelunasan utang yang satu ini menuntut kewaspadaan kita setiap saat. Kita juga harus sadar bahwa no man is an island. Kita tidak bisa hidup seperti pulau terpisah. Interaksi antar manusia tidak dapat dihindari, maka kita harus mengernbangkan sikap gotong-royong, bantu-membantu, bahu-membahu.

 

Keempat: Nara Rina, utang terhadap sesama manusia. Kita tidak dapat berdiri sendiri. Apa yang saya lakukan berdampak terhadap Anda, dan sebaliknya. Semacam ripple effect, efek riak, satu kerikil yang saya lemparkan ke sungai berdampak hingga tepi sungai itu, Walau kita tidak melihatnya.

Para resi jaman dahulu melangkah lebih jauh lagi, “Pencerahan yang diperoleh seorang manusia, kesadaran seorang manusia, juga berdampak terhadap seluruh umat manusia di jamannya.”

Seorang manusia yang tersadarkan dapat menyelamatkan seluruh umat manusia! Siddhartha seorang diri dapat menjadi cahaya bagi seluruh dunia. Isa seorang diri dapat mengubah sejarah peradaban manusia. Muhammad seorang diri mengantar dunia ke era baru.

Karena itu, melayani sesama manusia menjadi suatu keharusan. Adalah tugas, kewajiban serta tanggungjawab kita untuk memperhatikan sesama manusia. Jika Tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita.

Sebab itu, melayani sesama manusia tidak perlu dikait-kaitkan dengan agama dan kepercayaan. Melayani sesama manusia adalah kewajiban; dan mutlak sifatnya. Penggunaan istilah “membantu” pun sesungguhnya tidak tepat. Saya tidak dapat membantu; memangnya siapakah diriku? Saya hanya dapat melayani. Dengan melayani orang lain, sesungguhnya kita melayani diri. Nah, di sini boleh menggunakan istilah “membantu”… kita membantu diri sendiri.

 

Kelima: Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Sekadar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang.  Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau puhon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelstarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang yang tersedia, juga tanah yang tersebuda secara bijak.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Tat Tvam Asi: Masih Dualitas tapi Sudah Berlandaskan Kesadaran Sejati #YogaSutraPatanjali

 

cover-buku-yoga-sastra

Kita hidup, selama keberadaan ini ada — Dualitas tetap ada. Prinsip Dualitas adalah Prinsip yang Mengatur seluruh keberadaan. Tanpa dualitas Yang Mengalami dan Yang Dialami — tidak ada keberadaan. Keberadaan memberi “kesan keberadaan” karena persepsi kita. Jadi, dualitas tetap ada.

Namun, para bijak, para insan yang sadar “tidak terpengaruh” olehnya. Mereka senantiasa berada dalam keadaan Samadhi — keseimbangan sempurna. Ini adalah ideal Yoga untuk dicapai, untuk diupayakan. Inilah apa yang menjadi tujuan Yoga. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Samprajnatah atau Kesadaran (yang masih belum sepenuhnya melampaui dualitas) adalah yang berlandaskan pada Vitarka utau Pertimbangan, Penilaian, dan Penyimpulan yang Tepat; Vicara atau Perenungan yang Tepat; Ananda atau Kebahagiaan Sejati yang bersumber dari diri sendiri, tidak tergantung pada sesuatu apa pun di luar diri; Asmita atau Kesadaran Aku yang Sejati (sebagai Jivatma atau Jiwa Individu atau Percikan Sinar Purusa atau Gugusan Jiwa, Hyang adalah bagian tidak terpisahkan dari Paramatma atau Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.17

Untuk itu, dualitas yang, sebut saja menjadi keharusan, mesti berlandaskan pada faktor-faktor di atas—setidaknya salah satu dari keempat faktor tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Dualitas berlandaskan ananda dan asmita…….

 

Buku Yoga Sutra Patanjali

cover-buku-yoga-patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

KETIGA, ANANDA ATAU KEBAHAGIAAN SEJATI. Kembali pada analogi “kerja sama” dengan seseorang—apakah kerja sama itu membahagiakan semata karena kebersamaan yang terjadi, atau karena hal lain, kepentingan lain, tujuan lain.

Misalnya dalam perkawinan, apakah kita saling membahagiakan tanpa ada ernbel-embel seks, mahar, dan sebagainya?

Hola yang sudah berusia di atas 60 tahun kawin dengan seorang gadis berusia 26 tahun. Begini ceritanya.

Hola menyaksikan gadis itu bergoyang dalam salah satu acara televisi, dan langsung jatuh hati.

Tapi, ia tahu diri, “Usiaku kan sudah 60-an. Dia masih 26.”

Bola, sang sahabat setia memanasi dia, “Usia bukan faktor penentu, Sohib. Yang penting cinta, suka sama suka. Kalau dia mau, why not?”

“Tapi, bagaimana pula dengan istri dan anak-anakku, yang usianya lebih tua daripada gadis itu?”

“Oh, Hola, Hola, mereka kan di Medan. Kau di Jakarta, tentu kau bisa atur. Berterus terang saja kepada gadis itu, aku yakin dia tetap mau.” Bola tetap menyemangati Hola, bahkan menawarkan diri menjadi mak comblang.

 

PENDEK CERITA, akhirnya Hola kawin juga dengan gadis berusia 26 tahun itu, namanya seseksi senyumannya, Stella!

“Jeng Stella, kau benar mencintai aku? Jangan sampai memaksakan diri lho. Kalau Jeng tidak setuju, tidak apa.” Hola tetap memastikan.

“Mas, aku sudah terlanjur jatuh hati, sudah cinta mati.”

Stella terdengar sangat yakin dan meyakinkan. Maka, perkawinan pun diadakan di ruang khusus salah satu hotel mewah, dihadiri puluhan relasi Hola dan teman-teman seprofesi Stella.

Celakanya, baru menikah tiga bulan, Hola yang waktu itu memiliki jabatan cukup tinggi, tertangkap basah menerima suap. Ia langsung ditahan.

Uang miliaran pun ludes dalam perkara suap-menyuap para pejabat korup yang berjanji “bisa bantu”—padahal semua janji kosong saja.

lstri di Medan yang sudah mendengar kisah asmara Hola dengan Stella, merasa perlu menyelamatkan diri dan anak-anaknya, dan minta cerai!

Singkat cerita, Hola dibui.

Rekening bank nol, tunggakan kartu kredit pun mencapai ratusan juta. Yang lebih sial lagi, lebih menyedihkan lagi, Stella tidak lagi datang menjenguk.

 

TERPAKSA, HOLA MINTA BANTUAN BOLA, yang pernah memakcomblanginya. “Kawanku, tinggal engkau saja yang kumiliki di dunia yang kejam ini. Tolong, sekali saja, bawalah Stella ke sini. Aku ingin mendengar dari dia langsung, apakah dia masih mencintai aku?”

Bola berhasil membujuk Stella. Datanglah Stella ke Bui Cipinang untuk menjenguk Hola.

“Stella, Stella-ku sayang, Stella-ku manis…katakan, kenapa kau pun meninggalkanku? Bukankah kau cinta aku?”

“Ya itu Mas, karena cinta terpaksa aku meninggalkan Mas,” jawab Stella dingin.

“Cinta, Jeng? Cinta macam apa pula ini?”

“Ya cinta, Mas. Sungguh mati cinta sama duitmu, jabatanmu, rumahmu yang seperti istana itu, mobil-mobilmu yang berjejer. Aku betul-betul cinta sama semua itu. Karena itu Mas, demi cintaku itu, aku mesti meninggalkan Mas.”

Stella masih berlanjut dengan kisah cintanya, sementara Hola kena serangan jantung, dan mampus! Kisah tamat.

 

SUKA SAMA SUKA berlanclaskan fulus bukanlah suka-ananda, bukanlah suka-kesadaran. Suka sama suka seperti itu berlandaskan materi belaka. Jadi, tidak masuk dalam kategori kesadaran dualitas berlandaskan ananda, apalagi samadhi!

Kesan ananda yang diperoleh Hola yang sudah tua renta, yang berusia 60-an—by the way, Hola hampir seusia dengan saya, beda tipis—adalah ananda tipuan, kebahagiaan palsu.

 

KEEMPAT, ASMITA atau Dualitas berlandaskan Kesadaran Sejati, kesadaran akan kesejatian diri.

Berarti Tat Tvam Asi—Dualitas berlandaskan kesadaran bila Aku adalah Kamu, dan Kamu adalah Aku. Dualitas berdasarkan kesadaran bila sesungguhnya Jiwa yang menerangimu dan yang menerangiku bersumber dari Hyang Tunggal, Tat atau Hyang Satu Itu! “Itu”-lah hakikat diriku, dan “Itu” pula hakikat dirimu.

Dalam kesadaran Tat—Itu—kita semua satu dan sama adanya.  Jika aku menyakitimu, sesungguhnya aku menyakiti diriku sendiri.

Kerja sama yang dijalin atas kesadaran seperti ini—walau masih dualitas—bisa disebut sustainable, bisa bertahan. Tidak bisa disebut “langgeng nan abadi” karena semua relasi juga adalah berlandaskan fisik, materi, kebendaan, dan terjadi di alam benda. Namun setidaknya, relasi seperti itu dapat menunjang evolusi jiwa. Misalnya, relasi sepertii itu dengan seorang Pemandu Rohani dan mereka yang sama-sama sedang melakoni Yoga sangat membantu. Jadi, janganlah mengejar cinta ala Hola-Stella.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Sudahkah kita latihan meditasi dengan teratur?

Artikel terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2017/02/05/4-macam-dualitas-yang-menunjang-kesadaran-yogasutrapatanjali/

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner