Sanyas, Fokus Melayani Tuhan Bukanlah Pilihan Hidup Semua Orang

 

buku-sanyas-dharma-sanyas-bukan-utk-semua-orang

Seks adalah Insting Dasar Kedua setelah Pertahanan Diri. Sebab itu, sekali-kali jika merasa tergoda, tidak perlu menyalahkan diri. Tidak perlu menghakimi atau menghukum diri. Sifat dari godaan itu mesti dipahami dan tidak ditindaklanjuti menjadi suatu kegiatan, itu saja.

Intinya: Sadarilah godaan itu sebagai godaan, dan biarkanlah lewat dengan sendirinya. Jangan diteruskan menjadi suatu kegiatan. Saat merasa tergoda, Anda mesti bersikap tenang, pindahkan fokus Anda pada Tuhan, pada tujuan Anda menjadi seorang sanyasi. Maka, tidak lama kemudian, energi yang menggoda itu, energi yang hendak menyeret kesadaran Anda ke bawah itu, akan berpindah haluan dan mengalir ke atas lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan buku Sanyas Dharma bahwa sanyas bukanlah pilihan hidup untuk semua orang.

cover-buku-sanyas-dharma

Buku Sanyas Dharma

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Beranakcuculah dan Bertambah Banyak!

Insting seks dibutuhkan untuk hal itu. Sebab itu pula insting seks adalah sesuatu yang alami. Maka tepatlah jika Kristus mengatakan: “Orang yang sanggup menerima pengajaran ini, biarlah ia menerimanya.” Sanyas memang bukan untuk semua orang. Apa jadinya dunia ini jika setiap orang menjadi sanyasi.

Jika kita mempelajari sejarah gerakan-gerakan sanyas, maka keberhasilan Siddharta Gautama, Sang Buddha, mesti diakui. Ia berhasil mengajak ratusan ribu orang untuk menjadi bikshu dan bikshuni, para sanyasi pria dan wanita yang secara sukarela meninggalkan segala kenyamanan duniawi untuk hidup sebagai fakir miskin.

Hingga beberapa abad setelah Buddha wafat, jumlah bikshu dan bikshuni di wilayah peradaban Hindia bertambah terus. Akibatnya, pusat peradabannya saat ini, yakni anak benua India, the India Subcontinent, justru melemah. Tatanan sosial mengalami ketidakseimbangan yang tidak sehat, tidak wajar, tidak lazim. Dan selama lebih dari seribu tahun India dikuasai oleh kekuatan-kekuatan asing.

 

Tidak, Sanyas bukanlah Pilihan Hidup untuk Semua Orang

Sanyas adalah pilihan hidup buat mereka yang betul-betul sudah memutuskan untuk melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga. Untuk melayani Tuhan yang bersemayam dalam tiap diri setiap makhluk.

Buat mayoritas, jalan hidup “beranak cucu dan bertambah” itulah yang tepat. Itulah pola hidup, jalan hidup, buat mayoritas. Sesungguhnya mayoritas tidak bisa tidak menjalani hidup demikian. Alam mendorong mereka untuk beranakcucu dan bertambah.

Hanya segelintir sanyasi yang kemudian mengartikan “beranakcucu dan bertambah” secara spiritual. Seorang sanyasi tidak perlu beranakcucu lagi. Setiap anak di dunia adalah anaknya. Setiap cucu adalah cucunya.dan setiap keluarga yang mengalami penambahan jumlah anggotanya, adalah keluarganya. Semesta menjadi rumahnya. Kemanapun ia bepergian, sesungguhnya ia hanyalah mengelilingi rumahnya sendiri.

Berikutnya adalah nasihat Swami Kriyananda bagi mereka yang sudah atau akan berkeluarga:

 

Bertahanlah dengan Seorang Pasangan

Dengan cara itu Anda dapat mempraktekkan pengendalian diri. Anda dapat mengupayakannya bersama-sama dengan pasangan Anda. Tentunya jika pasangan Anda memiliki pandangan serupa terhadap hidup dan kehidupan, jika pasangan Anda juga  ingin menempuh perjalanan spiritual, jika ia pun berkehendak yang sama kuatnya untuk meniti jalan ke dalam diri. Kemudian bersama-sama pula Anda dapat mengurangi frekuensi hubungan seks, dan lebih banyak menggunakan energy Anda untuk hal-hal yang bernilai lebih tinggi.

Inilah yang disebut Platonic Love. Sekarang platonic love diartikan sebagai hubungan cinta yang tidak melibatkan fisik. Tidak demikian. Plato tidak mengatakan demikian. Plato tidak menyarankan agar nafsu birahi ditekan atau dikekang. Ia menyarankan pengendalian diri secara berangsur, secara perlahan, tetapi pasti, hingga suatu ketika hubungan seks tidak memiliki arti lagi. Anda tidak menginginkannya lagi.

Jika seorang guru seperti Osho atau Kriyananda memperbolehkan para neo-sanyasi di ashram mereka untuk berkeluarga, maka alasannya adalah seperti yang telah dijelaskan di atas.

Sesungguhnya pemudaran nafsu birahi itu pun sudah diatur oleh alam. Tentu jika Anda tidak berganti-ganti pasangan. Jika Anda berganti-ganti pasangan, dan setiap saat memberi pemicu baru, api nafsu Anda akan berkobar terus.

 

Perhatikan Pasangan-Pasangan yang sudah Berkeluarga Cukup Lama…..

Dengan sendirinya, secara alami, keinginan seksual mereka berkurang. Energi yang tadinya terboroskan untuk berhubungan seks kapan saja dan di mana saja, mulai terpakai untuk hal-hal lain. Seorang istri yang sudah menjadi ibu menggunakannya untuk membesarkan putra-putrinya, untuk menata rumahnya, dan sebagainya, dan seterusnya. Dan seorang suami yang sudah menjadi ayah mulai memikirkan kariernya, pekerjaannya, tabungannya, dan seterusnya.

Demikianlah, energi yang terpakai untuk berhubungan seks saja, mulai terpakai untuk hal-hal lain, kendati semuanya itu masih dalam rangka meningkatkan ego, “Buat anakku, buat keluargaku, buat masa depanku, buat masa depan mereka.”

Seorang sanyasi sajalah yang tidak berpikir demikian. Ia tidak memikirkan keluarga kecil, ia memikirkan keluarga dunia.

 

Bagi para perumah tangga setelah usia 60 berubahlah……..

Masa Vanaprastha selambat-lambatnya pada usia 60 tahun, para orangtua yang telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka, mesti meninggalkan rumah untuk bermukim di vana, wana, atau hutan untuk selanjutnya ‘sepenuhnya’ mendalami laku spiritual. Ya, dalam masa Vanaprastha, laku spiritual menjadi full time job. Tidak lagi mengurusi dunia dan kebendaan, tetapi mengurusi diri, mengurusi jiwa, dan melayani sesama manusia, sesama makhluk secara purnawaktu.

“Para Vanaprasthi atau pelaku Vanaprastha Ashram boleh juga bergabung dengan salah satu ashram dalam arti padepokan yang di masa lalu berada di tengah hutan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s