Mutiara #Bhagavatam: Menghadapi Orang yang Sengaja Menyakiti Hati Kita

Queen Suruci told Dhruva Maharaja: "My dear child, you do not deserve to sit on the throne or on the lap of the King. Surely you are also the son of the King, but because you did not take your birth from my womb, you are not qualified to sit on your father's lap."When Dhruva heard these harsh words from his stepmother he felt great anger and began to breath heavily. He left the palace and went to his mother. When he reached his mother, Queen Suniti, he was crying and his lips were trembling in anger.-Quoted portion from Srimad Bhagavatam 4.8.11

Kemampuan untuk menerima ketidakadilan.

Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal panting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti…….. aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan………. mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri.

Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri.  Aku menerima segalanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.”

Menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang teriadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

 

Bisakah kita meniru Dhruva?

Pada saat menyusun tulisan Dhruva: Kegigihan Anak Menuju Gusti Pangeran, Penghapus Segala Kesedihan #SrimadBhagavatam yang segera kami upload, saya dan istri sempat berbagi insight dari apa yang kami berdua baca dan alami di kehidupan nyata. Berikut ini adalah sebagian dari insight yang kami perbincangkan.

Istilah “menyakiti kita” mengungkapkan bahwa ego kita tersakiti, kita masih berada dalam kesadaran ego. Dan, tentu saja dia yang sengaja menyakiti kita pun masih belum lepas dari ego. Yang namanya ego tentu saja bisa ada yang menyanjung dan ada yang menyakiti. Dan, mungkin saja ini terjadi dalam sebuah persaudaraan spiritual dimana yang menyakiti dan yang disakiti masih berkutat dengan ego, sebelum kesadaran mereka meningkat.

Dhruva seorang anak kecil usia 5 tahun melihat adik tirinya dipangku ayahandanya, dia pun ingin dipangku di paha ayah sebelahnya. Sebuah keinginan yang wajar bagi seorang anak kecil. Akan tetapi sang ibu tiri melarangnya dan mengatakan bahwa Dhruva tidak beruntung karena tidak dilahirkan oleh ibu tirinya yang disayangi ayahandanya. Dhruva diminta berdoa agar di kelahiran berikutnya bisa lahir lewat ibu tirinya yang cantik jelita sehingga bisa dipangku sang ayahanda.

Dhruva sakit hati dan curhat kepada sang ibu yang memberi nasehat bahwa ibu tirinya sedang menanam benih ketidakbaikan dan dia akan menuai buah tindakannya pada suatu saat nanti. Sang ibu mengatakan hanya ada Gusti Pangeran, Narayana yang bisa menhapus segala penderitaan. Penderitaan apa pun juga.

Dhruva melakukan tapa keras dan dibimbing Rishi Narada sehingga bisa bertemu Narayana, dan memperoleh berkah kehidupan yang tiada tara. Dhruva menjadi sadar tidak ada gunanya membalas sakit hatinya kepada ibu tirinya.

Justru ucapan ibu tirinya yang menyakitkan menjadi pemicu Dhruva untuk memperoleh berkah yang luar biasa.

Bisakah kita menjadi Dhruva? Yang mampu menerima ketidakadilan? Ya, itulah salah satu topik pembicaraan saya dan istri.

cover-buku-bodhidharma

Tidak ada sesuatu yang terjadi di luar pengawasan Gusti Pangeran

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Saya dan istri biasa tukar pikiran setelah memperoleh insight dari membaca atau menyadari sesuatu. Kalau sudah bicara tentang orang yang menyakiti kita berdua, kita tertawa. Ya itulah masa lalu kita, suka menyakiti dan sekarang menerima hal yang sama……. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri.  Aku menerima segalanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan. Kutipan dari buku Bodhidharma.

Kita mesti belajar dari Dhruva.

buku-bhagavad-gita-membaca-gita

Perseteruan dua kelompok sejak dahulu kala

Dalam literatur Purana — Srimad Bhagavatam misalnya — kita membaca kisah tentang seorang anak kecil, seorang pangeran bernama Dhruva. Melihat ayahnya — sang raja ; lebih menyayangi seorang saudara dari ibu yang beda, Dhruva sedih. Tapi, kesedihan itu tidak dijadikannya bibit untuk memusuhi saudaranya. Ia tidak meneruskan kepedihan hatinya ke generasi berikut. Ia tidak membiarkan benih kesedihan itu bertunas menjadi kebencian.

 

IA MENCARI ALASAN KESEDIHANNYA DI DALAM DIRI – Ia melakukan perenungan, dan ia menemukan jawabannya — bahwa kesedihannya disebabkan oleh pikiran. Pikirannya sendiri. Barangkali sang ayah menyayangi semua anaknya. Barangkali ia tidak pilih kasih. Barangkali kesedihan kita disebabkan oleh persepsi kita sendiri, maka Dhruva tercerahkan!

Tanpa kesadaran, tanpa pencerahan, kisah ini dapat berubah menjadi asal-usul dari perseteruan antara dua kabilah, dua suku, dua bangsa besar — atau bahkan beberapa bangsa besar. Jika ada yang menarik garis historis ke belakang hingga Dhruva, yang dipersepsikan sebagai pihak yang dizalimi; dan ada yang menganggap dirinya sebagai keturunan saudara seayah, lain ibu, yang merasa “Kitalah yang terpilih, bukan keturunan Dhruva!” — maka teljadilah perseteruan yang tak kunjung berakhir. Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 9:16 buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seandainya Dhruva tidak tercerahkan, mungkin sampai kini masih ada 2 kelompok, 2 bangsa: Kabilah Anak Keturunan Dhruva vs Kabilah Anak Keturunan Uttama, saudara tirinya yang saling bermusuhan selama berabad-abad.

Krsna mengajak kita untuk mempersembahkan seluruh pengalaman-pengalaman seperti ini ke dalam api suci kesadaran diri, pengetahuan sejati. Supaya dapat diambil hikmahnya saja.

Catatan:

Meditasi, Perenungan Batin, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8

Sudahkah kita melakukan tindakan-tindakan tersebut?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s