Memanfaatkan Konsistensi dan Inkonsistensi Dalam Diri #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-konsisten-inkonsisten

 

“Anda selalu bicara tentang konsistensi. Anda anggap manusia yang konsisten adalah manusia yang berprinsip, manusia teladan yang dapat dicontohi. Renungkan sejenak, di mana dalam hidup ini, Anda bisa menemukan konsistensi? Hidup tidak pernah konsisten.

“Hidup bagaikan sungai, ia mengalir terus dan alirannya tidak pernah konsisten. Saat sungai menjadi konsisten, ia tidak merupakan sungai lagi, ia menjadi kolam, menjadi telaga. Bagaimana Anda dapat mengharapkan konsistensi dari alirannya? Konsistensi berlawanan dengan sifat air, sifat sungai – bahkan dengan sifat alam sendiri.

“Begitu pula dengan manusia, ia tidak pernah konsisten. Manusia yang konsisten lebih mirip tumbuh-tumbuhan, pepohonan. Dia bukan manusia lagi. Apabila Anda menemukan seorang manusia konsisten, Anda dapat meramalkan jalur hidup dia dengan gampang sekali. Dia bukan manusia lagi, dia mirip teka-teki matematika yang dapat dipecahkan, asal Anda tahu rumusnya. Dia lebih mirip robot. Anda dapat mengendalikannya. Itulah sebabnya Anda mengharapkan konsistensi dari setiap orang.

“Anda tahu persis, manusia yang konsisten dengan mudah sekali dapat diperbudak. Dalam diri seseorang seperti itu sudah tidak ada jiwa lagi, ia telah menjadi mesin. Kehidupannya tergantung pada belas kasihan Anda. (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ya, tapi kan bumi mengelilingi matahari sehingga matahari nampak konsisten bergerak dari timur ke barat dan keesokan harinya muncul lagi?

Konsistensi dan Inkonsistensi — dua-duanya mesti dijadikan alat untuk membantu kita. Bagaimana caranya? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 10:3 berikut:

 

Cover Buku Bhagavad Gita

buku-bhagavad-gita-membaca-gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Di antara kerumunan manusia, Ia yang memahami hakikat-Ku sebagai Hyang Tak Terlahirkan, Tak Berawal, dan Penguasa Tunggal Alam Semesta — adalah seseorang yang telah melampaui kebingungannya (yang tercipta aleh dualitas), sehingga ia pun terbebaskan dari segala dosa-kekhilafan.” Bhagavad Gita 10:3

Krsna memang membingungkan, sebab itu seruannya: ”Jangan Bingung!” Baru saja di ayat sebelumnya Ia mengatakan bila diri-Nya bisa mewujud. Sekarang, Ia mengatakan diri-Nya Tak Pernah Lahir dan Tak Berawal.

 

BAGI MEREKA YANG MASIH TERJEBAK dengan konsistensi di permukaan, Krsna menjadi sosok yang sangat tidak konsisten. Mereka tidak sadar bila konsistensi adalah kematian. Hidup selalu inkonsisten. Inkonsistensi itulah yang membuat hidup menjadi hidup. Konsistensi berarti tidak ada kemajuan, tidak ada pertumbuhan, tidak ada perkembangan. Kita lahir sebagai bayi, dan mati sebagai bayi. Itu baru konsistensi. Konsistensi adalah anti-evolusi. Jika segala sesuatu di dalam alam ini konsisten, maka tidak ada lagi harapan bagi seorang anak petani untuk menjadi Presiden. Tidak ada pula penyembuhan. Sekali sakit ya, sakit terus……..

Sejarah, budaya, peradaban — semuanya adalah produk inkonsistensi aliran hidup — kehidupan. Teori Quantum Mechanism menjelaskan hal ini dengan baik. Di balik segala orderliness — keteraturan yang terlihat, sesungguhnya partikel-partikel atom sedang bergetar terus. Dan, getarannya tidak teratur, tidak konsisten pula — sehingga sesekali bisa terjadi lompatan-lompatan dahsyat yang disebut Quantum Leap. Sesekali, dari anak tangga penama kita bisa lompat langsung

ke anak tangga ketujuh. Tidak perlu melewati anak tangga kedua, ketiga, dan seterusnya.

 

INILAH INKONSISTENSI ALAM – Ketika Krsna mengidentifikasikan diri-Nya dengan semesta, maka Ia pun tidak bisa tidak mengidentifikasikan-Nya dengan dua fenomena yang tampak beda — dengan konsistensi di permukaan, dan inkonsistensi di baliknya, di bawahnya, di dalamnya.

Fenomena alam di permukaan sangat konsisten. Matahari, Bulan, Bumi, dan bintang-bintang — semua berada di orbit masing-masing, konsisten. Tidak terjadi tabrakan — jarang-jarang batangkali sekali dalam puluhan miliar tahun manusia. Akan tetapi, partikel-partikel atom yang menjadi building blocks segala-galanya tidak konsisten, sedang melompat-lompat.

Melihat Krsna Hyang Berwujud adalah melihat wujud Semesta Hyang Konsisten sekaligus melihat pula Berkah dan Kemuliaan-Nya Hyang Tidak Konsisten.

 

YA, KETIDAKKONSISTENAN KEMULIAAN itulah yang menjadi berkah bagi kita semua. Untuk memahami hal ini, kita mengambil Hukum Karma sebagai contoh. Konsistensi berarti, tiada harapan bagi siapa pun juga untuk keluar dari Lingkaran Kelahiran-Kematian. Berarti, kita berputar terus dalam Lingkaran tersebut. Inkonsistensi berarti berkah, berarti adanya kemungkinan moksa, nirvana, liberation, kebebasan mutlak dari lingkaran tersebut.

Melampaui dualitas yang membingungkan berarti kita memahami baik konsistensi maupun inkonsistensi hidup ini. Konsistensi dan Inkonsistensi — dua-duanya mesti dijadikan alat untuk membantu kita. Berubahlah, jadilah lebih baik dengan menggunakan Alat Inkonsistensi. Kemudian, mempertahankan segala kebaikan yang telah dicapai dengan menggunakan Alat Konsistensi. Kita mmesti pintar-pintar menggunakan kedua alat tersebut.

Seperti seorang pengusaha yang pintar. Sebagian dari hasil keuntungannya ia tabung —itulah konsistensi..Sebagian lagi ia jadikan modal untuk berbisnis — inkonsistensia Jangan menggunakan seluruh tabungan — jika bisnis merugi — semuanya ludes. Jagalah keseimbangan!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Catatan:

Pikiran dan rasa kita tidak pernah konsisten. Dua-duanya selalu mengalami pasang surut, naik turun. Oleh karena itu, pengaruhnya terhadap kita pun bisa berkurang dan bertambah. And, the good news is : kita dapat berupaya untuk mengurangi pengaruhnya (lewat pengamatan terhadap keinginan). Dari buku Bodhidharma. Sudahkah kita latihan  meditasi secara konsisten untuk mengamati pikiran kita yang inkonsisten?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s