Mutiara Bhagavatam: Meneliti Keangkuhan Diri

buku-bhagavatam-daksha-yg-angkuh

Berperanglah Melawan Nafsu. Melawan keangkuhan sendiri. Marilah menjadi contoh bagi masyarakat sekitar kita. Apabila kita sadar, sudah melek, tapi tetap tidak berperang melawan kelemahan-kelemahan kita, maka apa gunanya kesadaran kita? Mereka yang belum sadar dapat dimaafkan, tetapi apabila kita yang sadar mengabaikan kewajiban kita, maka kita tidak dapat dimaafkan. Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 2:34 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Banyak sekali kisah-kisah dalam Srimad Bhagavatam sebagai pemicu peningkatan kesadaran. Saat menyusun kisah-kisah, kita lengkapi dengan mutiara Quotation dari Buku-Buku Bapak Anand Krishna agar nuansa Bhakti merebak, memenuhi kisah suci tersebut. Mulai terasa kesadaran dalam diri muncul, ternyata kami masih jauh dari tujuan spiritual. Dan sedikit demi sedikit kami mulai mengubahnya, semoga Bunda ilahi memberkati.

Berikut kami mulai menulis pengalaman pribadi saat menyusun kisah-kisah tersebut:

 

Dalam suatu kesempatan seorang teman bertanya kepada Bapak Anand Krshna, bagaimana caranya agar dia terhindar dari keangkuhan, misalnya karena sudah merasa melakukan diet vegetarian dan menjadi angkuh.

Diet vegetarian memang penting, terkait dengan sifat kasih dalam diri. Bapak Anand Krishna memberi contoh misalnya dalam seminar tentang para pencinta binatang. Dilakukan di hotel berbintang di daerah pariwisata. Akan tetapi dalam menu makan seminar tersebut dihidangkan daging, ayam dan sebagainya.

Mereka memang betul-betul pencinta binatang, akan tetapi mereka tidak peduli dengan binatang yang disembelih dan dihidangkan di meja makannya. Berarti mereka pencinta binatang tertentu dan tidak peduli binatang yang lainnya. Bila demikian wajar saja mereka bisa mencintai orang yang dikasihinya tetapi tidak peduli dengan selain yang dikasihinya. Kalau sudah demikian, bagaimana mereka masih bisa merasa mengasihi sesama?

Kedua kali adalah penting sekali kita waspada agar kita tidak angkuh. Kebetulan kami sedang memperbaiki tulisan tentang kisah Daksha yang angkuh pada kisah-kisah Srimad Bhagavatam. Dan……tiba-tiba datang pikiran……. ya kami masih angkuh. Kami jadi malu pernah berbicara dengan Bapak Anand Krishna dengan nuansa keangkuhan yang pasti terasa bagi beliau……Dan sikap angkuh jauh dari spiritual. Angkuh adalah salah satu bentuk ego, dihasilkan oleh mind……… mind pun masih merajai diri kami.

Kami diingatkan bahwa pada waktu mengutip, agar pembaca tidak hanya memahami, akan tetapi mempraktekkan pemahamannya dalam kehidupan keseharian. Kalau kita sudah merasakan peningkatan kesadaran karena latihan meditasi, maka kita perlu menyeru para pembaca mulai melakukan latihan meditasi. Bapak Anand Krishna memberi contoh bahwa di setiap bukunya hampir selalu ada petunjuk tentang latihan meditasi.

Kami menulis di bawah kisah Daksha yang angkuh catatan kecil:

“Mari kita merenungkan, adakah keangkuhan dalam diri kita? Keelokan wajah kita? Kekayaan, kedudukan, kecerdasan, kesucian? Banyak sekali keangkuhan dalam diri….. Beruntunglah Daksha karena keangkuhannya dipenggal Mahadeva. Kapan keangkuhan kita bisa dipenggal? Atau kapan kita memenggal keangkuhan diri sendiri?

“Meditasi akan membantu kita mengenali keangkuhan diri. Sudahkah kita latihan meditasi dengan rutin?”

 

Tiba-tiba kami sadar akan keangkuhan diri….. banyak keangkuhan dalam diri. Kelebihan dalam bidang tertentu membuat kami terasa angkuh. Padahal dalam buku Yoga Sutra Patanjali disebutkan bahkan memiliki siddhi (kekuatan alam) pun kalau kesadaran kita masih keluar bisa berbahaya. Kalau kesadaran terfokus pada penitian ke dalam diri baru siddhi bermanfaat. Punya kekuatan alami pun bisa membuat angkuh, sedangkan kami mempunyai kelebihan sedikit sudah menjadi angkuh.

Ya, nyata-nyata ada keangkuhan dalam diri…… sedih dan frustasi…… malu terhadap Bapak Anand Krishna….. mungkin kita banyak membaca mantra-mantra tertentu sehingga urusan kita banyak dibantu alam semesta. Akan tetapi kalau keberuntungan tersebut membuat kita angkuh, kita jauh dari spiritual. Mendapatkan pertolongan alam kok hanya untuk meningkatkan ego…….

Sedih……..

Kami ingat kutipan Masnawi yang akan kami upload tentang “Usir Kemunafikan, Arogansi baru Dualitas? Kisah Tukang Kebun #Masnawi”

Yang harus diberantas pertama-tama adalah “kemunafikan”. Jujur dulu, be yourself. Jangan meniru orang. Jadilah diri sendiri……. Jelas masih ada kemunafikan dalam diri…..

Setelah berhasil mengusir “darvish palsu kemunafikan” dari dalam diri, jangan terlena. jangan duduk diam. Langkah berikutnya adalah mengusir  “arogansi”, Bung Kesombongan, Saudara Keangkuhan.

Terakhir, baru mengatasi dualitas……

Tetapi sebuah tulisan tidak boleh membuat para pembaca semakin tidak percaya diri, karena penulisnya mengalami hal demikian. Sebuah tulisan harus uplifting. Itulah yang kita lihat pada buku-buku Bapak Anand Krishna. Kisah-kisah yang disusun Bhagavan Vyaasa juga selalu membuat uplifting, memberi semangat untuk meningkatkan kesadaran.

Berikut nasihat dalam Bhagavad Gita yang perlu kita lakoni:

“Jadikan Sri Krsna – Sang Sais Agung – sebagai sais Kereta Kehidupan kita, maka tidak ada lagi kekalahan, tidak ada lagi kegagalan. Saat ini, kita menempatkan nafsu berahi kita, keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan.

“Apabila kita menempatkan Akal Sehat dan Pikiran Jernih, dan Hati yang Bersih pada posisi sais, hidup akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Hidup kita dapat menjadi suatu Perayaan.” Dikutip dari Mahabharata Roman Kehidupan dari buku buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s