Bukan Cara Berdoa tapi Ketulusan Doa lebih Penting #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-menyembah-ganesha-2

Mantra Yoga guna Mengakses Dewa

Banyak pembantu di rumah orangtua kita, jika kita membutuhkan sesuatu yang dapat diperoleh dari pembantu, lewat pembantu – mestikah kita menyusahkan orangtua? Banyak pekerjaan, banyak tugas yang memang sudah dipercayakan kepada para pembantu. Mantra-Yoga hanyalah membuat kita mengakses para Dewa, para Pembantu, para Lightworkers – ada yang berwujud dan ada yang tidak – itu saja.

Setelah terjadinya akses, setelah terjadinya hubungan – tanpa diminta pun, mereka senantiasa siap-sedia untuk melayani segala kebutuhan, segala keperluan Jiwa untuk mencapai tujuannya.

Kendati demikian, dengan segala efisiensinya – para dewa pun, sesungguhnya tidak sepenuhnya memahami Misteri Gusti Pangeran. Mereka pun masih berandai-andai. Mereka pun senantiasa mengingatkan kita. Jangan berhenti, berjalanlah terus! Jadi, kalau kita merasa berhubungan dengan dewa dan mendapatkan bimbingan, “Sudahlah berhenti. Kau sudah mencapaai tujuanmu,” – maka, niscayalah bimbingan semacam itu bersumber dari danava, bukan dewa. Penjelasan Bhagavad Gita 10:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Demikian cara mengakses para dewa, pembantu Gusti Pangeran. Berikut dijelaskan bahwa walaupun memuja para dewa pun termasuk yang tidak sesuai aturan, akan tetapi tetaplah semuanya diterima oleh-Nya. Gusti Pangeran tidak memperhatikan cara kita berdoa. Ia memperhatikan “ketulusan” kita, kesungguhan kita, niat kita di balik doa yang kita lakukan……….

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), para panembah berkeyakinan penuh, yang memuja para malaikat atau dewa, dan wujud-wujud lain, sesungguhnya memuja-Ku juga, walau dengan cara yang tidak sesuai aturan.” Bhagavad Gita 9:23

 

Ada makna yang tersurat, “memuja para dewa, atau yang biasa disebut malaikat” itu merupakan “avidhi” atau “tidak sesuai dengan peraturan”. Namun ada juga yang tersirat……..

Setelah merenung lama, saya menemukan makna yang beda sedikit, yaitu, “Walau seorang panembah berkeyakinan penuh memuja para dewa atau malaikat; dan, walaupun ia menyembah dengan cara yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dalam setiap kredo, dogma, doktrin, dan kepercayaan – tetaplah semuanya itu diterima oleh-Nya.”

 

GUSTI PANGERAN TIDAK MEMPERHATIKAN CARA KITA BERDOA. Ia memperhatikan “ketulusan” kita, kesungguhan kita, niat kita di balik doa yang kita lakukan. Pun para dewa yang dimaksud di sini adalah ibarat para menteri dalam pemerintahan. Jika kita menghadapi persoalan dalam bidang hukum, ya , lazimnya kita berhubungan dengan pejabat terkait, barangkali Dirjen atau Menteri. Tidak perlu langsung menghubungi Presiden.

Tapi, ya, jika menteri tidak menanggapi kita, maka sah-sah saja kita menongkrongi Presiden, karena seorang menteri dalam sistem yang berlaku di negeri kita, adalah Pembantu Presiden. Maka sah-sah juga, jika kita menyampaikan keluhan kita kepada Presiden. Kemudian, sebagai Kepala Pemerintahan, sekaligus Kepala Negara, adalah kewajiban seorang Presiden untuk mengambil langkah yang diperlukan.

 

MEMUJA PARA DEWA, adalah sama dengan sopan-santun ketika menyurati atau menghadap menteri. Istilah untuk memuja dalam hal ini adalah “yajante” – yang juga bisa berarti “berupaya” – berhubungan, atau mempersembahkan sesuatu.

Adalah pemahaman betul yang dibutuhkan dalam hal ini. Menteri adalah Pembantu Presiden. Menteri bukan Presiden. Tapi, seorang menteri dapat membuat suatu peraturan,  Peraturan  Pemerintah,  yang kemudian ditandatangani oleh Presiden dan menjadi sah sebagai peraturan.

Tentunya, analogi ini mesti dipahami sebagai analogi yang gagap, karena hubungan antara Gusti Pangeran dan para dewa atau malaikat tidak persis seperti itu. Analogi ini sekadar untuk mempermudah pemahaman kita.

Para menteri tidak bisa eksis sendiri. Tidak ada menteri tanpa Ketua Menteri atau Menteri Koordinator, Perdana Menteri, dan/atau Presiden. Kekuasaan para menteri adalah kekuasaan yang mereka peroleh ketika menjadi menteri. Di negeri kita, kekuasaan para menteri adalah karena mereka menjadi Pembantu Presiden.berarti, sekarang menteri adalah perpanjangan tangan dari kekuasaan Presiden.

Seorang menteri tidak bisa bergerak atau melakukan sesuatu tanpa persetujuan Presiden. Peraturan-Peraturan yang dibuatnya mesti ditandatangani oleh Presiden, atau setidaknya diketahui.

Dalam Pemerintahan Alam Raya – ada pendelegasian kekuasaan dan wewenang yang jauh lebih demokratis. Para dewa atau malaikat bekerja secara independen. Namun, mereka sadar betul bila kekuasaan mereka, termasuk independensi mereka – semuanya berasal dari Gusti Pangeran. Mereka tidak bisa, tidak perlu bertindak semena-mena, dengan menggunakan dalaih  “kewenangan” dan “kekuasaan”.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s