Sadar Hakikat Jiwa Walau Hidup di Tengah Dunia #YogaSutraPatanjali

 

buku-yoga-sutra-patanjali-jalan-sendirian

Seorang sahabat dari Bali menulis status di FB bahwa dia berusaha memahami lebih mendalam apa yang Guru katakan…… Bahwa sesungguhnya agenda Sang Jiwa, Sang Diri Sejati, dalam persinggahannya di bumi ini hanyalah satu. Ya. Hanya agenda tunggal, yaitu jalan – jalan…… lucu tapi nyata dan telak menghantam ego kita yang ruwet dan merasa telah melakukan hal yang besar (kebodohan yang besar hehehe…)

Teringat petunjuk leluhur: Urip mung mampir ngombe, (dalam perjalanan panjang menuju Gusti, kehidupan kesekian kali ini) hidup sekadar mampir minum…..

Dalam Yoga Sutra Patanjali III.36 disampaikan bahwa kita (yang sedang jalan-jalan di dunia) hidup di dunia, lingkungan kita adalah dunia benda, yang penting adalah kesadaran bahwa diri kita sejatinya adalah percikan Gusti (yang kini sedang jalan-jalan di dunia). Seorang Master mengingatkan kita tentang pentingnya selalu sadar diri sejati kita………

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Bhogah, kenikmatan duniawi atau indrawi dialami ketika seseorang tidak mampu membedakan Purusa atau Gugusan Jiwa, Diri yang Sejati dari (sifat-sifat alami, sifat-sifat Prakrti, termasuk sifat yang paling mulia, tenang dan dinamis, yaitu sifat) Sattva.

(Sebab, semua sifat itu tetaplah mengikat Jiwa dengan dunia, dengan materi; mengikat Jivatma atau Jiwa Individu dengan Prakrti atau Alam-benda.)”

“Sebab itu, dengan niat yang jelas, tanpa kebingungan—asamkirnayoh—dan dengan melakoni samyama, hendaknya seseorang senantiasa berupaya untuk mengenal hakikat dirinya (sebagai Jiwa yang adalah bagian tak terpisahkan dari Purusa, dari Gugusan Jiwa). Dan bahwasanya adanya Prakrti atau Alam Benda adalah untuk (melayani) Purusa, bukan sebaliknya.” Yoga Sutra Patanjali III.36

 

lnilah maksud samyama.

Tidak perlu meninggalkan dunia benda. Mau meninggalkan ke mana? Arjuna yang hendak melarikan diri dari keramaian dunia, ditegur oleh Krsna, bahwasanya melarikan diri dari “kebisingan dunia” bukanlah samnyasa, bukanlah pelepasan sejati.

 

TYAGA ATAU PELEPASAN SEJATI adalah melepaskan harapan atau hasil, atau buah dari segala perbuatan kita yang mulia, yang selaras dengan dharma, dengan nilai-nilai luhur kebajikan.

Sekali waktu, Master menegur seseorang, “Kemarin ke mana?”

Ia menjawab, “Saya ke bukit untuk bermeditasi.”

Sang Master tersenyum, “Meditasi itu baik, tapi kenapa mesti ke bukit?”

“Saya tidak tahan dengan kebisingan di sini, terlalu ramai.”

Sang Master membalas, “Keramaian ada di dalam pikiranmu. Setiap orang di sini berada di tengah keramaian, tapi tidak ada yang mengeluh, hanya kamu. Meditasi mesti terjadi di tengah kebisingan, di tengah keributan. Keramaian ini adalah bahan uji untuk menguji seberapa meditatifnya kamu.”

Patanjali hendak menyampaikan hal yang sama. Ada beberapa pesan yang sangat menarik.

 

PERTAMA: HANYALAH SIFAT SATTVA YANG DISEBUT dalam sutra ini. Berarti, seorang Yogi,

  • sudah harus bebas dari sifat-sifat lain baik rajas yang agresif, maupun tamas yang malas, bodoh, selalu ragu, tidak percaya diri;
  • tidak boleh terjebak dalam permainan sattva Sebab, sattva pun merupakan sangkar. Jiwa tetap tidak bebas. Malah, sangkar sattva lebih berbahaya karena terbuat dari emas ego-spiritual, “Aku sudah tenang, atau mau tenang, aku tidak mau diganggu oleh kebisingan dunia.”

 

Pandangan-pandangan, pemahaman-pemahaman keliru seperti itu ibarat gembok, kunci. Sudah di dalam sangkar, digembok pula. ‘

 

KEDUA: SEORANG YANG TELAH MENYADARI HAKIKAT DIRINYA sebagai Jivatma atau Jiwa Individu—tak terpisahkan dari Purusa, Gugusan Jiwa, yang mana adalah ibarat cahaya Paramatma, Sang Jiwa Agung—tidak perlu, atau Iebih tepatnya, tidak bisa memutuskan hubungan dengan Prakrti atau Alam-Benda. Selama Jiwa masih menghidupi badan ini, maka tetaplah ia berurusan dengan alam-benda.

Adalah kesadaran-diri yang dibutuhkan.

Jiwa mesti tetap sadar akan hakikat dirinya sebagai Percikan Jiwa Agung; dan bahwasanya Panggung Kehidupan ini, pergelaran ini, digelar baginya. Silakan menonton, menyaksikan pergelaran, dan menikmati. Tidak perlu lari ke mana-mana karena seluruh alam semesta adalah panggung pergelaran. Tidak bisa ke mana-mana, selama masih berbadan, bahkan kendati sudah meninggalkan badan ini, selama masih berbadan-halus, Jiwa masih tetap berada di tengah pergelaran.

Jadi, nikmati pergelaran dengan penuh kesadaran akan hakikat diri sebagai Jiwa, jangan terjebak dalam permainan. Untuk itulah dianjurkan upaya terus-menerus, upaya mengingat-ingat jati diri secara terus-menerus, sembari melakoni Samyama.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s