Menghadapi Ortu yang Tidak Setuju Laku Spiritual Kita #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-ortu-tidak-setuju-laku-kita

Master datang tidak selalu membawa kedamaian dalam keluarga

Yesus bersabda, Mereka pikir, saya membawa kedamaian bagi dunia. Mereka tidak tahu, yang saya bawa adalah pertikaian: api, pedang dan perang. Jika ada lima dalam satu rumah, maka yang tiga akan melawan dua, dan dua melawan tiga. Ayah akan melawan anaknya, dan anak akan melawan ayahnya. Masing-masing akan berdiri sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita bagaimana menghadapi orangtua yang tidak setuju laku spiritual kita:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Apa hakikat karma atau perbuatan, dan apa pula hakikat akarma atau tidak berbuat. Hal ini telah membingungkan banyak orang, sekalipun sudah berpengetahuan. Sebab itu, akan Ku-jelaskan padamu tentang hakikat karma. Pengetahuan hakiki ini dapat membebaskan dirimu dari segala akibat tidak baik, tidak mulia, dari perbuatanmu.” Bhagavad Gita 4:16

 

Bingungnya Arjuna karena banyak hal. Ada rasa takut ada kecemasan untuk menghadapi para kesatria “tua” — kakek Bhisma, dan Guru Drona yang mengajarkan senl perang kepadanya. Ada juga kebingungan yang ditampilkannya sebagai isu moral. Tepatkah ia membunuh seorang kakek, seorang guru?

 

KRSNA MENJAWAB ISU MORAL INI… Menghadapi para tua, apakah seorang pemuda mesti mengalah, tidak berbuat yang bisa disebut akarma? Atau bagaimana? Berbuat apa? Bertindak dengan cara apa? Ber-karma dengan cara apa?

Karma atau Akarma? Bertindak atau tidak bertindak?

Kita boleh merasa sudah berada di jalur yang benar. Namun, jangankan perang atau perbuatan-perbuatan “dahsyat” lainnya, perbuatan mengikuti pelatihan spiritual saja sering ditentang oleh para tua di rumah. Bahkan, ada yang menganggap kita sudah sesat, melakukan sesuatu yang anti-kepercayaan. Menghadapi tantangan seperti itu, apa yang mesti kita lakukan?

Mengikuti petuah mereka, dan tidak melanjutkan laku-spiritual, walau kita sadar betul bila laku spiritual  dan kegiatan-kegiatan lainnya yang terkait, adalah baik bagi diri kita. Atau, melawan para tua, dan melanjutkan apa yang kita anggap baik itu? Karma atau Akarma.

Akarma atau Karma?

Situasi seperti ini dihadapi banyak orang sejak zaman dahulu kala. Untuk menghadapinya, kita mesti….

JUJUR DENGAN DIRI SENDIRI – Apa tujuan kita melakoni Spiritual? Apakah kita terlibat dalam mumbo-jumbo klenik untuk meraih kesaktian, jodoh, pangkat, dan sebagainya? Atau, untuk pengembangan diri untuk meraih Kesadaran Jiwa?

Jika kita terlibat dalam praktek-praktek klenik untuk rnendapatkan kenikmatan duniawi, maka sesungguhnya kita belum “mau” berkembang. Kita masih puas dengan berjalan di tempat. Kita belum siap untuk spiritualitas. Belum mau maju, masih puas dengan pertumbuhan saja.

Dalam keadaan seperti itu, lebih baik mengikuti nasihat para tua. Kembali pada dogma dan doktrin kepercayaan, yang jauh lebih baik dari praktek-praktek klenik.

Tapi, jika laku spiritual kita adalah untuk pengembangan serta pemberdayaan diri, untuk meraih pengetahuan sejati tentang jati diri — maka, hendaknya kita menjelaskan dengan baik kepada para tua yang menentang kita.

 

SEJAK ZAMAN DULU, LELUHUR KITA sudah menempatkan Pengetahuan Sejati tentang jati diri di atas segala pengetahuan. Literatur-literatur kuno dalam bahasa Jawa, Sunda; petuah-petuah para bijak dalam bahasa Batak, Melayu, dan sebagainya, jelas-jelas mendukung perbuatan kita.

Ajaran-ajaran dalam kepercayaan-kepercayaan “baru” pun tidak ada yang melarang kita untuk mencari kebenaran tentang jati diri. Hal ini perlu dijelaskan kepada para tua di rumah.

Adalah kewajiban kita untuk membantu orangtua kita, supaya mereka pun mendapatkan manfaat dari laku spiritual kita.

Tapi, jika kita takut, “Wah, ortuku pasti tidak mau terima,” maka tidak seorang pun bisa membantu kita. Kita sudah meletakkan senjata sebelum berperang. Kita sudah bersikap seperti Arjuna di Bab Pertama Bhagavad Gita. Siapa yang bisa membantu?

Ada Krsna di dalam diri Anda, ada Krsna di samping Anda, di depan Anda — tapi jika Anda menolak untuk mendengarkan wejangan-Nya, atau mendengar tapi tidak mengindahkan-Nya, maka apa boleh buat?

Hal-hal seperti ini memang membingungkan, sebab itu Krsna hendak menjelaskan cara untuk keluar dari kebingungan yang tidak sehat itu, asal kita siap untuk, tidak sekadar mendengarnya, tapi mengindahkannya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s