Pengaruh Daging Hewan Potong terhadap Kesehatan Tubuh #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-antibiotik-pd-ternak-potong

“Sifat kehidupan yang memasuki tubuh anda lewat mulut, mempengaruhi sifat diri anda. Sesuai dengan istilah  yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki satu sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila-tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri  kita pun ikut bertumbuh.  Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.”  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

“Daging membuat kita terobsesi dengan makanan, seolah kita hidup untuk makan, bukan sebaliknya. Daging juga membuat kita terikat pada dunia benda. Kita melihat dunia ini sebagai satu-satunya kenyataan. Padahal barangkali dunia benda lebih tepat disebut virtual reality, kenyataan virtual — bukan kebenaran.” Penjelasan Bhagavad Gita 17:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Di atas adalah pengaruh non-fisik terhadap kita bagaimanakah pengaruh daging potong terhadap fisik kita?

Silakan simak penjelasan Yoga Sura Patanjali berikut:

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada cakra atau sentra energi (sekitar) pusar, sesearang memperoleh pengetahuan tentang vyuta, pengaturan atau kinerja badan.” Yoga Sutra Patanjali III.30

 

Istilah Manipura bagi cakra ketiga atau cakra pusar ini adalah tambahan sesuai dengan fungsi cakra tersebut. Demikian pula dengan istilah-istilah lain terkait cakra. Patanjali masih menggunakan istilah generik, cakra pusar.

 

YANG DISEBUT CAKRA PUSAR sesungguhnya adalah sentra energi yang berpusat sedikit di bawah pusar.

Para praktisi Yoga di Jepang mengenal pusat ini, dan menyebutnya Titik Hara. Bahkan para kesatria, para samurai pun tahu bahwa di sinilah letak “gudang energi”. Dengan menusuk pusat ini, diyakini bahwa seseorang akan langsung tewas tanpa merasa sakit—sebab prana-nya langsung keluar ibarat balon gas yang ditusuk.

Well, tidak sesederhana itu.

Saya tidak akan mencobanya, hahaha. Saya mengatakan tidak sesederhana itu karena lokasi “gudang energi” dalam badan kita bisa berpindah. Tidak selalu sekitar pusar saja. Walau, ya, umumnya demikian.

Memang betul bahwa Cakra Pusar adalah Cakra yang mengurusi segala urusan yang terkait dengan fisik. Kita tidak akan memasuki wilayah medis untuk mempelajari organ-organ internal dan kelenjar-kelenjar sekitar pusar. Itu urusan seorang internis.

Kita akan sedikit mempelajarinya dari sudut pandang Yoga.

 

CAKRA PUSAR TERKAIT DENGAN EMOSI AWAL; dengan kebutuhan dasar manusia; dengan survival atau pertahanan—dalam hal ini pertahanan-fisik. Dampak fisik dari rasa takut pun lebih terasa di sekitar pusar.

Ketika Anda mendengar berita yang tidak diinginkan, berita yang mengejutkan, coba perhatikan apa yang Anda rasakan di sekitar pusar. Biasanya kita menafsirkan perasaan itu sebagai “sakit perut”, mual, mulas.

Rasa takut, rasa mencekam—semua bisa menyebabkan energi sekitar pusar mengalami gejolak. Sesungguhnya gejolak ini justru mengaktiflian cakra tersebut. Saat itu jika buddhi seseorang sudah berkembang, maka ia mendapatkan suntikan energi tambahan untuk menghadapi situasi. Namun jika buddhi atau inteligensi belum cukup berkembang, manah atau mind masih berkuasa, maka nyali seseorang malah menjadi ciut. Ia akan berusaha untuk melarikan diri, tidak menghadapi tantangan.

 

CAKRA PUSAR JUGA MENJADI SANGAT PENTING karena terkait dengan pencernaan, dengan “pengolahan” apa saja yang kita makan.

Untuk itu, adalah baik jika kita bekerja sama dengannya. Antara lain dengan tidak membebani perut dengan bangkai binatang atau makanan lain yang membutuhkan energi yang cukup besar untuk mengolahnya. Demikian kita memboroskan banyak energi, yang semestinya bisa digunakan untuk berbagai hal yang lebih penting.

Baru-baru ini saya membaca tentang pemberian antibiotik secara reguler kepada hewan-hewan ternak, hewan-hewan yang “dikembangbiakkan” untuk disembelih.

Pemberian antibiotik yang “tidak dibutuhkan” ini semata untuk mencegah terjadinya infeksi. Bayangkan apa jadinya jika selama 6 bulan saja, Anda diberi antibiotik terus-menerus, dengan tujuan supaya tidak kena virus flu! Jadi, butuh, tidak butuh, disuntiki antibiotik terus.

Belum ada seorang anak manusia yang mencobanya. Yang jelas seluruh sistem imun kita justru tidak akan bekerja lagi. Untung jika seseorang tidak mati.

By the way, jenis antibiotik yang diberikan,umumnya, 70% di antaranya—juga digunakan oleh manusia. ‘

 

SELAIN ANTIBIOTIK, HEWAN—HEWAN TFRSEBUT JUGA DIBERIKAN SUNTIKAN GROWTH HORMONE supaya cepat tumbuh, tubuhnya cepat membesar, daging dan Iemaknya bertambah—sehingga ketika disembelih nanti, rnenghasilkan lebih banyak uang.

Bahan-bahan kimia yang diberikan semata untuk meningkatkan keuntungan para peternak hewan-sembelih. Efeknya, daging mereka teracuni. Daging beracun itulah yang dikonsumsi. Kemudian, seseorang yang keracunan mesti membeli obat buatan farmasi yang sama, yang juga memproduksi antibiotik dan growth hormone untuk hewan-hewan tersebut. Lingkaran setan! Mengasyikkan? Itu baru dampak terhadap fisik.

Dampak psikis, mental, emosional, dan sebagainya tidak perlu dibahas lagi. Sebab, hanya pemborosan prana atau energi untuk menghadapi “serangan” daging-daging beracun tersebut, juga menyisakan energi dalam jumlah yang sangat kecil—sehingga tidak cukup untuk mengolah manah atau mind secara efektif. Lupakan pengembangan buddhi atau inteligensi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s