Sifat Ilahi dan Sifat Syaitani dalam Diri Kita #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-sifat-syaitani-dan-sifat-ilahi

Krsna menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran, dengan (sifat Ilahi). Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan semua itu.

Tidak demikian dengan kita, yang kemungkinan besar, tidak memiliki saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya. Penjelasan Bhagavad Gita 16:1 dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Sifat Ilahi dan Sifat Syaitani dalam diri Manusia dalam sloka selanjutnya:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Pandava (Arjuna, Putra Pandu), Sifat dasar Daivi atau Ilahi menunjang moksa (kebebasan mutlak dari samsara, siklus kelahiran dan kematian); sementara, sifat dasar asuri atau syaitani menyebabkan keterikatan (pada dunia benda yang menyengsarakan). Tapi, jangan khawatir, sebab engkau lahir dengan Sifat Bawaan Daivi, Ilahi.” Bhagavad Gita 16:5

Moksa adalah keadaan ketika moha atau keterikatan pada alam benda dengan segala variannya, variasinya menjadi ksaya — punah, berakhir.

Krsna mengatakan kepada Arjuna:

 

“JANGAN KHAWATIR karena engkau lahir dengan Sifat bawaan Daivi atau Ilahi, yang dapat mengantarmu ke moksa.”

Lalu, apakah mereka yang tidak lahir dengan Sifat Daivi atau Ilahi perlu khawatir? Tidak juga, mereka bisa mengupayakan sejak saat ini juga. Jika mereka berhasil mengubah kebiasaan-kebiasaan syaitani, maka tidak ada lagi kelahiran kembali — mereka pun menjadi Jiwa yang bebas sekarang dan saat ini juga.

 

BEBAS DARI ALAM BENDA – dari keterikatan pada alam benda, dengan segala varian dan variasinya ini, penting untuk dipahami. Apa yang menjadi varian alam benda?

Salah satu adalah keinginan untuk menjadi penghuni surga, dengan segala khayalan kita tentang surga sebagai suatu tempat di mana kita akan dilayani oleh bidadari, bidadara, dan sebagainya. Gambaran surga sebagai suatu tempat yang tidak jauh beda dari alam benda adalah salah satu varian kebendaan.

 

JIKA KITA BERBUAT BAIK untuk mencapai surga khayalan itu, maka setelah kematian, kita pun bisa menikmati segala pelayanan dalam surga khayalan kita. Namun, begitu lamunan kita berakhir, segala kenikmatan tersebut pun akan berakhir, dan tetaplah Jiwa mesti menghuni kendaraan badan lain untuk menjalani sesuatu yang lebih berarti dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Ia rnesti tetap mengupayakan kebebasan dari segala keterikatan dan menyadari hakikatnya sebagai percikan Jiwa Agung.

 

SANG JIWA AGUNG BUKANLAH PENGHUNI SURGA – Ia tidak bisa rnenghuni suatu tempat, karena jika Ia menghuninya maka tempat itu mesti lebih luas, lebih besar dari-Nya, padahal Dia adalah Maha Besar dan Maha Luas. Tiada pula tempat yang lebih tinggi dari-Nya, karena Ia adalah Maha Tinggi.

Lalu Sang JiwaAgung itu apa? Tidak bisa dijelaskan sebagaimana kita tidak bisa menjelaskan panas atau cahaya itu apa, kelembutan air itu apa, wangi tanah itu apa, ringan atau lembutnya udara itu apa, dan keluasan ruang jagad raya itu apa. Kita bisa menjelaskan asinnya makanan tertentu sebatas kurang atau sangat asin. Tapi rasa asin itu apa, kita tidak bisa menjelaskan, kendati kita tahu. Ya, kita tahu rasa asin itu apa, tapi tidak bisa menjelaskannya.

Pun demikian dengan Jiwa Agung. Ia adalah kebenaran hakiki kita, Jati Diri yang sesungguh-sungguhnya. Kita dapat, dan pada suatu ketika “sudah pasti” mengetahui-Nya. Saat ini, ketika badan belum rnencapai kesempurnaan diri, dengan menggunakan media pikiran, kita tidak bisa menjelaskan-Nya.

Sebagaimana, seorang pegawai biasa tidak bisa menjelaskan kekayaan majikannya. Tapi, ketika ia diangkat menjadi partner— maka, dia akan tahu – setidaknya, bisa tahu. Namun, partnership pun bukanlah ideal tertinggi. Antara para partner pun masih bisa ada rahasia. Partnership pun sebuah khayalan. Ber-partner dengan-Nya, berarti tetap ada dualitas. Ada diri kita, dan ada Dia. Sementara itu, Jiwa Agung tidak bisa diduakan. Ia tunggal ada-Nya. Ketika kita sadar bahwa Jiwa Individu adalah sebuah khayalan, dan Hyang Ada hanyalah Dia – saat itulah terjadi kemanunggalan.

 

JANGAN TERGESA-GESA, jangan berusaha untuk menyederhanakan penjelasan ini. Jangan pula membuatnya ribet. Yang penting, kembangkan Sifat-sifat dasar Daivi atau Ilahi sekarang dan saat ini juga. Maka, jika tidak dalam hidup ini, setidaknya dalam masa kehidupan berikut, kita sudah pasti mencapai kesempurnaan diri.

Dalam kelahiran berikut, kita hanya akan melanjutkan apa yang tidak sempat diselesaikan kehidupan sekarang. Saat itu, kita akan ingat hikmah setiap pengalaman penting. Setiap pengalaman dari masa kehidupan sebelurnnya, yang dapat menunjang peningkatan kesadaran.

Ada saja di antara kita yang lahir dengan “ingatan” seperti itu. Di antaranya, ada yang berbagi pengalaman seperti Siddhartha Gautama, ada juga yang merasa tidak perlu menjelaskan, seperti Gandhi — Sang Mahatma. Mereka inilah yang lahir dengan Sifat-sifat Daivi atau Ilahi.

Mereka, yang dalam masa hidup ini lahir dengan daya ingat, dengan ingatan seperti itu, sudah  tidak “perlu” lahir kembali. Inilah kehidupan mereka yang terakhir. Kecuali, mereka sendiri memilih untuk menjalani kelahiran ulang semata untuk berbagi pengalaman dalam serial lain, barangkali juga di dunia atau alam lain.

 

“JANGANLAH KHAWATIR, ARJUNA, KARENA KAU LAHIR DENGAN SIFAT BAWAAN DAIVI ATAU ILAHI!” lni adalah kata-kata yang membakar semangat Arjuna. Namun, Krsna tidak menggunakan kata-kata ini sekadar untuk menyenangkan Arjuna. Tidak. Krsna tahu persis seperti apakah Arjuna di dalam masa kehidupan sebelumnya. Lalu, kenapa Arjuna tidak mengingatnya?

Ada kalanya, seorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi pun “lupa” akan sifat bawaannya. Ini bisa disebabkan oleh pendidikan, pengaruh lingkungan, atau berbagai faktor lain. Termasuk, pengalaman-pengalaman dahsyat dalam kehidupan ini, yang membuatnya lupa-ingatan sementara. Arjuna adalah korban lupa ingatan atau amnesia sementara. Pengalaman tinggal dalam pengasingan selama belasan tahun dan saat ini menghadapi perang dahsyat — semuanya membingungkan Arjuna, sehingga ia lupa, lupa akan hakikat jati dirinya. Namun, amnesia macam ini tidak pemah bertahan lama.

 

ALAM KEBENDAAN TIDAK MAMPU memperbudak seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi. Seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi, tidak selamanya menderita amnesia, atau lupa-ingatan tentang hakikat dirinya.

Sebab itu, pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s