Hidup dengan Sukacita, Tanpa Menanam Benih Kelahiran Baru! Mungkinkah? #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-bolywood-dancing

Yoga Sutra Patanjali II.13 kita lahir karena benih klesa atau duka derita

Benih bagi kelahiran kita adalah klesa atau duka derita, misalnya kekecewaan terhadap keluarga, jabatan, kekayaan, usaha dan lain-lainnya. Bila pada saat menjelang ajal kita merasa kecewa, atau masih terobsesi dengan keduniaan, maka kita akan lahir lagi. Walaupun demikian, walau lahir dari benih duka-derita, buah dari pohon yang berasal dari benih tersebut bisa juga menghasilkan suka cita. Bagaimana caranya? Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.13

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Yoga Sutra Patanjali II.14 walau berakar pada klesa atau duka derita, kita bisa melewati hidup dengan sukacita

Cara kita melewati hidup ini bisa dengan bernyanyi dan menari. Anda pernah nonton film Bollywood? Ada saja lagu untuk mengiringi setiap adegan. Dalam adegan sedih pun, tetap ada lagu pengiring. Bahkan, tak jarang ada tarian pula! Jangan lupa, Bollywood adalah generasi ke sekian Patanjali. Hahaha! Silakan menonton dan menjadi penggemar film-film Bollywood. Tetapi untuk menjalani hidup, kiranya gaya Bollywood lebih tepat untuk ditiru, untuk dijadikan panutan.

Kenapa ada orang yang bisa melewati hidup penuh duka dengan ringan, seolah ia tidak terbebani? Kenapa pula ada yang sebaliknya?

 

Lahir karena tindakan mulia (punya karma) bisa membuat tetap ceria, bersuka cita menghadapi apa pun

ADA YANG DAPAT MELEWATI HIDUPNYA SAMBIL MENARI DAN MENYANYI, kenapa pula ada yang tidak bisa? Patanjali memperhatikan fenomena ini, ia meneliti, dan menemukan alasannya. Alasannya adalah “sebab” penderitaan, “sebab” klesa yang “menyebabkan” kelahiran kita. Tergantung pada apakah sebab penderitaan kita di masa lalu, yang menjadi alasan bagi kelahiran kita sekarang, adalah punya atau apunya—mulia atau tidak mulia.

………………..

JIKA SEBAB KELAHIRAN KITA ADALAH KLESA atau Penderitaan yang kita alami karena suatu perbuatan yang mulia—punya karma—maka sambil melewati hidup ini, kita bisa menari, menyanyi, bersukacita, tetap ceria dan berbagi keceriaan………

Pelajari kembali riwayat para suci, mereka yang hidup dalam kemuliaan dengan berbagi kemuliaan. Dan tokoh-tokoh historis yang sudah menjadi bagian dari legenda, seperti Rama, Krsna, Siddhartha, Isa, Muhammad, hingga tokoh-tokoh kontemporer seperti Gandhi, Soekarno, dan yang lain. Hidup mereka semua penuh tantangan, penuh gejolak, penuh duka-derita. Namun duka-derita mereka “berkualitas”. Penderitaan mereka bukan disebabkan oleh urusan-urusan pribadi. Penderitaan mereka disebabkan oleh komitmen mereka pada manusia dan kemanusiaan.

Mereka rela berkorban, rela menderita demi kebaikan kita semua. Ditembak pun, Gandhi masih menyebut asma-Nya. Disiksa di atas salib pun, Isa masih bisa memaafkan mereka yang menzaliminya. Demikian pula dengan Siddhartha, Sang Buddha. Muhammad memberikan amnesti kepada mereka semua yang pernah menciptakan keadaan sehingga ia mesti meninggalkan kota kelahirannya, dan berhijrah ke Madinah.

Menderita, memikul salib penderitaan demi kebaikan umum; mengorbankan segala kenyamanan hidup supaya dapat melayani sesama, inilah Punya Karma—Perbuatan yang Mulia. Kemudian dalam upaya itu, segala penderitaan, segala macam klesa menjadi benih bagi kelahiran ulang penuh perayaan, penuh keceriaan.

……………….

Hidup penuh keceriaan, perayaan, nyanyian, dan tarian bukanlah hidup tanpa tantangan. Hidup penuh keceriaan, perayaan, nyanyian, dan tarian adalah hidup penuh tantangan—bahkan, penuh dengan tantangan-tantangan berat, dahsyat. Ketika seseorang dapat menghadapi semua tantangan itu dengan hati yang ceria, sanubari penuh lagu dan tari, maka ia disebut Yogi. Ialah yang hidupnya sekarang merupakan hasil dari Punya Karma—Perbuatan Mulia—sebelumnya. Ialah yang hidupnya menjadi berkah bagi semesta.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut dalam Yoga Sutra Patanjali III.24 disampaikan bahwa berkat kontemplasi, meditasi dan fokus pada maitri, kemitraan dengan semua makhluk, mereka meraih kenikmatan, dan tidak menanam benih baru sehingga tidak lahir lagi……………..

 

Tidak menanam benih baru kelahiran kembali

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada maitri, kemitraan, persahabatan, atau kebersamaan, dan sebagainya, seseorang meraih kenikmatan yang terkait dengannya.” Yoga Sutra Patanjali III.24

Samyama pada kemitraan, pada kebersamaan berarti, niat kita, hati sanubari kita sudah bebas dari permusuhan, dari perpecahan, dari pertikaian. Maka tentu niat seperti itu sendiri menjadi kekuatan kita.

ADA YANG MENYALAHARTIKAN SUTRA INI, seolah jika niat kita sudah untuk bersahabat, maka tiada seorang pun yang akan memusuhi kita. Bukan, pengertiannya bukanlah seperti itu.

Jika pengertiannya demikian, lalu bagaimana menjelaskan penyaliban Yesus, penembakan Gandhi, pengasingan Pandava, dan sebagainya? Apakah niat mereka tidak benar?

Sebenarnya apa pun niat Anda, jika berhadapan dengan orang-orang yang memang bersifat asuri atau syaitani, maka apa yang terjadi pada Gandhi bisa juga terjadi pada Anda.

ARTI SUTRA INI ADALAH KESUNGGUHAN NIAT ANDA menjadi kekuatan Anda. Sehingga digantung di atas salib pun, Isa masih tetap bisa memaafkan mereka yang menggantungnya. Sehingga saat mengembuskan napas terakhir, Gandhi masih bisa mengucapkan nama la Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk. Kekuatan inilah yang dimaksud.

Kemudian, kekuatan ini pula yang membebaskan kita dari rasa dendam sehingga tidak ada keinginan untuk membalas dendam yang dapat menjadi benih baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s