Mengetahui Pertanda Kematian 9 Bulan Menjelang Ajal #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-mengetahui-pertanda-kematian

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran pada) hasil karma baik yang sudah terwujud, aktif dan berjalan, maupun yang belum aktif, belum berjalan atau belum terwujud, seseorang dapat meraih kemampuan untuk memahami pertanda-pertanda alam terkait dengan akhir dari perlawatannya di dunia ini (berarti, meraih pengetahuan tentang kematiannya).” Yoga Sutra Patanjali III.23

Pemahaman tentang Hukum Karma atau Hukum Konsekuensi dari setiap perbuatan sangat mudah dipahami sebagai hukum alam yang tak terelakkan. Persis seperti Hukum Aksi-Reaksi dalam Ilmu Fisika.  Setiap aksi menghasilkan reaksi yang setimpal. Demikian pula, setiap akibat ada sebabnya.

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

NAMUN MEMAHAMI KINERJA HUKUM INI SECARA PERSIS adalah sangat sulit. Banyak faktor yang bekerja, dan setiap faktor menjadi teka-teki yang mesti dipahami.

Ada empat jenis Karma yang memengaruhi kehidupan kita semua. Pertama: Samcita Karma, yaitu karma yang terakumulasi dari masa-masa kehidupan sebelumnya. Ini ibarat saldo kita. Kita semua memiliki saldo ini. Bedanya dengan saldo tabungan di bank dunia adalah bahwa makin besar, makin tinggi, makin banyak saldo-karma, berarti makin repot kehidupan kita. Banyak utang-piutang yang mesti diselesaikan.

Kedua: Prarabdha Karma, ini ibarat saldo yang sudah atau sedang tercairkan. Segala suka duka yang sedang kita alami “saat ini”, mayoritas adalah hasil dari prarabdha karma.

Ketiga: Agami Karma, atau saldo yang belum dicairkan, atau dicairkan pada masa mendatang. Ada kala sebagian dan keseluruhan dari agami karma adalah berupa bilyet-giro yang sudah kita terbitkan, sudah kita tanda tangani, tinggal tunggu waktu pencairannya.

Keempat: Kriyamana Karma, atau karma-karma ringan yang sebab dan akibatnya tidak terpisahkan oleh jarak yang sangat panjang atau jauh. Misalnya, jika kita makan terlalu banyak sudah pasti kita merasa kekenyangan dan tidak enak, bahkan bisa mual, enek, dan sebagainya.

 

NAH, DUA MACAM KARMA YANG DIMAKSUD DALAM SUTRA INI adalah Prarabdha dan Agami.

Patanjali menyebutnya: Sopa Kramam Karma atau Hasil Karma yang sedang berjalan atau Prarabdha. Dan, Nirupa Kramam, yang belum terwujud, atau Agami.

Berarti, mengetahui keseluruhan saldo atau keseluruhan Samcita Karma—karma-karma yang terakumulasi sangat sulit.

Mudah-mudahan jumlah Prarabdha dan Agami adalah sama dengan keseluruhan saldo Samcita—sehingga tidak ada lagi saldo utang-piutang yang tersisa untuk diurusi dalam masa kehidupan yang lain; atau yang menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.

Namun, seandainya pun hal itu belum terjadi, maka dengan mengetahui:

 

PRARABDHA DAN AGAMI KARMA, setidaknya seseorang bisa menyelesaikan apa saja yang menjadi tanggungannya dengan baik.

Misalnya, ada yang menyakiti Anda, tentu saat itu  Anda merintih kesakitan, sedih, kecewa. Apalagi jika orang yang menyakiti adalah teman Anda sendiri, atau anggota keluarga Anda sendiri.

Saat itu, jika Anda sadar bahwa penderitaan Anda disebabkan oleh ulah Anda sendiri pada masa lalu, karena Anda pun pernah menyakiti seseorang dengan cara yang sama, maka Anda tidak akan tenggelam dalam duka. Anda akan bangkit kembali tanpa rasa dendam, tanpa keinginan untuk membalas.

Hal kedua yang disampaikan lewat sutra ini adalah:

 

PENGETAHUAN TENTANG KEMATIAN lewat pertanda-pertanda alam. Tentu pertanda yang paling jelas adalah yang Anda terima lewat badan Anda sendiri.

Tapi sebelum beranjak lebih jauh membahas hal ini, perlu kita ingat bahwa Patanjali sedang berbicara dengan para Yogi, para praktisi Yoga. Ini mesti jelas dan selalu diingat.

Jadi, jika kita tidak melakoni Yoga dan hanya membaca buku ini, hasilnya adalah nol besar. Nihil. Kita tidak akan mampu membaca pertanda-pertanda alam, walau telah disampaikan berulang-ulang.

KITA PERNAH MEMBAHAS HAL INI DI BUKU LAIN. Proses kematian mirip sekali dengan proses kelahiran. Sebagaimana kelahiran membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan, kematian pun sama. Ya, proses kematian pun terjadi selama sembilan bulan. Seorang Yogi bisa mengetahui hal ini. Ia bisa merasakan proses prana atau aliran kehidupan menarik diri dari setiap anggota badan secara bertahap, satu per satu.

Awalnya bagian kaki akan terasa rnelemah, melemah secara merata. Bukan lemah karena sakit, tapi lemah karena aliran kehidupan sudah mulai berpamitan.

Proses ini berjalan hingga +/- 9 bulan—walau seorang Yogi bisa juga memilih untuk mempercepatnya. Lagi-lagi, semua ini berlaku bagi para Yogi.

PROF. DR. RAGHU VIRA, SEORANG PECINTA BUDAYA DVIPANTARA atau Nusantara yang pernah berkunjung ke Indonesia sekitar tahun 1950-an adalah seorang Yogi seperti itu.

Ia mendirikan Pusat Studi Kebijakan-Kebijakan Kuno yang berasal dari wilayah peradaban kita, dan berhasil menemukan serta mengulas kembali ratusan naskah kuno bersama timnya.

Dari Kepulauan Nusantara saja beliau mengumpulkan, mengedit ulang, dan menerbitkan tujuh naskah yang rnengandung nilai-nilai spiritual. Enam di antaranya adalah dalam bahasa Sanskrit, ditulis oleh pujangga asli Nusantara. Luar biasa!

Kembali pada Sang Profesor.

Dunia mengenalnya sebagai scholar, ccndekiawan. Sesungguhnya hal itu hanya kulit luar. Jiwa Sang Profesor adalah Jiwa Yogi.

Beberapa bulan sebelum wafat dalam suatu kecelakaan maut, beliau membagi seluruh pekerjaannya di institut kepada anak, menantu, dan beberapa rekannya. Bukan karena pilih kasih, tapi karena kemampuan masing-masing. Mereka adalah personel-personel yang sepenuhnya terlibat dalam misi beliau. Demikian, setelah kecelakaan maut itu kinerja institut yang beliau dirikan tidak rnengalami gangguan apa pun.

Masih banyak Yogi lain, sama seperti Prof. Dr. Raghu Vira, termasuk Ayah saya sendiri, seorang pelaku Yoga yang sangat tekun. Beliau pun “diberi pengetahuan” tentang kematiannya. Kita sudah membaca ini, dan hal-hal lain tentang beliau dalam buku-buku sebelumnya, antara lain Haqq Maujud, Cakrawala Sufi, dan Kematian.

Patanjali tidak memberikan harapan palsu. Saya bisa menjadi saksi atas keabsahan apa yang disampaikannya lewat sutra-sutra ini.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga Catatan ini memberikan semangat kepada kita untuk melakoni petunjuk pada Buku Bhagavad Gita dan Yoga Sutra Patanjali dalam kehidupan sehari-hari.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s