Mengejar Kenyamanan Dunia Lupa Kemajuan Spiritual? #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-peron-gambir

“Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.

“Asato – maa Sadgamaya, Tamaso – ma Jyotirgamaya, Mrityor – maa Amritamgamaya. Perjalanan ini adalah dari asat, ketidakbenaran, saya memilih untuk menafsirkannya sebagai “kebenaran rendah”, menuju Kebenaran Sejati, sat; dari tamas atau kegelapan menuju terang Jyoti. Dan dari kematian atau mrityu menuju kehidupan Abadi, Amrita.

“Makna yang terkandung dalam doa yang sangat penting ini adalah: Ya Tuhan, bimbinglah kami dari kegelapan khayalan, kebencian, dan ketidaksadaran yang mengerikan ini menuju Kehidupan Abadi, Kebenaran, Kasih, dan Kebijaksanaan.” Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Rupanya selama ini kita belum melakukan perjalanan spiritual? Kita masih saja berhenti di satu tempat saja? Berikut penjelasan hal tersebut dalam Bhagavad Gita 4:15……

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kendati demikian, setelah mengetahui Hakikat Jiwa, yang sesungguhnya tidak terlibat dalam suatu karya; para bijak sejak dulu, tetaplah berkarya semata untuk meraih kebebasan sejati atau moksa. Sebab itu, hendaknya engkau pun mencontohi mereka dan berkarya sebagaimana mereka berkarya.” Bhagavad Gita 4:15

 

Mereka yang masih terikat dengan alam benda; berkarya, bekerja, bertindak atas dorongan sifat mereka, dan karena pemicu-pemicu di luar diri.

 

LAIN TINDAKAN UMUM, LAIN TINDAKAN PARA BIJAK. Para Bijak tidak bertindak karena dorongan sifat dan pemicu di luar diri. Mereka, Para Bijak Pencari Kebenaran Sejati, Para Bijak Pencari Kebebasan Sejati, bertindak untuk meraih Kebebasan Mutlak itu sendiri.

Kita berjalan di tempat, membangun keluarga, rumah, kerajaan bisnis, dan sebagainya. Kita berhenti di satu alam, di alam dunia sekitar diri, keluarga, dan kerabat. Apa pun yang kita lakukan sesungguhnya tidak membuat kita maju selangkah pun.

Dari seorang miskin, kita menjadi kaya-raya; dari seorang bujang, menjadi ayah atau ibu, dari politisi kampung menjadi pejabat tinggi — semuanya adalah pertumbuhan, bukan kemajuan. Semuanya terjadi dalam dimensi yang sama.

Sementara itu, seorang Bijak Pencari Kebenaran Sejati atau Kebebasan Mutlak — Kebenaran Sejati yang Membebaskan — sedang maju. Ia sedang melewati dimensi di mana kita sedang bertumbuh dan beranak-pinak, untuk memasuki dimensi lain.

Kita berkarya semata untuk bertumbuh. Mereka berkarya untuk kemajuan. Ini yang membedakan tindakan mereka, perbuatan mereka dari perbuatan kita.

 

KRSNA MENASIHATI ARJUNA untuk mencontohi mereka. Krsna mengajak Arjuna untuk melangkah maju. Para kesatria di medan perang Kuruksetra pun, tidak semuanya maju. Mayoritas hanyalah bertumbuh.

Mereka yang berperang dan gugur dengan keyakinan tengah melakukan kewajiban mereka terhadap negara, atau terhadap kubu yang mereka wakili — hanyalah bertumbuh. Entah berada di kubu Pandava, maupun Kaurava. Sama-sama sekadar tumbuh.

Adalah segelintir saja yang berperang bukan karena loyalitas semu, tapi karena dharma, untuk menegakkan kebajikan dan keadilan — hanyalah mereka yang maju. Walau, jika dilihat sekilas seolah mereka sama. Sama-sama berperang.

Seorang pengusaha yang menjalankan usahanya semata untuk mencari nafkah dan membiayai diri serta keluarganya, maka ia sedang bertumbuh.

Tapi, ketika seorang pengusaha — walau berada dalam bidang yang sama — menjalankan usahanya demi perputaran roda ekonomi, demi kesejahteraan bagi semua yang terlibat dalam usahanya, maka ia mengalami kemajuan.

Singkatnya,

 

PERTUMBUHAN ADALAH INDIVIDUALISTIK, KEMAJUAN ADALAH KOLEKTIF…… Kita bertumbuh sendiri. Keluarga, kerabat, kelompok, partai, atau siapa dan apa saja yang ikut bertumbuh bersama kita, adalah perpanjangan diri kita. Mereka tidak mewakili masyarakat umum. Mereka adalah bagian dari ego kita, keluarga-“ku”; kelompok-“ku”; umat-“ku”; dan sebagainya.

Kemajuan terjadi ketika kesadaran kita meluas dan mencakup seantero alam, seluruh umat manusia. Saat itu, tiada lagi ego-diri yang mengaku, “aku sudah berbuat”. Saat itu, hanyalah kesadaran pelayanan yang ada. Apa pun yang kita lakukan adalah persembahan pada semesta.

“Para bijak di masa lalu pun, sudah berkarya dengan semangat itu,” nasihat Krsna kepada Arjuna, “kemudian, semangat kerja seperti itulah yang membebaskan mereka dari keterikatan yang menyedihkan, menyempitkan, menahan kemajuan. Wahai Arjuna, contohi mereka.

“Mereka berhasil dan engkau pun niscaya pasti berhasil!”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Dalam FB:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s