Cara Mengarungi Samudera Kehidupan Belajar dari #HanumanFactor

buku-hanuman-terbang-samudera

Hanuman, dengan memiliki Prabhu Mudrikaa atau “cincin Tuhan”, mewakili sosok manusia yang ideal yang memiliki kemanusiaan, pikiran manusia, hati manusia, serta perasaan-perasaan manusiawi.

Dengan harta yang tak ternilai harganya ini, Hanuman, sang manusia ideal, sudah siap untuk mengarungi samudera samsara, samudera kehidupan. Sesaat kemudian, sebuah pikiran pun muncul, “Bagaimana jika aku kehilangan cincin ini?” Maka, ia pun menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya.

buku-the-hanuman-factor

Cover Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dengan cincin Sri Rama terkunci dengan aman di dalam mulutmu; Tidak heran jika engkau dapat menyeberangi samudera dalam sekejap.” Hanuman Chalisa 19

 

Dengan cincin Sri Rama terkunci dengan aman di dalam mulutmu…

Sebelum berangkat untuk menjalankan misi menemukan Sita, Hanuman memohon kepada Rama untuk memberikan “surat mandat”. “Gusti, bagaimana Bunda Suci dapat mengenali hamba? Dia belum pernah melihat saya sebelumnya. Hamba mesti memiliki sesuatu dari Gusti yang dapat hamba tunjukkan kepada Bunda, sesuatu yang sangat pribadi. Setelah melihat itu, beliau tidak akan ragu lagi bahwa hamba ini adalah utusan Gusti.”

Pemikiran yang sangat cerdas.

Seorang utusan meminta surat mandat yang membuktikan bahwa dia benar-benar seorang utusan. Apakah Hanuman meminta sesuatu yang berlebihan? Tidak, karena ini seperti seorang pegawai yang meminta surat kepegawaiannya.

 

Mari kita merenungkan hal ini:

Surat mandat apa yang kita miliki sebagai manusia? Jenis surat kepegawaian apa yang kita bawa?

Surat mandat yang paling penting adalah kemanusiaan kita. Dan surat kepegawaian kita tertulis pada lapisan kesadaran mental emosional kita. Surat mandat kita adalah kemampuan kita untuk mengekspresikan kemanusian kita, perasaan-perasaan manusiawi kita.

Ketika kita melupakan hal ini, maka kita pun tersesat dalam keramaian dunia yang menggila ini. Kita tidak bisa menunaikan tugas kita, betapa pun sederhananya tugas kita.

Lapisan kesadaran mental/emosional yang kehilangan sisi kemanusiaannya serta perasaan-perasaan manusiawinya akan menjadi tidak manusiawi. Dan manusia yang bertingkah-laku tidak manusiawi telah kehilangan surat mandat kemanusiaanya.

Mudrikaa, yang diterjemahkan sebagai “cincin” di sini, juga bisa bermakna “tanda”, “stempel”, “isyarat” atau “tingkah laku”. Inilah surat mandat yang diberikan oleh Sri Rama kepada Hanuman. Bible mengatakan bahwa kita diciptakan berdasarkan citra Tuhan. Ramayana menguatkan keterangan ini. Hanuman, dengan memiliki Prabhu Mudrikaa atau “cincin Tuhan”, mewakili sosok manusia yang ideal yang memiliki kemanusiaan, pikiran manusia, hati manusia, serta perasaan-perasaan manusiawi.

Dengan harta yang tak ternilai harganya ini, Hanuman, sang manusia ideal, sudah siap untuk mengarungi samudera samsara, samudera kehidupan. Sesaat kemudian, sebuah pikiran pun muncul, “Bagaimana jika aku kehilangan cincin ini?” Maka, ia pun menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya.

 

Waktunya untuk merenung kembali

Apa pesan yang disampaikan dari kisah di atas?

Kisah di atas adalah tentang sebuah pesan yang sangat jelas untuk bertindak, dan untuk tidak membuang-buang energi membicarakan tindakan. Dengan menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya, Hanuman menutup rapat mulutnya. Ia tidak membuka mulut sampai ia tiba di Lanka dan bertemu Sita.

Hal ini penting sekali untuk diingat, yakni pelajaran untuk menyimpan rahasia. Ketika Anda menjalani sebuah misi penting, janganlah membicarakan mengenai pro dan kontra serta tetek bengek mengenai misi yang Anda emban dengan siapa pun.  Pembicaraan semacam itu hanya membuktikan ketidak-siapan dan ketidak-percayaan diri Anda. Dan kegagalan Anda sudah hampir bisa dipastikan. Apa gunanya menjalankan misi Anda kalau demikian?

Dengan menutup rapat mulutnya, Hanuman membuktikan kesiap-sediaan, kepercayaan diri, serta kebulatan tekadnya untuk menjalankan misinya. Hanuman, oh Manusia Ideal, kemenanganmu adalah sesuatu yang pasti!

Secara spiritual, dengan menyimpan cincin Tuhan di dalam mulut sama dengan “mengingat Tuhan” atau “merapalkan nama Tuhan”. Namun kita harus ingat bahwa Hanuman tidak “hanya” melakukan itu saja. Ia juga bekerja, bertindak dan terbang secepat angin.

 

Ia tidak meninggalkan kewajiban-kewajibannya

Ia tidak menyepi di hutan untuk merapalkan nama Tuhan. Ia tidak mengurung diri di dalam kamar untuk melakukan hal tersebut. Ia tidak memasuki rumah ibadah buatan manusia untuk berdoa. Ia merapalkan nama Tuhan, ia berdoa sembari menjalankan kewajibannya. Ia tidak menyisihkan waktu khusus untuk berdoa, meditasi, atau membaca mantra. Ia hidup secara meditatif dan menjadikan hidupnya sebagai ibadah.

 

Tidak heran jika engkau dapat menyeberangi samudera dalam sekejap.

Samudera di sini bukanlah Samudera Hindia, Pasifik atau Atlantik, tetapi Samudera Kehidupan. Ini adalah pengingat kita untuk melakukan yang terbaik, dan menyerahkan hasilnya kepada Keberadaan, kepada Tuhan, kepada Allah, kepada Bapa di Surga, kepada Adhi Buddha, atau Tao, kepada Brahman…

Kita semua tengah berupaya untuk mencapai pantai seberang, yang dengan sekejap dapat diarungi oleh Hanuman. Rahasia yang dimiliki Hanuman adalah “Cincin Tuhan”.

 

Hiduplah sedemikian rupa sehingga menjadi berkah bagi sesama manusia.

Hiduplah secara manusiawi maka Anda pun akan menjadi seorang manusia yang sukses, yang berhasil. Hal ini sudah dijamin, Anda tidak akan bisa salah.

Menyeberangi samudera samsara—yang secara harfiah bermakna “pengulangan” yang pada kata ini sering ditambah dengan kata “penderitaan”—artinya melampaui konflik-konflik internal, kekhawatiran, dan di atas semua itu, keraguan. Hal-hal inilah yang merupakan penghalang yang ada di jalan kita menuju sukses, menuju keberhasilan.

Kita mengalami permasalahan, gejolak serta naik turun kehidupan yang sama secara berulang-ulang. Apa yang disampaikan oleh para motivator zaman sekarang untuk menghadapi tantangan sejatinya hanyalah pengulangan dari permasalahan-permasalahan yang sama. Kita tidak menghadapi tantangan-tantangan yang baru. Kita menghadapi permasalahan lama yang sama dalam wujud yang berbeda. Inilah mengapa kita frustrasi. Inilah mengapa mereka yang tidak mampu mengatasi frustrasi semacam itu akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

 

Kita terus menerus melakukan kesalahan yang sama

Dan, kita terus terjerembab di lubang yang sama. Inilah samsara, pengulangan yang penuh penderitaan, dan membuat kita sangat frustrasi. Jika hal ini tidak berakhir, maka kita tidak akan bisa berkembang, kita tidak bisa maju. Berbuat kesalahan adalah sesuatu yang tidak diinginkan, tetapi membuat kesalahan yang sama adalah sesuatu yang sangat disesalkan. Kita tidak maju selangkah pun selama bertahun-tahun. Kita hanya berjalan, bahkan lari di tempat. Kita melakukan banyak aktifitas dan dinamis, namun kita tidak kemana-mana.

 

Terbanglah, kawan…

Mari kita terbang bersama Hanuman dan mari kita lampaui kemandegan ini. Mari kita tinggalkan tanah gersang yang lama untuk menemukan tanah-tanah baru, padang-padang rumput yang baru. Tidak ada jaminan bahwa kita tidak akan jatuh atau bahwa kita tidak akan membuat kesalahan. Tetapi kita tidak akan terjerembab di lubang kesalahan yang sama, kita akan jatuh di lubang kesalahan yang baru. Kesalahan-kesalahan baru tersebut justru akan memperkaya jiwa kita. Kita akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Hal ini sangat penting bagi pertumbuhan kita, kemajuan kita dan evolusi kita.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s