Rendahkan Ego untuk Memperoleh Kucuran Berkah #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-arjuna-menyembah-krishna

 

“Ada bukit dan ada lembah. Bukit nampaknya begitu dekat dengan langit. Lembah nampaknya begitu jauh dari langit. Namun, semakin tingginya bukit, semakin gundulnya dia. Dan lembah-lembah selalu subur. Bukit adalah arogan. la berdiri tegak lurus. la sombong. la lebih awal menerima air hujan. la lebih banyak menerima air hujan. Namun karena arogansinya, air hanya melewatinya saja. Bukit tetap juga gundul, dan lembah di bawahnya semakin subur. Bukalah diri Anda. Jadilah reseptif seperti seorang wanita. Terimalah alam ini dan syukurilah segala pemberiannya. Wanita yang membuka diri demikian, kelak akan mengandung dan akan menghasilkan keturunan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Arjuna pun pernah arogan, saat dia menjadi ksatria perkasa di atas kereta perangnya, dan menganggap Krishna sebagai sais kereta belaka………

Semoga kita tidak menjadi arogan sehingga tidak bisa memperoleh pelajaran berharga seperti  penjelasan Bhagavad Gita berikut:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Selama ini, dalam kecerobohanku, kupanggil diri-Mu, ‘He Krsna, He Yadava (Krsna, keturunan Yadu), He kawan,’ sungguh karena tidak sadar akan keagungan-Mu. Pun karena kedekatanku yang membuatku alpa (dan tidak mampu merasakan kemuliaan-Mu).” Bhagavad Gita 11:41

 

Ketika kita berada sangat dekat dengan seorang Sadguru, Pemandu Rohani Sejati, mata kita sering silau. Kita tidak mengenalinya sebagai Mahatma — seorang yang telah menyadari hakikat dirinya.

 

ALASAN LAIN ADALAH…. Karena, memang seorang seperti Krsna, seorang yang telah mencapai kesadaran Krsna tidak memiliki ego. Ia menganggap setiap orang sebagai sahabat-Nya.

Ia tidak menempatkan dirinya sebagai seorang Guru Besar yang berada di ketinggian yang tak terjangkau, sementara murid-murid berada jauh di bawahnya.

Ia adalah seorang Mitra Alam Semesta — Sang Maitreya. Siddhartha, Sang Buddha memberi indikasi tentang Buddha “Masa Depan”. Ia dekat dengan masyarakat. Ia bertindak sebagai sahabat, maka disebut Maitreya – Sahabat penuh welas-asih.

Pemahaman saya tentang Maitreya adalah sebagai sebutan bagi sebuah ide generik, sebuah konsep yang dinamis tentang “para” Buddha Masa Depan, Mind you, “Masa Depan” di masa Siddharta, berarti “Masa Kini”, masa kita, sekarang!

Arjuna berendah hati, ia menyadari kealpaannya, walau, lagi-lagi, kealpaan itu pun sesungguhnya terjadi karena sifat Krsna sendiri, yang memang menempatkan dirinya sebagai sahabat.

 

“Atas segala perbuatanku yang tidak sopan; saat bersenda gurau; saat jalan bersama; duduk, makan, bahkan berebahan bersama; baik ketika kita berdua saja, maupun bersama yang lain; kuhaturkan permintaan beribu-ribu maaf pada-Mu, wahai Acyuta (Krsna, Hyang Tak Ternoda).” Bhagavad Gita 11:42

 

Permohonan maaf Arjuna tidak berarti apa-apa bagi Krsna. Arjuna pun mengetahui hal itu, maka ia menyebut-Nya Acyuta — Hyang Tak Tersentuh oleh Noda.

 

PERMINTAAN MAAF ARJUNA ADALAH penting bagi Arjuna sendiri. Jika kita ingin mengisi ember kesadaran kita dengan Air-Berkah, maka posisi ember mesti di bawah keran, di bawah ledeng. Kita tidak bisa menempatkan ember-diri di atas keran, di atas ledeng-Krsna.

Keran-Anugerah Krsna mengalir terus. Ia pun tidak terpengaruh, jika kita menempatkan ember-diri kita; ego kita di atas-Nya. Adalah kita sendiri yang merugi. Berkah-Nya mengalir terus, tapi ember kita tetap kosong.

Menempatkan diri di bawah, menundukkan kepala ego bukanlah untuk keperluan Krsna. Tidak. Semua itu adalah untuk kepentingan diri kita sendiri, Arjuna menyadari betul hal itu, maka ia menunduk dan menyampaikan permohonan maafnya.

Dalam kecerobohannya dan karena ia kurang sadar, selama itu, Arjuna menempatkan dirinya sejajar dengan Krsna. Maka, Krsna pun melayaninya di leveI itu. Sebagai konco, teman biasa. Air-Berkah Krsna mengalir, tapi ember-ego Arjuna tidak terisi. Sekarang ia menempatkan ember-dirinya di bawah Keran-Anugerah, Ledeng-Berkah, dan embernya mulai terisi.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s