Mengaku Melihat Hantu Menjelang Tengah Malam? Mengapa?

buku-bhaja-govindam-hantu

“Aneh,” pikir dia, “ada keanehan sekitar sini. Maka ia memejamkan mata, duduk bersila, dan mulai berupaya untuk mengurangi siklus napasnya… Maka terdengarlah suara rintihan dan tangisan….. Biasanya suara-suara itu baru terdengar menjelang tengah malam.

Kenapa banyak orang mengaku melihat hantu sekitar tengah malam? Apa merekabaru keluar dari kuburan pada saat itu? Tentu saja tidak. Hantu adalah roh manusia yang gentayangan. Mereka mati dalam ketidaksadaran, masih banyak obsesi dan keinginan, termasuk keinginan untuk menikmati yang bukan-bukan setelah kematian. Keinginan-keinginan itulah yang membebani jiwa mereka dan memperlambat evolusi berikutnya. Ditambah dengan pemahaman yang keliru tentang kematian, mereka bisa “terjebak” dalam satu masa selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

…………….

Cover Buku Bhaja Govindam

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sekian banyak roh yang gentayangan karena satu atau lain hal. Dan, mereka gentayangan sepanjang “hari manusia”, dan bukan di jam-jam tertentu saja. Kita tidak merasakan kehadiran mereka, karena napas kita terlalu cepat. Bila kita bernapas di atas 4 siklus per menit (biasanya 15-18 siklus per menit). Kita tidak dapat merasakan kehadiran mereka.kehadiran mereka dirasakan saat napas kita berkurang dari 4 siklus. Dengan itu, kita baru merasakan energi mereka. Untuk berkomunikasi dengan mereka, harus di bawah 1 siklus per menit. Kemudian dengan cara-cara tertentu, seseorang bisa dengan mudah berkomunikasi dengan mereka.

Ada kalanya saat terjaga di tengah malam, siklus napas kita berkurang secara alami, maka energi mereka pun langsung terasa. Itu sebabnya banyak tradisi menganjurkan doa dan sebagainya pada saat-saat seperti itu. Dengan berdoa atau melakukan apa saja, siklus napas kita akan langsung bertambah, dan kita pindah gelombang. Maka yang “gentayangan” tak terasa lagi kehadirannya. Padahal di gelombang lain, mereka tetap ada. Mereka tidak ke mana-mana.

So, Gokarna mendengar suara rintihan, jeritan dan tangisan. Dia mengenali suara itu sebagai suara Dhundhakari. Ia berusaha untuk bicara dengan Dhundhakari, dengan menggunakan gelombang pikiran saja, tanpa suara, “Dhundhakari, kaukah itu?”

Untuk berkomunikasi dengan roh-roh yang gentayangan, anda harus membuka diri, mengundang mereka. Mereka tidak bisa berkonikasi tanpa undangan. Dan, mereka hanya berkomunikasi lewat pikiran……. Mereka tidak bisa menyusupi badan Anda. Apa yang disebut “kesurupan” bukanlah fenomena fisik. Tidak ada roh yang bisa 1 memasuki badan orang yang masih hidup. Roh hanya berinteraksi lewat gelombang pikiran. Kemudian otak Anda merekam dialog itu dan Anda merasa mendengarnya. Seseorang bahkan bisa bertindak sesuai dengan apa yang didengarnya, lagi-lagi itu bukanlah karena dia tersusupi, tetapi karena memang “ingin” melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.

Celakanya, sejak lahir, keinginan untuk membunuh pun sudah ada dalam otak manusia. Percaya atau tidak percaya sama teori Darwin somehow kita mewarisi insting hewani seperti itu dari evolusi panjang. Itu sebabnya, lewat meditasi kitajustru membersihkan otak. Deconditioning dalam bahasa meditasi, dan detoksifikasi dalam bahasa media—dua-duanya sama dan untuk memperbaiki kualitas otak. Kualitas otak tidak bisa diperbaiki dengan apa yang disebut “optimalisasi” otak. Tidak bisa dengan sekadar membaca buku atau diberi perintah, “Janganlah kau membunuh”.

Keinginan untuk membunuh dan perangkat otak yang dapat mewujudkan keinginan itu harus diolah sedemikian rupa, sehingga keinginan untuk membunuh lenyap, dan perangkat lunak otak pun bersih dari program bunuh-membunuh. Kemudian, pemicu-pemicu dari luar pun tak mampu memicu kita untuk melakukan pembunuhan.

Bagaimana seseorang bisa menjadi teroris? Karena insting-insting hewani di dalam dirinya dipertahankan. Tidak ada upaya untuk membersihkannya. Kisah-kisah yang disuguhkan kepadanya lebih banyak bercerita tentang permusuhan, pertengkaran dan kebencian antar kelompok, “Mereka adalah penjahat, dari dulu juga demikian. Coba buka bukumu, baca, ada kan cerita tentang kejahatan mereka.”

Oleh karena itu bisa saja seseorang bersumpah bahwa dia tidak terlibat dalam aksi teror. Mungkin dia pun tidak sadar bahwa pendidikan yang diberikannya kepada anak-anak kecil di asramanya sudah cukup untuk mencetak teroris.

Pembunuhan hanyalah puncak dari kekerasan. Memaksakan kehendak diri sudah merupakan kekerasan. Menganggap diri benar dan semuanya salah pun adalah kekerasan.

Dari teror dan teroris, kita harus kembali ke rumah hantu dalam kisah ini…. “Dhundhakari, Dhundhakari, kaukah itu?” Gokarna berusaha untuk membuka dialog dengan hantu yang sudah hampir dapat dipastikan sebagai roh Dhundhakari.

“Ya, ya, Gokarna, Saudaraku…. Aku Dhundhakari. Saudaramu yang bodoh, tolol, tidak sadar…”

Dhundhakari memang sejak dulu ingin berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup, tetapi tidak bisa. Karena memang tidak ada yang membuka diri untuk berkomunikasi dengannya.

Banyak paranormal dan dukun mengaku bisa berkomunikasi dengan roh, padahal mereka hanya membohongi klien mereka. Bila betul-betul berhadapan dengan roh, bisa jadi mereka ngompol.

Dhundhakari bercerita panjang lebar tentang kejadian-kejadian yang menimpa dirinya, ”…. aku sadar semuanya juga karena ulahku sendiri. Karena ketidaksadaran diriku. Gokarna, bantulah aku…… bagaimana mengakhiri penderitaan ini? Sepertinya aku harus melewati masa ini, tetapi tidak bisa…… tidak mampu. Apa yang harus kubuat? Aku sudah mati atau masih hidup—itu pun tidak kuketahui. Aku berusaha bicara, tak ada yang mendengarku. Kemudian, bila aku merintih, tiba-tiba mereka mendengar. Lalu, aku merintih lebih kcras lagi, supaya mereka bisa menolongku, tetapi mereka malah lari, menjauhiku. Penderitaan ini sungguh sangat berat bagiku, Gokarna.”

Gokarna merasa kasihan, tetapi apa yang harus dia lakukan? Bagaimana membantunya? Dhundhakari sudah mati, sudah tidak berbadan…. Jelas sudah tidak dapat melakukan sesuatu yang bisa dilakukannya saat masih berbadan. Lalu apa yang harus Gokarna lakukan?

“Bisa Gokarna, kau bisa membantu dia.” Keberadaan membisiki Gokarna.

Suara itu pun dikenali Gokarna. Dari kelembutannya, ia sudah tahu siapa pembicaranya. “Apa yang dapat kulakukan?”

“Walau tak berbadan, roh masih bisa mendengar, masih bisa melihat, mencium. Bahkan bisa merasakan panas dan dingin. Semua itu karena sisa-sisa pancaindra yang pernah dimilikinya. Sebelum itu pun lenyap dan penderitaannya bertambah, gunakan apa yang tersisa dalam dirinya unruk melampaui penderitaannya.”

Tidak perlu pcnjelasan lebih lanjut. Gokarna memahami maksud Sang Keberadaan. Maka sclama sebelas hari, nonstop ia menyanyikan keagungan dan kemuliaan Keberadaan bagi Dhundhakari.

Irama dan nada tertentu ditambah syair yang memiliki arti, dapat dengan mudah mempengaruhi roh-roh gentayangan. Sebab itu dalam hampir semua tradisi ada hari-hari tertentu di mana mereka yang masih hidup mendoakan mereka yang sudah meninggal. Adalah keliru bila dianggap yang masih hidup mendoakan mereka. Mereka tidak berdoa, tetapi mendoakan. Dan apa salahnya mendoakan mereka yang sudah mendahului kita? Terasa lucu bila ada larangan untuk mendoakan. Perkara berdoa dan mendoakan haruslah masalah pribadi. Bagaimana seseorang bisa menilai doa orang lain, bila ia tidak mampu mengabulkan doanya? Bukankah Yang Maha Mampu mengabulkan doa hanyalah DIA saja? Gusti Allah, maafkan kekhilafan kami. Kekhilafan kami yang terbiasa menilai sesama makhluk-Mu.

Sampaikan pesan Anda lewat prosa dan sampaikan pula lewat puisi, lewat syair, lewat lagu—kemudian amati pengaruhnya, hasilnya……..

Yang disampaikan lewat puisi, lewat syair dan lewat lagu lebih “masuk”! yang diampaikan lewat prosa acap kali menjadi  bahan pembahasan saja.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s