Bertindaklah Sebaik Mungkin Perkara Hasil Banyak Faktor yang Mempengaruhi #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-bung-karno-nishkama-karma

“Memang ada Hukum Aksi-Reaksi, atau: Hukum Sebab-Akibat

“Setiap aksi pasti menghasilkan reaksi. Setiap sebab, sudah pasti ada akibatnya. Tapi, diantara aksi dan reaksi, diantara sebab dan akibat – masih banyak faktor lain yang bekerja.

“Saya telah menanam benih, tapi bagaimana memastikan hasil panennya seberapa? Saya boleh, dan bisa menjaga ladang saya. Saya bisa mengatur jadwal, dan apa saja yang saya lakukan… Tapi, bagaimana mengatur musim, dan turunnya hujan?

“Kala mengendarai mobil di jalan raya, saya boleh mematuhi semua peraturan, dan sangat berhati-hati… Tapi, jika ada pengendara mabuk yang menabrak mobil saya – apa yang mesti saya lakukan?

“Kita boleh berusaha sekuat tenaga untuk menjadi warganegara yang baik, tapi bagaimana memastikan sikap sesama warganegara dan para pejabat yang menjalankan pemerintahan, supaya kebaikan kita tidak diartikan sebagai kelemahan?Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramed ia Pustaka Utama)

Itulah sebabnya Bhagavad Gita 2:47 menyampaikan “……..kau hanyalah dapat mengendalikan karyamu, perbuatanmu, apa yang kau lakukan; kau tidak dapat mengendalikan hasil dari karyamu, perbuatanmu. Sebab itu, janganlah menjadikan hasil sebagai tujuanmu berkarya; janganlah menjadikan hasil sebagai pendorong atau motivasi untuk berkarya……. Sebagaimana penjelasan berikut:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kau berhak atas, dan kau hanyalah dapat mengendalikan karyamu, perbuatanmu, apa yang kau lakukan; kau tidak dapat mengendalikan hasil dari karyamu, perbuatanmu. Sebab itu, janganlah menjadikan hasil sebagai tujuanmu berkarya; janganlah menjadikan hasil sebagai pendorong atau motivasi untuk berkarya, untuk berbuat sesuatu. Jangan pula berdiam diri dan tidak berkarya.” Bhagavad Gita 2:47

 

Ayat ini sangat sering dikutip. Bahkan ayat ini juga merupakan favorit Bapak Bangsa kita, Soekarno, dan para pendiri Republik kita yang lain seperti Dr. Radjiman, ketua Boedi Oetomo; Sejarawan Sanoesi Pane; dan, Bapak Koperasi Hatta.

 

SEDIKIT PENJELASAN TENTANG ISTILAH ADHIKARA – yang biasanya dijelaskan sebagai “hak”. Bisa, tapi pengertiannya bukan itu saja. Adhikara juga digunakan dalam konteks “kendali” — maka sekarang pengendali disebut Adhikari.

Jika kita menerjemahkan adhikara sebagai hak saja, maka, seolah kita tidak berhak atas apa yang diperoleh dari pekerjaan kita. Mau-tak-mau, mau bilang berhak atau tidak berhak, kita tetap menerima akibat, konsekuensi dari setiap perbuatan kita.

Dalam buku kita, “Karma Yoga bagi Orang Modern”, kita sudah membahas ayat ini secara panjang lebar. Saya tidak akan mengulanginya. Pun nanti dalam penyelaman selanjutnya, kita masih akan sering mendiskusikan dan menyelami konsep ini lebih dalam lagi.

 

UNTUK ITU, DARIPADA MEMBAHAS, marilah kita melakukan test, uji-coba. Cobalah selama satu minggu saja. Kerja keras, tetapi jangan buang waktu untuk memikirkan hasil akhirnya. Anda akan kaget bahwa hasilnya akan jauh lebih baik. Anda juga akan merasakan bahwa Anda menjadi lebih efisien. Pekerjaan yang tadinya membutuhkan 12 jam, sekarang hanya membutuhkan 8 jam.

 

JANGAN PERCAYA SAYA BEGITU SAJA – Silakan mencobanya sendiri. Hal ini terjadi, karena dengan bekerja tanpa memikirkan hasil – kesadaran Anda lebih fokus pada pekerjaan.

Mind atau gugusan pikiran dan perasaan pun tidak bercabang. Seluruh energi mengalir pada pekerjaan. Sehingga Anda memperoleh hasil yang jauh lebih baik.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Tambahan Penjelasan dari buku Karma Yoga bagi Orang Modern:

Dasar-Dasar Karma Yoga

“Sebaik-baiknya tindakan kita, masih belum ‘tepat’ jika semangat dibaliknya adalah kepentingan diri, dan bukanlah kepentingan bersama. Dan, setepat-tepatnya tindakan kita, masih belum ‘mulia’ jika semangat dibaliknya sekedar kepentingan saja.  Entah kepentingan diri, atau kepentingan bersama.  “Bhagavad Gita menempatkan semangat pelayanan dan kerelawanan dibalik seluruh tindakan yang dapat disebut ‘mulia’:

…………………..

“Berkarya dengan semangat Pelayanan dan Kerelawanan itulah yang disebut semangat manembah atau ‘sembahyang’ oleh Bhagavad Gita. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan semangat itu menjadi persembahan kepada Hyang Maha Kuasa. Jadi, kita tidak lagi berkarya demi kepentingan diri, keluarga, kelompok, negara, dunia, atau apa saja – tetapi berkarya dengan semangat persembahan. Ketika itu yang terjadi, maka, “puas dengan apa yang kau lakukan, alam semesta akan memenuhi segala kebutuhanmu.”

……………….

“Semangat berkarya tanpa memikirkan hasil akhir ini disebut ‘Nishkaama Karma’ oleh Mahatma Gandhi. Adapun, sebutan itu kemudian diterjemahkan sebagai ‘Selfless Service’ atau ‘Berkarya tanpa Pamrih.’

‘Sebutan ini telah membingungkan banyak orang yang tidak familiar dengan filsafat Timur. Apalagi ketika ‘Berkarya tanpa Pamrih’ ditafsirkan sebagai ‘Berkarya tanpa Motivasi’. Maka, para motivator modern pun tersinggung:

 

“Apa Mungkin Berkarya tanpa Motivasi?”

“Apakah Krishna sungguh-sungguh menasihati Arjuna untuk berkarya tanpa motivasi? Nasihat ini, sebagaimana barangkali kita masih ingat, diberikan di medan perang Kurukshetra – ketika Arjuna berhadapan dengan sepupunya sendiri demi….. Nah, ‘demi’-nya ini yang akan kita bahas sejenak lagi….

 

“Krishna Terasa Sangat Membingungkan!

“Sesungguhnya ‘kebingungan’ yang dirasakan itulah membuat Krishna masih ‘hidup’ – masih relevan! Kebingungan kitalah yang mengabadikan pesannya – karena kebingungan kita abadi adanya.

Krishna menerjemahkan Karma Yoga sebagai ‘Penyelarasan Diri dengan Semesta lewat Karya tanpa Keterikatan’. Hmmm, sungguh sangat cerdik! Karena, dengan menyelaraskan diri dengan semesta, kita sudah tidak perlu lagi memikirkan hasil dari upaya kita. Untuk apa pula terikat dengan hasil? Hasil itu sudah pasti ada, sudah pasti diperoleh. Penyelerasan diri dengan semesta telah menjamin hasil kita. Untuk apa memikirkan sesuatu yang sudah pasti?

Hampir tiga ribu tahun setelah Krishna, Isa, Sang Masiha akan mengatakan hal yang sama. Pesannya sama – Tanpa Keterikatan!

“Dunia ini ibarat jembatan, lewatilah, jangan membuat rumah diatasnya. Ia yang berharap untuk hari esok, bisa juga berharap untuk keabadian. Sementara, dunia ini hanyalah bertahan  selama satu jam, gunakanlah waktu itu untuk berdoa. Segalanya yang lain tidak pasti.”

………………………

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s