Om Mani Padme Hum: Keramaian Dunia Tak Pengaruhi Jiwa #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-om-mani-padme-hum-buddha

Mind sangat licik, maka tidak heran jika Buddha bicara tentang pelampauan mind.

“Intinya, selama mind belum terkendali, pelampauan adalah mustahil. Pertanyaannya: Bagaimana mengendalikan mind? Jawabannya: dengan berupaya mengendalikannya secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif.

“Untuk itu ada dua jalur yang ditempuh:

“Pertama, adalah jalan yang umumnya ditempuh para pertapa. Mereka meminimalkan segala macam kegiatan, dengan menarik diri dari keramaian, dan menjadi kecil…… kecil, kecil, dan makin kecil. Hingga terlepas dari belenggu mind yang menjeratnya.

“Kedua, adalah jalan yang dapat ditempuh oleh keramaian. Oleh kita semua. Berada di tengah keramaian dunia, tetapi berkesadaran di atas keramaian. Kesadaran diperluas terus, sedemikian luas sehingga belenggu mind putus, patah—dan diri kita bebas.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 5:10 tentang bagaimana Hidup di tengah keramaian dunia; badan dan indra berfungsi sesuai dengan fungsi masing-masing, tapi Jiwa tidak tercemarkan.

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Seorang yang mempersembahkan segala perbuatannya kepada Brahman — Jiwa Agung; dan bebas dari segala keterikatan — tidak lagi tersentuh oleh dosa-kekhilafan, sebagaimana daun bunga teratai tidak terbasahkan oleh air di kolam.” Bhagavad Gita 5:10

Lahir, tumbuh, dan hidup di tengah lumpur-dunia, kita pun bisa tidak tersentuh oleh dosa-kekhilafan, sebagaimana bunga teratai dan daunnya tidak ikut menjadi kotor karena dan oleh lumpur yang menghidupinya. Bahkan air pengaruh dunia dan lingkungan pun tidak membasahi kita.

 

APAKAH MUNGKIN HIDUP SEPERTI ITU? Sangat mungkin. Hidup di tengah keramaian dunia; badan dan indra berfungsi sesuai dengan fungsi masing-masing, tapi Jiwa tidak tercemarkan.

Bunga teratai atau lotus, adalah simbol dari kehidupan seorang bijak. Dalam tradisi-tradisi Timur, teratai atau lotus adalah simbol pencerahan, hidup berkesadaran.

Para Lama, petapa dan pelaku berbagai jenis laku spiritual di dataran tinggi Tibet senantiasa mengingatkan diri mereka akan hal ini dengan mengulang-ulanginya sepanjang hari………

 

OM MANI PADME HUM“Sembah Sujudku kepada Mutiara Kesadaran Murni yang berada di tengah bunga Padma, Teratai Pencerahan.”

Mantra yang diulang-ulang terus-rnenerus ini bukanlah mantra biasa, bukanlah ucapan biasa — tetapi, adalah reminder untuk mengingatkan para pengucapnya. “Hiduplah bagaikan teratai. Tetap bersih, suci, walau berada di tengah lumpur.

“Upayakan pencerahan sekarang, dan saat inijuga. Di tengah keramaian dunia. Tidak perlu lari ke mana-mana. Mutiara Kesadaran Murni, Brahman, Jiwa Agung, Gusti Pangeran, Buddha — apa yang sedang kau cari dapat diperoleh di dalam dirimu sendiri. Temukan!”

Hidup dengan penuh kesadaran seperti ini, niscaya dosa-kekhilafan tidak dapat memengaruhi kita. Hidup menjadi sangat alami. Mulut bekerja sesuai dengan fungsinya, kadang jika ada toksin-toksin, racun-racun yang ikut masuk bersama makanan, maka organ-organ di dalam tubuh akan memisahkannya dan mendorongnya keluar lewat usus besar dan Iubang anus. Kita tidak teracuni.

Hidup berkesadaran, hidup alami — dan tiada lagi kekhawatiran apa pun bagi kita.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s