Hukum Evolusi Bagi Semua Makhluk dan HuKum Sebab Akibat bagi Manusia

buku-shambala-hukum-evolusi-dan-sebab-akibat

“Hukum reinkarnasi, sebab-akibat, evolusi, semua ada di mind. Oleh karenanya, bebaskan dirimu dari mind. Memang tidak segampang dikatakan, tetapi tidak mustahil. Kalaupun hanya satu detik sebelum saat kematian kita bisa memisahkan diri sepenuhnya dari mind, itu sudah cukup. Selesai sudah permainan sandiwara yang tak berkesudahan ini.

Menjelang ajal tiba, kemungkinan ke sana besar sekali, karena seluruh fungsi organ tubuh, mulai berkurang. Mind sendirian, sulit mengekspresikan diri, sehingga relatif Iebih mudah untuk membcbaskan diri dari cengkeramannya. Puji Tuhan, Alhamdulillah, bila pelatihan seumur hidup melahirkan secuil kesadaran pada saat ajal tiba. Karena, bila secuil kesadaran itu tidak ada, maka mind akan cepat-cepat mencari wadag baru untuk mengekspresikan diri.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut penjelasan hukum evolusi bagi mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan dan tambahan hukum sebab-akibat bagi manusia dalam buku Shambala……….

buku-shambala

Cover Buku Shambala

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Sudah waktunya kamu mendapatkan sedikit penjelasan tentang Shambala, karena sesungguhnya Shambala tidak dapat dijelaskan, hanya dapat dirasakan.”

Dan Yeshudas mulai menyingkapkan misteri Shambala. “Shambala ibarat komputer raksasa yang menyimpan cetak biru setiap manusia. Ya, setiap manusia. Bukan setiap makhluk. Karena, manusia adalah kelanjutan dari bentuk-bentuk kehidupan yang lain. Dari mineral sampai tumbuh-tumbuhan dan jenis kehidupan dengan sel tunggal—semuanya dalam perjalanan menuju ‘kemanusiaan’—duduklah Joseph.”

Rumput yang mereka duduki terasa empuk sekali. Joseph bertanya, “Maksud Guruji, semacam reinkarnasi……? Kita pernah menjadi mineral, lalu tumbuh-tumbuhan, kernudian amoeba…….”

Yeshudas memotong Joseph. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, “Manusia memiliki memori dari awal mulanya alam semesta. Kelak, akan terjadi perkembangan-perkembangan baru dalam ilmu medis. Rekayasa genetika, kloning, biokimia dan pemetaan DNA manusia akan membuktikan hal itu. Evolusi merupakan hukum alam. Tidak ada satu pun bentuk kehidupan yang tidak mengalami evolusi. Sebelum Darwin rnenemukan teori evolusi, para yogi di India sudah menemukannya.

“Ketika Timur Tengah masih harus menjelaskan ‘kejadian’ dunia dengan cerita-cerita metaforis tentang Adam dan Hawa, manusia India sudah bicara tentang evolusi. Dan mereka bicarakan dengan gamblang. Oleh karena itu, rnereka pula yang mulai memikirkan—‘what next’. Setelah berevolusi dan menjadi manusia, lalu apa lagi? Apakah evolusi jiwa berhenti? Temyata tidak.

Manusia lahir, menjadi tua dan mati. Berarti, semasa hidupnya ia berevolusi terus. jika tidak, ia akan tetap kecil, tidak menjadi remaja, tidak menjadi tua dan tidak mati. Dan, jika sampai pada kematian ia masih berevolusi terus. Jadi kematian pun merupakan bagian dari evolusi. Lalu, apa yang terjadi setelah kematian?”

“Ya, apa yang terjadi setelah kematian?”—Joseph mengulangi pertanyaan Yeshudas.

“Semasa hidupnya, manusia harus mengindahkan hukum alam yang lain. Hukum sebab-akibat. Ia dijerat oleh dua hukum. Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat.”

“Hanya manusia yang dijerat oleh Hukum Sebab Akibat? Makhluk-makhluk lain tidak?”—tanya Joseph.

“Ya, makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum—Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka.”

Joseph telah membaca sekian banyak buku tentang reinkarnasi. Tetapi tidak satu pun buku yang menjelaskan hal ini, “Something new Guruji. Sebelumnya, saya pikir Hukum Sebab-Akibat berlaku sama bagi setiap makhluk.”

“Tidak Joseph, tidak demikian. Karena Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’—perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya, Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus—tidak pernah mundur, tidak pernah merosot.

“Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, anrara panas dan dingin.”

“Berarti mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang tidak memiliki mind.”—ujar Joseph.

“Tidak, mereka hanya memiliki thought—satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind.”

Yeshudas melanjutkan, “Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptommind, tetapi masih belum cukup berkernbang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya.”

“Lalu menurut apa yang saya baca, tujuan meditasi adalah membebaskan manusia dari mind. I am confused Guruji—aku bingung. Kalau memang harus membebaskan diri dari mind, kenapa lahir sebagai manusia?”—tanya Joseph.

“Membebaskan diri dari mind tidak merupakan kernetosotan. Tidak bertentangan dengan Hukum Evolusi. Justru mengantar manusia ke tingkatan berikutnya. Sekian banyak jalan menuju Kota Kulu. Kemarin, kita pun melewatinya. Ada jalan dari Shimla, ada juga dari Dharamshala dan masih banyak jalan yang lain. Tetapi, dari Kulu ke Manali—hanya ada satu jalan.

“Jalan menuju Kulu yang sekian banyak jumlahnya itu mewakili thought, satuan pikiran. Jalan dari Kulu ke Manali, yang satu adanya itu mewakili mind, pikiran yang sudah mengkristal. Tetapi, begitu sampai di Manali, jalan itu pun harus dilepaskan. Kegunaan jalan hanya sebatas sampai mengantar kita ke Manali.

“Kegunaan mind hanya sampai kira ’menjadi’ sadar. Dan sesungguhnya, untuk ‘mencapai’ kesadaran, mind harus dilampaui, sebagaimana kita melampaui perjalanan dari Kulu sampai Manali.”

“Dan setelah mind terlampaui, setelah kita sampai di Manali, what next?“—tanya Joseph.

Shambala… Setelah sampai di Manali, ya Shambala. Setelah mind terlampaui ya Shambala. Lihat Joseph, pintu masuk kamu sudah terbuka……..”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s