Jangan Salahkan Pemicu! Bila Jiwa Tidak Mau, Tindakan Jahat Tidak Bisa Kita Lakukan #Yoga

buku-bhagavad-gita-jiwa-yg-menentukan

“Vasana adalah keinginan-keinginan atau obsesi-obsesi masa lalu, yang belum terpenuhi, yang mewujud sebagai kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan saat ini.” Dikutip dari Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

“Kalau pada suatu saat muncul kecenderungan berbuat maksiat, sebenarnya Jiwa bisa mengendalikan dan perbuatan maksiat tidak jadi dilakukan. Kalau perbuatan maksiat dilakukan berarti Jiwa sudah merestui hal tersebut, merestui benih pikiran mengikuti kebiasaan atau kecenderungan dalam diri. Apakah Jiwa bisa menghalangi tindakan maksiat?”

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.24 berikut:

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Terkendali/Terbawa oleh berbagai vasanas atau keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang belum tercapai, atau tepatnya bergabung dengannya—ia (citta atau benih pikiran dan perasaan) melibatkan diri dalam beragam aktivitas bagi yang (terasa sebagai entitas) lain.” Yoga Sutra Patanjali IV.24

 

Kita sering mengeluh atau mencari pembenaran atas kelemahan diri dengan berdalih, “Sepertinya ada yang mendorong saya, ada kekuatan lain.” Tidak, tidak ada kekuatan lain di Iuar.

 

CITTA  ATAU BENIH PIKIRAN SERTA PERASAAN, yang bergabung dengan vasanas atau keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang belum terpenuhi. Pengertian citta dikendalikan atau didorong adalah karena citta juga mau bergabung. Jika ia tidak mau bergabung, vasana sekuat apa pun tidak dapat memaksanya.

Setuju?

Jangan cepat-cepat setuju. Ya, memang demikian. Tapi, di permukaan saja. Di balik itu, sesungguhnya, seperti yang telah kita ulas sebelumnya, citta memiliki prabhu, juragan, majikan. Yaitu, Jiwa.

Jadi, Pengendali yang sebenarnya adalah Jiwa. Jika citta dibiarkannya ber-kongsi-an dengan vasana, kemudian menyerahkan badan dan indra untuk benindak, maka itu pun, jika tidak seizin, minimal sepengetahuan Jiwa.

Dengan membiarkan citta bergabung dengan vasana, kemudian bertindak, sesungguhnya Jiwa sudah merestui tindakan itu.

Berarti, kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, “Seolah aku kesetanan dan didorong untuk berbuat maksiat,” atau berbuat apa saja. Perbuatan baik atau buruk, ujung-ujungnya kunci-pengendali ada pada Jiwa.

JIKA JIWA MENGHENDAKI, maka seberapa pun vasana atau keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang tersisa dari masa lalu, la bisa memerintah citta atau benih pikiran dan perasaan untuk tidak bergabung dengannya. Dengan demikian, ia bisa menghalangi terjadinya kongsi atau partnership antara citta dan vasana.

Apa bisa?

Sangat bisa. Bahkan kita sudah sering melakukannya, walau secara tidak sadar. Kita tidak mengikuti nafsu kita sepanjang hari. Kita tidak selalu terbakar oleh bara nafsu. Saat itu, adalah Jiwa yang memutuskan agar citta menghindari kerjasama dengan vasana.

Sekarang persoalannya adalah bagaimana memastikan supaya Jiwa tidak pernah terlena, dan citta tidak tergoda untuk melakukan kerja sama dengan vasana. Jawabannya sudah diberikan oleh Patanjali dalam salah satu sutra sebelumnya.

Masih ingat? –

Dengan membiarkan citta bertransformasi menjadi buddhi—inteligensi. Saat itu, vasana sekuat apa pun tak akan mampu memengaruhinya. Buddhi adalah ibarat bayang-bayang Jiwa. Ia selalu dalam keadaan jaga, ia ibarat Kesadaran Jiwa “saat berbadan”.

Sebab itu, kembangkan buddhi, jadilah seorang Yogi!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s