2 Karakter Utama: Yang Kondusif dan Yang Tidak bagi Peningkatan Kesadaran #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-asura-dan-daiva

“Rokok sudah terbukti merusak kesehatan si perokok sendiri, merusak kesehatan siapa pun yang secara tidak langsung menghirup asap rokok, merusak lingkungan, dan yang terakhir ini penting sekali namun mungkin tidak pernah kita perhatikan. Kebiasaan merokok melemahkan jiwa si perokok. Rokok mencandukan. Ya, rokok itu candu.

“Jangan mengira rokok itu lebih baik daripada narkotika. Pengaruhnya terhadap jiwa pemakai sama saja. Bahkan barangkali rokok justru lebih berbahaya daripada narkotika. Rokok Merusak Kesehatan secara Perlahan. Narkotika merusak kesehatan dengan kecepatan superjet. Itulah perbedaannya dengan rokok bagi kesehatan fisik. Tapi, bagi kesehatan mental/emosional, pengaruh rokok lebih buruk daripada narkotika.

“Anda bisa membebaskan diri dari kebiasaan narkoba dalam waktu yang jauh lebih singkat, asal Anda sadar. Dan, biasanya kesadaran itu datang sendiri, karena badan Anda sudah tidak keruan. Berbeda dengan rokok, pengaruhnya tidak secepat dan sedahsyat narkoba. Ia merusak Anda secara perlahan-lahan. Kerusakan yang terjadi pun perlahan. Anda tidak dapat mendeteksinya, sehingga kesadaran untuk melepaskannya tidak muncul.” (Krishna, Anand. (2012). Javanese Wisdom, Butir-Butir Kebijakan Kuno bagi Manusia Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Gampangkah berhenti dari merokok? Tidak? Kebiasaan lama kebanyakan mengalahkan pengetahuan baru. Bukan hanya rokok, tetapi banyak tindakan yang jauh lebih tidak terpuji yang tetap kita laksanakan. Mengapa? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:

 

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Setiap orang secara a priori (tanpa pengalaman empiris — a. k.) percaya bahwa dirinya bebas untuk bertindak semaunya, dan bahwasanya setiap saat ia bisa memulai hidup baru……. Namun, secara a posteriori (lewat pengalaman empiris — a.k), dalam pengalaman hidup yang nyata, ia pun menyadari bila dirinya tidak bebas……. bahwasanya walau sudah membuat berbagai resolusi dan refleksi; tetaplah ia tidak mampu mengubah dirinya. Sejak awal hingga akhir hidupnya, ia tetap mesti menjalani peran yang barangkali tidak disukainya.” Arthur Schopenhauer (The Wisdom of Life, 1851)

 

Berdasarkan samskara atau “hikmah bawaan” dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia:

 

SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA.

Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”.

Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda.

Umumnya Daiva atau Sura dikaitkan dengan kemuliaan, dan Daitya atau Asura dengan ketidakmuliaan. Dari perspektif kita, dari sudut pandang kita memang demikian. Maka, kita diharapkan mengenal kedua-duanya, sehingga dapat memilah dan memilih apa yang menunjang Jiwa. Yakni, karakter atau kecenderungan Daiva atau Sura.

Namun, bagi Gusti Pangeran, dari perspektif Tuhan — kedua karakter atau kecenderungan sifat itu sama pentingnya. Tanpa sifat Daitya atau Asura, tanpa adanya Jiwa-Jiwa yang dalam ketidaktahuannya, mengikat diri dengan dunia benda, Teater Tuhan akan tutup. Keterikatan itulah yang membuat dunia kita ramai dan bising. Tanpa keterikatan, panggung sandiwara sudah pasti  kosong.

Cukup kiranya ocehan saya, saatnya mendengarkan wejangan Krsna…….

 

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

 

Krsna sedang menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran. Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan semua itu.

 

TIDAK DEMIKIAN DENGAN KITA, yang kemungkinan besar, tidak memiliki saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s