Dunia ini Ibarat Jembatan, Lewatilah Tanpa Membangun Rumah di Atasnya!

buku-yoga-sutra-patanjali-jembatan

“Seperti halnya semangat, kehendak, keinginan, kemauan, keberanian; gairah pun tidak datang dari luar. Ia berasal dari dalam diri kita sendiri. Segala sesuatu di luar—entah itu apel, wanita, pria, kedudukan, kekayaan, atau apa saja—menjadi ‘pemicu’ ketika kita membuka diri untuk ‘terpicu.’ Jika kita menolak dan tak mau terpicu, maka apel tidak berubah menjadi apa pun.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Ketika riak atau “benih-ketertarikan” kita pada sesuatu—entah seseorang atau salah satu benda di Alam Benda ini—tidak berlanjut, tidak berbuah, tidak “bertunas”, maka tidak terjadi apa-apa. Tetapi, ketika “benih-ketertarikan” itu bertunas, maka timbullah keterikatan pada “tunas” dan perubahan-perubahan lain yang terus terjadi pada tunas tersebut.” Dikutip dari Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.4 buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Teperdaya oleh ilusi yang kemudian dilakukan berkali-kali, membuat sebuah kebiasaan yang membuat pikiran jernih kita terkalahkan. Seperti dijelaskan dalam buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) berikut:  “Sesungguhnya, masyarakat kita berada dalam pengaruh hypnosis. Seperti yang sudah kita baca sebelumnya, segala sesuatu yang diulangi terus-menerus, walau buruk dan merugikan, menjadi kebiasaan. Tidak berarti semua kebiasaan adalah buruk. Ada pula kebiasaan-kebiasaan yang baik. Tapi, kebiasaan “biasanya” mengerdilkan jiwa, mengebiri diri kita. Kebiasaan mematikan semangat kita untuk terus berkembang. Otak kita berhenti bekerja untuk menemukan kebenaran. Ia mengikuti pola yang sudah ditentukan. Kebiasaan menciptakan kemapanan yang semu.”

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali bahwa hanya jika kita mau terpicu maka kita bisa terpicu. Jika kita tidak mau terpicu, maka kita tidak terpicu. Keputusan di tangan kita………

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Citta atau benih pikiran dan perasaan menjadi berarti atau bertujuan hanya karena dampak Purusa dan Jiwa sebagai Drastr atau Yang Melihat; dan Prakrti atau AIam Benda sebagai Drsya atau objek yang terlihat, pemandangan.” Yoga Sutra Patanjali IV.23

 

Jadi, citta atau benih pikiran dan perasaan berada di antara Purusa dan Prakrti—antara la yang Melihat dan benda yang dilihat. Bayangkan citta sebagai mak comblang, penghubung.

 

SEBAGAI PENGHUBUNG, SESUNGGUHNYA CITTA TIDAK BERNYAWA. Ia seperti jembatan. Ada jembatan, ada tujuan. Dan ada yang melewatinya.

Pelawatnya adalah Purusa, Jiwa.

Dan jembatan ini berada di alam benda, prakrti. Jembatan-citta dan alam benda prakrti tempat jembatan ini berada, menjadi tidak berarti jika tidak ada pelawat, tidak ada Purusa.

Berarti, sesungguhnya jembatan-citta tidak bisa mengganggu, tidak bisa menggoda si pelawat, kecuali si pelawat mau tergoda, mau diganggu.

Patanjali menegaskan kembali bahwa Purusa, Jivatma, Gugusan Jiwa, Jiwa Individu bisa saja melewati jembatan-citta, bisa saja berjalan-jalan di alam-benda ini tanpa terperangkap dalam kebendaan.

Dalam buku The Christ of Kashmiris, saya pernah mengutip salah satu petuah Nabi Isa dari tradisi Sophy atau Sufi, “Dunia ini ibarat jembatan, lewati jembatan ini tanpa membangun rumah di atasnya. ”

Sultan Akbar dari Dinasti Mughal begitu terkesan oleh petuah itu sehingga digravir di atas salah satu tembok istananya di Fatehpur Sikri.

Citta, dunia—semua seperti jembatan-untuk dilewati, bukan untuk dijadikan tempat tinggal. Demikian pula maksud Patanjali.

Citta, dunia benda, apa dan siapa pun tidak dapat memerangkap Purusa. Jika Jiwa merasa dirinya terperangkap, maka sesungguhnya ia terperangkap oleh, dan dalam imajinasinya sendiri, khayalannya sendiri. Tidak ada kekuatan lain di luar dirinya yang dapat memerangkapnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s