Krishna Tidak Anti Kehidupan, Kemewahan tapi Anti Berhenti! #BhagavadGita

 

buku-bhagavad-gita-hidup-untuk-dijalanai

HIDUP BUKANLAH mengembangkan otak, mengumpulkan harta, ataupun beranak pinak. Tujuan hidup bukanlah sekadar menjalani profesi kita masing-masing, semulia apa pun profesi itu. Semua itu hanyalah sarana penunjang. Bukan tujuan. Sementara itu, badan, pikiran, perasaan, indra, intelek — semuanya adalah bagian dari wahana yang diperuntukkan bagi Jiwa.

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), demikian telah Ku-sampaikan ajaran esoteris ini; dengan menghayatinya, seseorang menjadi bijak. Ia menyelesaikan tugas-kewajibannya dengan baik, dan meraih kesempurnaan-diri.” Bhagavad Gita 15:20

Pertama: Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh dari buku-buku – termasuk buku ini, ya, termasuk Bhagavad Glta, entah versi pemahaman kita saat ini, atau pemahaman siapa pun.

Ajaran yang disampaikan lewat Bhagavad Gita — lewat Madah Agung ini — hanyalah bermanfaat jika dihayati. Berarti, dijalani, dilakoni, dihidupi. Penghayatan itu, laku itu yang membuat kita menjadi bijak.

Hanya membaca Bhagavad Gita, menghafalnya, atau hanya sekadar memahaminya saja tidak cukup. Ini jelas.

Kedua: Krsna menjelaskan tujuan hidup, tanpa sedikit pun keraguan. Bukan salah satu tujuan hidup. Bukan salah satu di antara sekian banyak tujuan, sekian banyak pilihan, yang dapat mengantar kita pada kesempurnaan. Bukan. “Inilah” tujuan hidup. Titik. Ia sangat tegas.

 

HIDUP BUKANLAH mengembangkan otak, mengumpulkan harta, ataupun beranak pinak. Tujuan hidup bukanlah sekadar menjalani profesi kita masing-masing, semulia apa pun profesi itu. Semua itu hanyalah sarana penunjang. Bukan tujuan. Sementara itu, badan, pikiran, perasaan, indra, intelek — semuanya adalah bagian dari wahana yang diperuntukkan bagi Jiwa.

Ya, kita butuh uang untuk membeli bensin dan merawat kendaraan. Tapi, uang bukanlah tujuan hidup. Kendaraan pun tidak dibuat untuk bensin. Bensin dibutuhkan untuk menjalankan kendaraan, bukan sebaliknya.

Bayangkan, jika kendaraan kita diisi terus dengan bensin harta; minyak hubungan keluarga, persahabatan dan sebagainya; dan entah air radiator apa lagi— apa jadinya? Setelah tangki kendaraan kita terisi penuh, sisanya akan tumpah, meluber keluar.

 

INI YANG SERING TERJADI dengan harta berlimpah, banyak anggota keluarga dan teman, segala kemewahan dan benda-benda yang menyamankan tak terhitung — hingga semuanya meluber, tumpah. Sementara, kendaraan tidak ke mana-mana. Kendaraan tetap di garasi.

Selama ini kita berpikir bila kendaraan dibuat untuk diisi bensin terus, diisi minyak terus, diisi air terus — seolah kendaraan dibuat untuk tujuan tersebut. Inilah kesalahan yang telah kita lakukan dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan yang lain. Dari zaman ke zaman. Alhasil, kendaraan kita jadi rusak, menjadi rongsokan. Perhatikan hidup kita. Do something, sebelum hidup ini melewati kita!

 

TUJUAN HIDUP ADALAH Kebahagiaan Sejati yang hanyalah diraih ketika kita sadar akan jati diri kita. Inilah “kesempurnaan-diri” yang dimaksud oleh Krsna. Untuk itu, kita mesti “bermain dengan apik”. Mengisi kendaraan badan kita dengan bensin, minyak, dan air secukupnya. Tidak perlu sampai meluber dan bertumpah-tumpah.

Di atas segalanya, setelah memeriksa kendaraan, setelah memahami perbedaan dan hubungan antara ksetra dan ksetrajna — antara badan, pikiran, perasaan, indra, dunia benda, Jiwa, dan Sang Jiwa Agung—berjalanlah menuju tujuan hidup, menuju kesempurnaan diri, dan meraih kebahagiaan sejati.

Sambil mengendarai wahana ini, dalam perjalanan kita masih tetap butuh bensin, kita tetap berkarya, tetap menjalani profesi kita, tetap melaksanakan kewajiban kita — membayar “tol keluarga”, serta “pajak persahabatan” dan sebagainya — namun kita sadar sesadar-sadarnya bila semua itu bukanlah tujuan hidup.

 

JUST THINK ABOUT IT… Bayangkan, pikirkan, renungkan — selama ini kita menganggap pembayaran kewajiban tol keluarga, pajak persahabatan, bensin harta-benda, minyak profesi, air kenyamanan, dan sebagainya, dan seterusnya sebagai tujuan hidup! How foolish! So silly, sheer idiocy — betapa goooobloknya kita!

Kendaraan Hidup dipajang di garasi — garasi rumah, garasi kantor, garasi perjalanan ke luar negeri, garasi di dunia ini dan di dunia lain; garasi di alam ini, dan alam lain; garasi gubuk dan garasi istana; garasi lorong-lorong sempit dan garasi jalan raya; garasi kenyamanan, kemudahan, dan garasi kemelaratan; garasi kepercayaan semu, dan garasi aktivisme tak bertujuan dan tanpa kesadaran.

Banyak di antara kita menyalahpahami pesan Krsna, seolah Ia anti semuanya itu. Tidak, Ia tidak anti. Mana bisa? Wong Dia sendiri seorang raja, berpakaian necis, rapih, bahkan mewah, Ia berkeluarga, Ia menjalani kewajiban dan tugas-Nya dengan baik. Saat ini pun, Ia sedang berperan sebagai sais kereta perang Arjuna. Tidak, Krsna bukanlah anti-kehidupan, anti kemewahan, anti harta, anti keluarga. Tidak.

 

KRSNA ADALAH ANTI-BERHENTI – Hidup ini untuk dijalani – bukan untuk diagung-agungkan dari tepi jalan. Janganlah memarkir kendaraan kita di tepi jalan bebas hambatan. Itu bukanlah tujuan kita berkendaraan, apalagi jika kendaraan kita hanya menjadi pengantin baru di garasi.

Kendaraan Hidup mesti dijalankan. Untuk beli bensin, kita butuh uang. Untuk menghasilkan uang, kita mesti bekerja. Mau berkeluarga silakan! Tidak mau — silakan! Mau mengumpulkan 500.000 orang sebagai sahabat Facebook — silakan, mau bersahabat dengan 1 orang saja—silakan. Suit yourself! Yang penting, jalani hidup ini. Carilah kesempurnaan diri yang menjadi tujuan hidup ini. Itu saja? Ya, itu saja.

Hidup ini sebuah permainan, maka bermainlah dengan baik, bermainlah secara serius. Ya, bermainlah secara serius. Bukan menjalani hidup dengan serius. Jika kita menjalani hidup dengan serius — maka pasti kecewa, karena hidup ini bukanlah sesuatu yang serius. Sekali lagi, hidup ini sebuah permainan. Di arena kehidupan ini, “barang siapa keluar lebih dulu, adalah pemenang… Goal!”

Namun, dalam kaitannya dengan permainan, kita mesti ingat bahwa…..

 

TIDAK ADA PERLOMBAAN DI DALAM HIDUP INI, tidak ada perlombaan untuk menuju kesempumaan. Perlombaan adalah urusan mengisi bensin di SBPU, siapa yang masuk duluan dilayani duluan. Perlombaan terjadi di bengkel, perlombaan terjadi ketika kendaraan kita berada dalam keadaan statis, saat  dan membutuhkan perbaikan.

Saat kita sedang mengemudikan kendaraan hidup, lupakan perlombaan. Tidak ada urusan siapa menang dan siapa kalah. Pada “suatu ketika” semuanya pasti menang. Ada yang menang hari ini – detik ini. Ia telah menyadari hakikat dirinya – goal! Ada yang menang, mencapai kesempurnaan sesaat lagi, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, abad depan, milenia depan!

 

RENUNGKAN….. Jika kita memutuskan untuk mengeloni kendaraan kita di atas ranjang, maka itu pun pilihan kita. Siapa yang bisa melarang kita? Pada suatu hari, kita akan bosan sendiri.

Jika kita ingin memarkir kendaraan di pinggir jalan – silakan! Siapa yang dapat melarang kita? Tunggu sampai seorang petugas curiga dan mendatangi kita, menegur kita, kemudian, mau tak mau kita mesti jalan!

Bagi Sang Jiwa Agung — kita berjalan atau tidak, sama saja. Kendaraan kita bukanlah satu-satunya tontonan. Masih banyak pertunjukan lain yang sedang disaksikan-Nya. Ia tidaklah kekurangan atau kehilangan sesuatu jika kendaraan kita mogok atau sengaja kita mogokkan. Silakan bermogok ria, sampai bosan! Sampai kapan? Kendaraan, yang tidak jalan adalah tidak selaras dengan kodrat Jiwa. Mungkin bukan hari ini, mungkin seabad kemudian — kita mesti menjalani kodrat kita — Jalan! Berjalanlah!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s