Transformasi Pikiran Egoistis menjadi Buddhi, Inteligensia #Yoga

buku-yoga-sutra-patanjali-mind-n-buddhi

Ada Mano, ada Buddhi. Ada mind, ada intelegensia. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia.

Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind.

Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum.

Mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, buddhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Buddhi melihat isi; mano melihat kulit. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam buku Yoga Sutra Patanjali disampaikan bagaimana kita perlu “drop the mind” untuk mencapai buddhi sebagai berikut:

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“(Sebab tiada kemungkinan untuk mempertahankan dua hal yang berbeda pada saat yang sama. Sebagaimana dijelaskan dalam sutra sebelumnya, pun demikian) citta atau benih pikiran serta perasaan tidak bisa melihat atau berpersepsi (tentang sesuatu yang dilakukannya) dengan dua cara yang berbeda; ia juga tidak bisa menarik dirinya sedemikian rupa sehingga dapat mengakses buddhi atau inteligensi, tanpa melepaskan smrti atau ingatan dan samskara atau kesan-kesan dari masa lalu (Pengertiannya: Citta atau benih pikiran dan perasaan mesti melepaskan dirinya pula, mesti sirna untuk menjelma kembali sebagai buddhi atau inteligensi. Sebab, tanpa smrti dan samskara, citta tidak bisa eksis.)”

Jika Anda membandingkan transkreasi atau pemahaman kita tentang sutra ini dengan pemahaman-pemahaman atau ulasan-ulasan lain, Anda akan bingung sendiri kecuali Anda memiliki sedikit pengetahuan tentang bahasa Sanskrit. Kemudian, Anda bisa melihat bahwa setiap ulasan, bahkan terjemahan kata-perkatanya pun sesungguhnya adalah tafsir, interpretasi, ulasan sang pengulas.

 

SUTRA-SUTRA INI MEMANG MERUPAKAN MAGIC  SUTRAS, bisa ditafsirkan sesuai dengan kesadaran masing-masing. Anda pun bisa menafsirkannya sendiri setelah menguasai bahasa Sanskrit.

Tapi, jika belum.

Jika belum bisa menafsirkan sendiri, ikutilah nasihat Patanjali, “Tidak mungkin mempertahankan dua hal yang berbeda.” Jika ulasan ini tidak berkenan bagi Anda, carilah ulasan lain yang lebih berkenan, lebih cocok dengan kesadaran Anda, dan ikutilah ulasan tersebut. Pilih salah satu perahu. Tidak bisa satu kaki di perahu ini, satu kaki di perahu lain. Jika Anda sudah tahu persis apa yang menjadi tujuan Anda, maka tinggal memilih salah satu perahu yang dapat mengantar Anda ke tujuan. Samadhi, Kaivalya.

Kembali nada sutra.

 

SELAMA MASIH ADA CITTA, selama masih ada benih pikiran  dan perasaan—transformasi manah, mind, atau gugusan pikiran serta perasaan menjadi buddhi atau inteligensi, tidaklah mungkin. Tidak bisa.

Mempertahankan pikiran dan perasaan yang kadang kacau, kadang bingung, kadang pasang, kadang surut, berarti menghalangi transformasi pikiran dan perasaan menjadi buddhi, inteligensi.

Mau jadi inteligen?

Drop the mind! Bagi seseorang yang tidak memahami Yoga—tidak mengerti sutra-sutra ini—sungguh sulit untuk mencerna kalimat di atas, “Drop the mind! ” Bagaimana? Kenapa? Apa jadinya nanti? Mendengar kata “drop” saja, kita sudah drop duluan!

Bagi seorang Yogi, tidak menjadi soal.

Ia sadar betul betapa nakal mind, mind-core, manah, citta—pikiran dan perasaan. Ia sadar betul bahwa selama ini dirinya diperbudak oleh pikiran dan perasaan. Sehingga, ia justru sedang mencari solusi, bagaimana supaya bebas dari perbudakan. Bagaimana? Gampang mengatakan “drop the mind ”, kemudian membiarkan terjadinya proses transformasi mind menjadi buddhi, menjadi inteligensi—tapi bagaimana? Kita sudah berniat, tapi mind tetap mengganggu. Seolah enggan membebaskan kita!

 

MASIH INGAT KATA SAMYAMA? Itulah caranya. Tidak ada cara lain, yaitu dengan samyama—saya tidak akan menerjemahkannya lagi, sengaja, supaya jika tidak ingat, Anda bisa membaca ulang beberapa sutra sebelumnya, bahkan bab atau bab-bab sebelumnya.

Merasa dikerjai?

Belum pernah merasa dikerjai seperti ini oleh penulis lain? Well, buku ini juga tidak seperti buku lain. Seusai membaca, menghayati sutra-sutra ini, seusai melakoni setiap bagian, setiap anga Yoga sebagaimana dijelaskan oleh Patanjali, Anda sudah mesti menjadi seorang Yogi. Jika tidak, apa gunanya membaca sutra-sutra ini?

Sebab itu, memang mesti “dikerjai”—dalam pengertian, ini mesti dikerjakan, dilakoni. Mengulangi pembacaan dan perenungan adalah bagian dari “kerja” kita menuju Samadhi,

Masih ingat kata “abhyasa”?

Catatan Tambahan oleh Pengutip buku:

  1. Yoga Sutra Patanjali II.4. “Secara kolektif, ketiganya ini (Dharana atau Kontemplasi; Dhyana atau Meditasi; dan Samadhi atau Pencerahan, Keseimbangan) disebut Samyama—Yama atau Pedoman Disiplin Diri yang bersatu (atau Tritunggal).”
  2. “Pengendalian Citta dapat terjadi dengan Abhyasa, pelatihan, atau upaya lntensif secara terus-menerus, berulang-ulang; dan Vairagya, atau pelepasan dirl dari berbagai keinginan, benda, situasi ataupun perorangan yang menyebabkan keterikatan. Berarti, dari segala pemicu di luar diri yang dapat menimbulkan ketertarikan dan kerinduan.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s