#Reinkarnasi: Kematian Tak bisa Dihindari, Harus Dialami! Mengapa Takut?

Mother consoling daughter on first day at school

Kematian, sebagaimana kelahiran jua, adalah bagian dari hidup ini, bagian dari kehidupan di dunia. kita semua tahu persis bahwa setiap yang lahir sudah pasti mati. Dalam hal ini ada “pengetahuan”, dan ada “kepastian”. Kematian bukanlah sesuatu yang bisa disebut unknown – tidak diketahui. Kematian adalah sesuatu yang sudah jelas-jelas known – diketahui, dan dapat dipastikan kejadiannya. Sebab itu, “takut mati” adalah bagian dari lapisan kesadaran pertama, lapisan fisik.

The Ultimate Unknown adalah ketidaktahuan kita tentang sesuatu yang berada di “luar” dunia, sesuatu yang melampaui ilmu-ilmu sedunia – sesuatu yang berada di luar hidup dan kehidupan sebagaimana kita memahami kedua fenomena tersebut. Ya, takut menghadapi apa yang terjadi “setelah” kematian itu baru Fear of Unknown. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut penjelasan Bapak Anand Krishna tentang takut mati dalam buku Soul Awareness:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Kita anggap bahwa dengan kematian, hidup akan berakhir. ltu sebabnya kita takut mati. Apa pun yang kita katakan, dalam hati kecil kita, rasa takut itu terus ada. Bahkan sebenarnya, kita tidak sepenuhnya percaya pada bentuk-bentuk kehidupan setelah kematian, sebagaimana diuraikan oleh kepercayaan-kepercayaan kita.

 

Kematian Bukan Titik Penghabisan kehidupan manusia. Kematian hanya titik awal proses daur ulang. Seorang siswa akan pulang ke rumahnya setelah menyelesaikan pelajaran di sekolah. Begitu pula kita. Setelah belajar di dunia, kita pulang ke alam asal kita. Kenapa ada rasa takut?

Kita ibarat anak-anak yang dikirim ke asrama sekolah. Untuk membuat kita betah di asrama, memori tentang rumah harus dihilanghilangkan sedikit. Orangtua kita tidak akan datang menemui kita terlalu sering. Apabila kita tidak ditinggal sendirian, kapan bisa mandiri? Kapan bisa belajar?

Namun seperti anak-anak kecil yang masih di tingkat TK dan SD, selesai belajar sepanjang tahun, sewaktu pulang ke rumah pun ada rasa takut. Kita begitu kecil, begitu rawan, begitu cepat terkondisi. Bagaimana pulangnya? Naik kereta? Lantas, siapa yang menjemput? Seribu satu macam pertanyaan akan menghantui anak-anak kecil yang sedang siap-siap pulang ke rumah masing-masing, setelah setahun penuh berada di asrama sekolah.

 

Mereka yang Masih Berada di TK, di SD dalam “sekolah hidup ini” akan selalu takut mati. Ironisnya, selama ini kita hampir tidak pernah naik kelas. Anda seorang menteri, Anda seorang teknokrat, Anda seorang ilmuwan, Anda seorang tokoh masyarakat, atribut-atribut fisik kita bertambah terus, tetapi tidak ada penambahan apa pun pada tingkat jiwa.

Kita masih saja seperti anak TK. Mau ke sekolah susah, harus dibangunkan, dielus-elus, disayangi, dimarahi, ditakut-takuti, dimanja, baru mau berangkat ke sekolah. Pulang dari sekolah pun susah, sudah keenakan main sama teman, sudah mulai ketiduran. Mereka yang tidak sadar, akan selalu gelisah.

Kelahiran dan kematian sudah mulai tidak menggelisahkan lagi apabila kesadaran kita sudah meningkat—ketika dari kesadaran fisik dan materi, kita sudah mulai memasuki alam rohani, alam kesadaran jiwa.

Ibarat siswa sekolah lanjutan, saat itu kita baru bisa menikmati pelajaran di sekolah, bermain dengan teman, tetapi tetap harus beristirahat di rumah. Mari kita jujur dengan diri sendiri, berapa di antara kita bersikap demikian? Berapa di antara kita yang tidak takut pulang ke rumah? Sakit pinggang sedikit, sakit kepala sedikit, kita sudah takut. Kira takut mati. Kira takut pulang kc rumah. Mari bersadar diri, mawas diri, eling!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

2 thoughts on “#Reinkarnasi: Kematian Tak bisa Dihindari, Harus Dialami! Mengapa Takut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s