Wabah Ketidaksadaran Merajalela! Menutup Diri pun Percuma?

buku-shangrila-wabah-ketidaksadaran

Cara terbaik untuk induksi adalah dengan menatap orang yang hendak diinduksi, menyelaraskan napas dengan dia, dan menginduksi diri untuk memasuki trans. Dengan cara meinduksi diri dan memasuki trans itu, orang yang sedang kita tatap pun akan ikut terinduksi dan masuk ke dalam alam trans. Ini adalah salah satu bentuk “hypnosis” yang sering terjadi tanpa kita sadari.

Pergaulan dapat menginduksi kita dengan cara tersebut. Dengan makan, minum, dan bergaul dengan orang baik, kita ikut terinduksi menjadi baik. Jika melakukannya dengan orang yang tidak bermoral, kita juga akan terinduksi dan ikut menjadi orang yang tidak bermoral.

Mengapa bisa demikian? Napas kita bisa secara otomatis menjadi selaras dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Apalagi jika orang-orang itu kita anggap sebagai sahabat. Dalam keadaan napas kita selaras, maka kita dapat saling mempengaruhi.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Demikian pula wabah ketidaksadaran begitu mudah mempengaruhi diri kita seperti yang dijelaskan dalam buku Shangrila berikut:

 

Cover Buku Shangrila

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Tentang sulitnya meningkatkan kembali kesadaran yang sudah terlanjur merosot. Joseph baru mendengar berita tentang wabah TBC. Selama bertahun—tahun, dunia Barat merasa sudah terbebaskan dari Tuberculosis atau TBC. Sckarang, tiba-tiba banyak yang menderita penyakit itu. Dan obat yang dianggap sukses memerangi TBC ternyata tidak efektif. Kuman TBC sckarang ini sudah kebal terhadap obat yang ada. Obat yang sama, yang dulu mujarab, sekarang tidak berdaya melawan TBC.

Diperkirakan setiap penderita TBC, rata-rata bisa menularkan penyakitnya kepada sepuluh orang. Dan obatnya belum ada, belum ditemukan. Padahal, dalam hal penularannya, TBC lebih gawat daripada penyakit AIDS atau hepatitis. Tidak perlu kena cairan badan, berada dalam satu ruangan dengan seorang penderita TBC, pcnyakit itu tertularkan.

Wabah ketidaksadaran lebih ganas daripada TBC. Tidak perlu berada dalam satu ruangan. Bicara lewat telepon dengan seseorang yang tidak sadar, membaca buku karangan orang yang tidak sadar, bahkan sekadar mendengar tentang orang yang tidak sadar, sudah cukup untuk mengaktifkan kembali mind. Dan pengaktifan kembali mind berarti tidurnya kembali kesadaran.

Mind yang sudah aktif kembali menjadi lebih ganas. Dia sudah tahu tentang cara-cara yang pernah ditempuh untuk menaklukkan dirinya. Dia menjadi kebal terhadap cara-cara itu. Persis seperti wabah TBC.

“Lalu apa yang harus dilakukan? Menutup diri dalam kamar? Tidak berhubungan dengan siapa pun? Tidak membaca apa pun? Tidak menerima telepon dan tamu? What should I do? Apa yang harus kulakukan?”—Joseph berpikir lama, tetapi tidak menemukan jawabannya. Setiap jawaban memiliki kelemahan.

Sore itu, ketika dia turun ke bawah untuk minum teh, pelayan coffee shop yang melayaninya, bernama Gurprasaad….. Demikian tersulam di atas kantong kemejanya.

Gurprasaad, ya Gurprasaad—Joseph menemukan jawabannya. Ketika turun ke bawah, entah kenapa ia membawa juga Buku Catatannya. Sekarang dia tahu, bahwa hal itu bukan kebetulan.

Sambil mencicipi teh India dengan aromanya yang khas, karena dimasak bersama kapulaga, kayu manis clan cengkeh, Joscph membuka Buku Catatannya dan menambah:

 

Karena itu, dibutuhkan seorang Guru, seorang Master, seorang Murshid yang sudah bebas dari Wabah ketidaksadaran, dan dapat menegurku, menunjukkan kesalahanku, entah melalui teguran langsung atau dengan menciptakan keadaan tertentu, sehingga aku bisa menilai diri sendiri, bisa melakukan introspeksi diri, bisa mawas diri.

Pertanda terjadinya kemerosotan kesadaran yang cukup parah adalah ketika teguran seorang Guru membuatku tersinggung, hal mana membuktikan bahwa penglihatanku sudah kabur, perasaanku sudah mencapai titik minimum, sehingga tidak dapat merasakan kasihnya.

Jika demikian yang terjadi, dengan sisa kesadaran yang masih ada aku harus melupakan segala pekerjaan dan mendekatkan diri dengan Sang Guru. Aku yakin, berada di sekitarnya selama beberapa hari saja bisa membebaskan diriku dari penyakit ketidaksadaran.

 

Joseph menutup kembali bukunya. Seusai minum teh, dia meninggalkan coffee shop dan melangkah santai menuju pintu hotel. Dia tidak ingin kehilangan satu pun kesempatan untuk berada dekat Anand Giri—Sang Penuntun.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s