4 Tahap Peningkatan Kesadaran dari “Aku bukan Badan” sampai “Kebenaran Mutlak”

buku-bhagavad-gita-tat-tvam-asi

Krsna mengingatkan kita semua lewat Arjuna bahwa Sang Jiwa Agung adalah sumber dan sebab segala-galanya – semuanya ada karena Dia. Ketika kita merasa sesuatu terjadi karena “diri” kita – maka saat itu adalah ego, gugusan pikiran dan perasaan yang bekerja. Kemudian, kita terlempar jauh dari Kesadaran Jiwa.

Semuanya terjadi bukan karena aku, tetapi karena Jiwa. Berilah nama lain kepada Jiwa sehingga mudah memisahkannya dari aku-ego. Sebutlah Dia Tuhan – tidak salah. Karena, Jiwa yang bersemayam di dalam diri kita hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Katakan, semua itu terjadi karena Tuhan. Bukan karena Aku, bukan karena egoku, bukan karena pikiran atau perasaanku – tapi karena Dia. Dia, Dia, Dia, Tuhan, Sang Jiwa Agung! Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:12

 

BADAN ADALAH KENDARAAN – Dan, Jiwa adalah Sang Pengemudi. Memang, ketika kendaraan rusak, pengemudi tidak ikut rusak. Namun, rusaknya kendaraan tetap saja menghambat perjalanan pengemudi.

Badan yang selama ini disebut sebagai “ciptaan” Prakrti atau Alam-Benda – sesungguhnya “diterangi” oleh Purusa juga. Purusa menerangi alam benda dan benda-benda yang termusnahkan. Purusa pula yang menerangi Jiwa-Individu yang tak-termusnahkan. Hubungan antara Jiwa Individu dan badan erat, setidaknya selama kita masih berbadan. Sehingga, adalah kewajiban kita untuk merawt dan memelihara Badan, yang juga diterangi oleh Purusa yang sama.

Dualitas ini tidak dapat diingkari. Dualitas ini mesti dipahami dan diapresiasi. Namun, pada saat yang sama, kita juga mesti menyadari adanya Kebenaran Tunggal – Paramatma – Hyang Melampaui segala dualitas. Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:16

Berikut ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Namun, Dwi-Fungsi Purusa tidaklah memengaruhi Paramatma atau Sang Jiwa Agung, Hyang meliputi tiga alam, menegakkan dan memelihara semesta dengan segala isinya; Hyang Maha Ada, Langgeng dan Abadi untuk selama-lamanya.” Bhagavad Gita 15:17

Baik kendaraan maupun pengemudi – baik Badan dan Alam Benda, maupun Jivatma atau Jiwa-Individu – ujung-ujungnya keberadaan semua adalah karena-Nya, karena Jiwa Agung. Kendati demikian, karena perbedaan fungsi, maka terciptalah ilusi-dualitas.

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada.

Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu.

KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAK – Jivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa.

LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung.

TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s