Memperbaiki Sifat Bawaan, Mungkinkah? #Yoga

buku-yoga-sutra-patanjali-hamil-plus-teks

Jika anda termasuk orang yang cepat kesal, cepat murung, cepat depresi, kemungkinan besar pada saat hamil, ibu anda stress berat. Sebaliknya, keceriaan, kedamaian, ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan seorang wanita hamil juga akan mempengaruhi sifat dan watak anak yang akan ia lahirkan.

Mengaku atau tidak, para ilmuwan masih agak ragu-ragu apakah bisa mengubah sifat dan watak yang biasanya disebut “bawaan”. Dan mereka baru bicara tentang sifat “bawaan” dari masa dalam kandungan.

Padahal, sifat “bawaan” juga bisa berasal dari masa-masa kehidupan sebelum ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Medina, Sehat Dalam Sekejap. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan sifat “bawaan” yang diperoleh dari masa-masa kehidupan sebelum ini yang disampaikan pada buku Yoga Sutra Patanjali:

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Sebagai hasil (dari karma atau perbuatan baik, buruk, dan di antaranya) muncullah vasana, keinginan-keinginan atau obsesi-obsesi masa lalu, yang belum terpenuhi, mewujud sebagai kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan.” Yoga Sutra Patanjali IV.8

Sebaik-baik perbuatan kita, karma kita, jika masih ada setitik pun pamrih di baliknya, maka memunculkan vasana, obsesi, atau setidaknya keinginan untuk menikmati hasil dari perbuatan baik. Inilah yang kemudian—pada masa kehidupan berikutnya—menjadi modal bawaan. Inilah modal kebiasaan dan kecenderungan; atau sifat bawaan.

DEMlKlANLAH, SETIAP KARMA—BAIK, BURUK, ATAU DI ANTARANYA menghasilkan vasana, residu. Kecuali karma tanpa pamrih, Niskama Karma.

Perhatikan “sifat bawaan” seseorang, perhatikan sifat bawaan diri sendiri, maka kita bisa tahu seperti apakah kita pada masa lalu.

Seorang pemalas mewarisi kecenderungan dari masa lalu. Seorang yang agresif secara berlebihan pun demikian. Dan yang di antaranya, seseorang yang tidak malas juga tidak agresif, pada masa lalunya pun seperti itu.

Lalu, apakah semua itu adalah harga mati? Dulu penjahat, sekarang penjahat; dulu pendeta, sekarang pendeta Tidak, tidak ada harga mati. Papan pengumuman keberadaan secara tegas dan jelas menyatakan: “Please Bargain — Everything Negotiable! ” Silakan menawar, semua bisa dinegosiasi, bisa diatur.

Jadi, kalau kita enggan menawar, enggan bernegosiasi, enggan mengatur atau menata kembali hidup kita, ya salah kita sendiri. Tidak ada yang dapat menghalangi kita jika kita mau mengubah total hidup kita, mau menatanya kembali.

Nah, saat penataan kembali, kita punya opsi:

MAU HIDUP CARA YOGI ATAU NON-YOGI. Hidup cara Yogi berarti berkarya tanpa pamrih, berbagi berkah dengan mereka yang kurang beruntung. Hidup cara nonYogi berarti memikirkan diri sendiri saja, kepentingan diri, dan mengharapkan imbalan dari setiap perbuatan—mengharapkan kenikmatan atau kaveling di surga pun termasuk pamrih.

Pilihan ada di tangan kita.

Hidup sebagai Yogi berarti hidup tanpa ampas, tanpa residu, tanpa vasana, tanpa benih yang bisa menyebabkan kelahiran ulang.

Atau hidup sebagai Non-Yogi, dan mengulangi pengalaman masa lalu. Meninggalkan residu, vasana, yang mempertahankan ke-aku-an diri sebagai manah, mind, gugusan pikiran serta perasaan, yang kemudian memunculkan citta sebagai benih untuk kelahiran ulang.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s