Kebijakan dan Kesadaran Adalah Penyembuh Utama Penyakit

 

buku-paramhansa-pelukan-ibu

Hazrat Inayat Khan memberikan metode penyembuhan yang paling mujarab. Tidak ada metode yang lebih baik dari yang satu ini. Ia mengajak kita belajar dari anak kecil, dari ibu, dari hubungan antara anak dan ibu. Sentuhan ibu, pelukan ibu, kehangatan kasihnya memang tak tertandingi. Apabila seorang anak jatuh sakit, sang ibu sepertinya terdorong untuk menepuk-nepuk dia, untuk memeluk dia, untuk mencium dia. Mungkin, ia juga akan menyanyikan lagu untuk anaknya. Seorang ibu bahkan tidak sadar bahwa apa yang ia lakukan itu tak lain adalah mengobati anaknya. Demikian, ia mengembalikan nada dan irama—ia mengembalikan ritme dalam diri anaknya…………….

Neo Zen Reiki—cara penyembuhan dengan sentuhan sebagaimana kami berikan di Ashram—bekerja dengan prinsip yang persis sama. Tanpa kasih, aliran energi dari semesta akan terasa mandeg, tidak akan mengalir lancar……………….

Itu sebabnya, saya berupaya mengembalikan Reiki pada prinsip dasarnya, yaitu prinsip Zen, prinsip no-mind—tidak menggunakan pikiran. Dan, itu pula sebabnya saya menamakan metode yang kami berikan di Ashram sebagai Neo Zen Reiki. Pemberian nama ini dimaksudkan untuk membedakan metode yang kita berikan dari metode-metode lain yang juga menggunakan istilah “Reiki”, padahal—menurut saya—bukan “Reiki” Iagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut pandangan Sri Yukteswar tentang penyembuhan dokter dan terapi mental, karena penyakit datang dari pikiran:

buku-paramhansa

Cover Buku Otobiografi Paramhansa Yogananda

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Walaupun tidak terikat pada badan, Sri Yukteswar (Guru Paramhansa Yogananda) memeliharanya dengan baik. Beliau selalu mengingatkan kita bahwa untuk perkembangan spiritual, kenyamanan tubuh dan pikiran, sangat penting. Beliau tidak menganjurkan ekstremitas, misalnya puasa yang berkepanjangan dan lain sebagainya.

Kesehatan beliau sendiri selalu prima. Apabila salah seorang muridnya jatuh sakit, beliau akan menyarankan konsultasi dengan dokter. Menurut beliau, “Seorang dokter juga bekerja sesuai dengan hukum Alam.” Pada saat yang sama, beliau juga selalu rnengingatkan bahwa terapi mental adalah yang paling penting: “Kebijakan, kesadaran adalah pembersih utama, penyembuh utama.”

“Jangan memanjakan tubuhmu. Penuhilah kebutuhannya—jangan lebih dari itu. Suka dan duka—dua-duanya bersifat sementara, lewatilah dengan hari yang tenang.

“Baik penyakit maupun penyembuhan, dua-duanya berasal dari pikiranmu sendiri. Walaupun dalam keadaan sakit, jangan mempercayai penyakitmu. Bagaikan tamu yang tidak diundang dengan sendirinya, penyakitmu akan melangkah balik.”

(Di sini, Sri Yukteswar memang luar biasa. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari beliau. Setiap cara penyembuhan yang menggunakan metode-metode diagnose bisa dikatakan, sudah mempercayai” adanya penyait. Berangkat dari “kepercayaan” adanya penyakit, mereka baru menggunakan visualisasi, konsentrasi dan metode-metode lain untuk menyembuhkan penyakit ita. Cara-cara penyembuhan semacam itu, tidak sesuai dengan prinsip Kriya Yoga, atau prinsip Yoga secara umum. Sebaliknya para Yogi, para Sufi, para master Tao, para pertapa Zen mengenal cara-cara penyembuan yang menggunakan tenaga alam. Mereka tidak melakukan diagnose sama sekali. Mereka hanya menjadi wahana, menjadi perantara bagi pengaliran energi. Tidak butuh konsentrasi, tidak butuh  visualisasi dan lain sebagainya. Sri Yukteswar sedang bicara tentang cara-cara penyembuhan seperti ini—a.k.)

Banyak dokter menjadi rnurid Sri Yukteswar. Beliau berpendapat bahwa pengetahuan mereka tentang hukum-hukum fisik akan mempermudah pemahaman mereka tentang spiritualitas.

 

(Sekali lagi, saya harus mengomentari bagian ini. Pengalarnan kami di Ashram persis sama. Para ahli  yang sudah berpengalaman, dan berjiwa saintis tulen—berarti benar-benar mernbuka diri, tidak menutup diri terhadap penemuan-penemuan baru—lebih mudah memahami hal-hal yang bersifat spiritual. Yang menimbulkan masalah adalah orang-orang yang pengetahuannya masih tanggung. Yang sulit memahami spiritualitas adalah mereka yang wawasan serta pengaIamannya masih terbatas, yang dirinya maih tertutup—ak.)

 

Sri Yukteswar menghendaki bahwa dalam diri setiap muridnya, pencerahan Timur dan pengetahuan Barat akan bertemu. Beliau menuntut disiplin tinggi dari para anak didiknya. Apabila ada yang melanggarnya, ada yang salah, akan langsung ditegur oleh beliau.

“Perilaku baik tanpa ketulusan dan kesungguhan adalah seperti manusiatanpa nyawa.” Jadi bukan hanya berbasa-basi, tidak hanya memasang topeng “kebaikan”, anak didiknya diharapkan menjadi sungguh-sungguh baik.

Pada kesempatan lain, Beliau pernah menganjurkan, “Berterusteranglah, tanpa harus menyakiti orang.”

Nampaknya, beliau cukup puas dengan kemajuan spiritual saya (Paramhansa Yogananda). Yang kadang-kadang masih dikeluhkan beliau adalah sifat pelupa saya. Juga kelalaian saya dalam hal mengindahkan beberapa pedoman perilaku dan sebagainya.

Ayah pernah menyempatkan cliri ke Serampore untuk menemui beliau. Setelah pertemuan itu, Sri Yukteswar sering memberikan contoh Ayah. “Contohilah ayahmu—kehidupannya begitu seimbang. Yang dirnaksudkan adalah keseimbangan antara kewajiban sosial dan kehidupan rohani Ayah.

Pada umumnya para sanyasin tidak peduli akan keduniawian, tetapi Sri Yukteswar malah menganjurkan, “Selama kamu masih bernafas, selama itu pula kamu berkewajiban untuk melayani dunia ini. Apabila kamu sudah mencapai tingkat samadhi, tingkat kesadaran murni di mana tidak perlu bernafas lagi (tingkat samadhi adalah tingkat terakhir dalam meditasi di mana seorang meditator melampaui hukum alam—a.k.), maka kamu baru akan terbebaskan dari kewajiban itu. Dan apabila kamu telah mencapai tingkat itu, aku akan memberitahu kepadamu.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s