Hidup di Dunia yang “Kotor” Tanpa Menjadi “Kotor”! Mungkinkah?

buku-the-hanuman-factor-teratai-di-tengah-lumpur-plus-teks

“Lupakan masa lalu. Masa lalu setiap orang pasti bernoda. Sebelum bersandar sepenuhnya pada Kehendak Ilahi, kehidupan manusia selalu terombang-ambing. Yang penting masa kini. Upayamu di masa kini akan menjamin kegemilangan masa depan.” Demikian seruan Sri Yustekwar, Guru Paramhansa Yogananda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengapa hidup kita sebelum bersandar sepenuhnya pada Kehendak Ilahi pasti bernoda? Dalam penjelasan Bhagavad Gita 2:51 disampaikan:

“Kelahiran menyebabkan segala macam pengalaman – Anda tidak dapat menghindari pengalaman-pengalaman Anda. Semuanya itu merupakan akibat dari kelahiran Anda. Kṛṣṇa menganjurkan agar kita menghadapi segala situasi dengan kesadaran. Dengan kesadaran bahwa semuanya itu wajar-wajar saja, jangan mengeluh. Keluhan Anda hanya membuktikan bahwa Anda belum dapat memahami mekanisme kehidupan, bagaimana Anda dapat melakoninya?

“Hiduplah dalam dunia ini dengan kesadaran semacam itu, dan Anda akan terbebaskan dari rasa duka dan kegelisahan, dari stres yang disebabkan oleh kelahiran Anda. Anda tetap berada dalam dunia yang sama ini tetapi alam Anda sudah berbeda. Kelihatannya sama, serupa, namun sesungguhnya tidak. Kendati Anda hidup dalam kolam dunia yang kotor ini, Anda ibarat bunga teratai yang tidak tersentuh oleh lumpur. Keindahan Anda tidak terpengaruh oleh kolam berlumpur.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Buku The Hanuman Factor memberikan contoh bagaimana kita hidup di dunia yang berlumpur tetapi tidak tersentuh oleh lumpur, seperti penjelasan berikut:

buku-the-hanuman-factor

Cover Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

……………..

 

Charana Saroja Raja

Debu dari kaki teratai (Guru)

Ayat ini mengimplikasikan perjalanan, kerja. Kalau tidak demikian, bagaimana Anda bisa mengumpulkan debu di kaki Anda? Setelah mengakses sumber kemuliaan di dalam diri, setelah menyadari Tuhan, dan setelah kabut keraguan dilenyapkan oleh Guru yang terjadi di dalam diri Anda—maka kini Anda harus berjalan. Sekarang Anda mesti menerjemahkan kesadaran tersebut di dalam kehidupan Anda.

Lihatlah teratai-teratai indah di kolam kehidupan ini. Anda bisa jadi seribu kali lebih indah, jika Anda mau belajar pelajaran hidup terpenting dari mereka. Teratai dapat anda temukan di kolam yang berlumpur. Mereka tidak tumbuh di air yang bersih dan jernih. Namun, lihatlah keindahan mereka! Lumpur yang ada di bawah tidak mempengaruhi mereka. Mereka tidak menjadi kotor. Pernahkah Anda merenungkan apa gerangan sebabnya?

Satu penyebabnya adalah bahwa teratai-teratai itu tumbuh keluar dari kolam yang berlumpur. Mereka tidak terus-menerus berada di dalam lumpur. Mereka tengah menghadap ke arah matahari pencerahan. Mestinya seperti inilah cara kita bertumbuh. Kita lahir dan tumbuh di dalam lumpur dunia delusi dan ketidaksadaran. Kita memang tidak punya pilihan lain. Semua elemen yang dibutuhkan untuk membentuk tubuh kita ada di sini, di lumpur dunia ini. Lumpur ini juga memberi kita nutrisi yang kita butuhkan untuk pertumbuhan kita.

Maka dari itu, pelajaran pertama yang mesti kita pelajari adalah: jangan biarkan dunia yang berlumpur ini membuatmu jijik. Pada saat yang sama, jangan terus menerus berada di dalam lumpur. Tumbuhlah keluar darinya. Ingatlah, selama Anda hidup di dunia ini, selalu ada bagian dari diri Anda yang tetap berada di lumpur. Tidak ada jalan keluar darinya. Sekali kau terpisah dari lumpur, maka binasalah kamu.

 

Hiduplah di dunia yang berlumpur, tetapi jangan berlumpur-lumpur dengan dunia.

Hiduplah di tengah-tengah hiruk-pikuk dunia, tetapi dengan tetap menjaga kewarasan Anda. Bagaimana kita melakukannya? Pertanyaan ini membawa kita ke pelajaran kedua.

Belajarlah dari daun teratai. Ia kedap air. Tidak ada yang bisa tetap berada di atasnya, tidak air berlumpur, tidak pula embun. Jika Anda mengijinkan embun untuk tetap tinggal, maka Anda juga harus mengijinkan air yang berlumpur tetap tinggal.

Anda mesti melampaui dualitas suka dan tidak suka, pujian dan cacian, antara yang mendukung dan tidak mendukung, yang diinginkan dan yang tak diinginkan, kesenangan dan kesedihan. Hadaplah senantiasa matahari pencerahan. Kenalilah dualitas sebagai realitas yang nampak, sebagai wajah dunia di mana Anda tinggal yang terus-menerus berganti. Namun, janganlah tinggal di dalam realitas tersebut.

Makanlah ketika lapar, tetapi jangan makan terus sepanjang hari. Minumlah ketika haus, namun jangan minum terus seharian. Demikian juga dengan seks dan kesenangan inderawi lainnya, mereka tidaklah baik atau buruk, mereka adalah mereka apa adanya. Kecanduan terhadap kesenangan-kesenangan tersebutlah yang menghambat pertumbuhan kita. Ambillah bagianmu sewajarnya, dan lanjutkan perjalananmu.

 

Nija Manu Mukuru Sudhaari

Aku bersihkan cermin pikiranku.

Saya dulu biasa menyampaikan bahwa spiritualitas itu adalah tentang pembersihan, religiusitas adalah tentang pembersihan, dan meditasi adalah tentang pembersihan. Kini saya menyadari bahwa hidup itu sendiri adalah tentang pembersihan.

 

Bagaimana kita membersihkan hidup kita?

Jawabannya diberikan di sini: dengan cara membersihkan cermin pikiran Anda. Karena hidup Anda adalah proyeksi pikiran Anda. Pikiran yang bahagia memproyeksikan hidup yang bahagia, dan pikiran yang tidak bahagia memproyeksikan kehidupan yang tidak bahagia. Pikiran yang ceria memperoyeksikan pikiran yang ceria, dan pikiran yang menderita akan memproyeksikan kehidupan yang menderita juga.

Bersihkanlah cermin pikiran Anda, sehingga ia bisa memproyeksikan kehidupan yang layak dihuni. Belajarlah seni membersihkan diri dari teratai-teratai yang ada di kolam. Janganlah berfokus pada dualitas kehidupan. Tapi berfokuslah pada kehidupan itu sendiri. Jangan berfokus pada keuntungan dan kerugian yang temporer. Berfokuslah pada kekayaan pengalaman sebagai hasil dari keuntungan dan kerugian tersebut.

Jangan sia-siakan hidup Anda dengan membahas sifat lumpur. Lumpur adalah lumpur, apalagi yang perlu dibahas? Bertumbuhlah darinya, dan berfokuslah pada matahari pencerahan.

Pembersihan pikiran bukanlah meditasi hening yang pasif. Pembersihan pikiran adalah meditasi aktif yang dinamis. Seorang panembah sejati, seorang pencari spiritual, seorang CEO tidak bisa pasif. Dinamisme adalah identitas mereka, sifat mereka.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s