Banyak Jalan Satu Tujuan Semua Menuju Tuhan

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA

Agama mirip rakit untuk menuju pantai seberang

“Jangan salah tanggap rakit sebagai pantai. Saya tidak mengatakan bahwa rakit itu tidak perlu. Anda memerlukan rakit untuk mencapai pantai. Anda tetap memerlukannya untuk menemukan pantai, untuk menyeberangi lautan kehidupan, melampaui dualitas kelahiran dan kematian. Orang akan tetap memerlukan rakit, mereka akan selalu membutuhkannya. Tak pernah terjadi dalam sejarah bahwa rakit tidak diperlukan. Jangan sekali-kali mengatakan bahwa rakit itu tidak perlu. Anda tidak bisa mengabaikannya. Mungkin Anda sudah menyeberangi lautan kehidupan, namun jangan sekali-kali mengabaikan kegunaannya. Tanpa rakit, Anda tidak akan pernah dapat menyeberangi lautan ini. Tetapi, jangan juga selalu terikat pada rakit, setelah mencapai pantai. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk menggunakan rakit Anda. Rakit telah mengantar Anda ke tujuan Anda, berterimakasihlah, jangan melupakan kebaikannya.

 

“Agama mirip seperti Rakit. Keberadaan atau Tuhan, sebagaimana Anda menyebut-Nya, adalah Tujuan Anda. Memang berbeda warna, berbeda ukuran, bahkan berbeda kecepatannya, namun tanpa kecuali semua rakit itu bertujuan satu dan sama – membantu Anda menyeberangi lautan kehidupan. Pahamilah hal ini! Agama itu penting, bahkan penting sekali. Hal ini akan tetap demikian.

 

“Walaupun sekali-kali kita menemukan seseorang perenang yang hebat: tanpa rakit, tanpa bantuan apa pun ia menyeberangi lautan kehidupan. Entah dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk itu? Siapa yang tahu bagaimana la dapat melaku-kannya, namun kenyataannya adalah bahwa ia berhasil melakukan. la melawan gelombang; ia mengikuti caranya sendiri; ia menembus topan dan badai. Anggaplah ini sebagai pengecualian. Ini tidak berlaku umum. Sebagian besar di antara kita akan tetap membutuhkan rakit untuk menyeberangi lautan ini. Bahkan kalau Anda merenungkan sejenak, manusia-manusia langka yang dapat menyeberangi lautan tanpa rakit, sebenarnya telah mengubah dirinya sebagai rakit. Mereka telah menjadi rakit. Di antara mereka: Krishna, Zarathustra, Buddha, Laotze, Musa, Yesus, Muhammad, Nanak, dan mereka semua yang kita hormati sebagai Pemandu Jalan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut kisah Joseph yang bertemu dengan Yeshudas, Pelayan Yesus dalam diskusi tentang agama dalam Buku Shambala salah satu dari Trilogi Shambala, Shangrila, Shalala……

buku-shambala

Cover Buku Shambala

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Joseph mengomentari nama Yeshudas, “Bukankah Yeshu itu sebutan untuk Lord Jesus, untuk Yesus?”

“Ya, dalam bahasa Hindi, kita memanggilnya Yeshu.”

“Dan ‘das’—ada artinya?”

Das berarti ‘pelayan’. Jadi Yeshudas berarti ‘Pelayan Yesus’.”

“Nama yang indah sekali. Kamu orang katolik?”

Unhuun…” Yeshudas menggelengkan kepalanya. Joseph masih selalu bingung “gelengan kepala” yang bagaimana berarti “ya” dan yang bagaimana berarti ’tidak’. Ia mengira-ngira saja. Mungkin maksudnya “tidak”: “Orang Protestan?”

Sekali lagi, Yeshudas menggelengkan kepalanya, “Unhuun, no, no. Saya bukan Katolik, saya bukan Protestan. Saya hanyalah pelayan Yesus.”

“Lalu, apa agamamu?”—tanya Joseph.

”Melayani Yesus—itulah agama saya.”

“Berarti anda dilahirkan dalam keluarga Kristen.”

“Keluarga? Saya tidak tahu. Seorang sopir bus menemukan saya di pinggir jalan. Masih bayi, baru lahir dan ditinggalkan oleh yang melahirkan. Saya tidak tahu siapa ibu saya—siapa ayah saya? Sopir bus itulah yang mernbesarkan saya.“

Oh, I am so sorry to hear that. Dan dia yang memberikan nama itu kepadamu  Dia pasti orang Kristen.”

“Bukan, dia pun bukan orang Kristen. Dia orang Sikh.”

Joseph tambah curious, “Lalu siapa yang memberikan nama itu kepada anda?”

“Ketika ditemukan, di badan saya tidak ada ‘identitas agama’. Dan Pitaji bingung. By the way, Pitaji berarti ayah—dialah yang menemukan saya. Pitaji bingung, saya mau diberi nama apa. Dalam perjalanan pulang, ia berhenti di suatu tempat untuk membeli susu. Dan di tempat itu, ia mendengarkan sebuah lagu yang kebetulan sedang populer:

Tu Hindu hanegaa naa Musalmaan hanegaa, Insaan kee aulaad hai—Insaan hanegaa…

“Berdasarkan lagu itu kamu diberi nama?”

“Tidak persis, tapi ada hubungannya. Arti lagu itu: kau tidak akan menjadi Hindu, ataupun Muslim. Kau anak manusia, dan akan menjadi manusia. Kata Pitaji, lagu itu sangat menyentuh jiwanya. Dan, selama belasan tahun, ia memanggii saya ‘Baba’. Di sekolah pun, nama saya tercatat Baba Trilok Singh. Trilok Singh adalah nama ayah.”

Joseph memotong dia, “Tetapi bukankah ‘Baba’ berarti ayah?”

“Dalam bahasa Urdu, dalam bahasa Persia—ya. Baba memang berarti ’ayah’. Tetapi dalam bahasa Punjabi, bahasa ayah, baba berarti ‘anak kecil’.”

“Lalu bagaimana dengan nama Yeshudas?”

“Pitaji, memberikan saya buku—buku cerita dari semua agama. Dan menganjurkan agar saya mempelajari setiap agama. Ketika baru berusia 6-7 tahun, ia mengatakan kepada saya, ‘Nanti kalau sudah dewasa, kamu pilih sendiri—mau ikut agama apa.'”

“Dan, kamu memilih agama Kristen dan mengganti namamu?”—tanya Joseph.

Nahin, nahin.” Yeshudas menggelengkan kepalanya, “Tidak. Saya tidak memilih agama Kristen. Saya memilih untuk menjadi pelayan Yesus.”

What do you mean? Saya tidak mengerti.”

“Begini—saya mencintai Rama, Krishna, Buddha dan Nanak sebagaimana saya mencintai Zarathustra, Musa, Yesus dan Muhammad. Saya mempelajari hidup mereka. Saya mendalami ajaran mereka. Rama dan Krishna adalah para raja—yang mengabdi kepada mereka sudah cukup banyak. Buddha dan Nanak pun selalu dikerumuni oleh para siswa mereka. Begitu pula dengan Zarathustra, Musa dan Muhammad. Terasa hanya Yesus yang berdiri sendiri. Ketika disalib, murid-muridnya malah meninggalkan dia. Ia harus menderita sendiri. Maka saya rnemilih untuk berdiri di sebelahnya—untuk melayaninya.”

Joseph mulai menyangsikan kewarasan Yeshudas, “Caramu bicara tentang Yesus, seolah-olah ia masih hidup.”

“Yesus memang masih hidup. Kalau sudah mati, bagaimana saya bisa melayaninya? Bagi saya ’melayani Yesus’ sama nyatanya seperti ’pertemuan kita’ ini,” ’

Joseph berupaya menatap wajahnya, dan langsung menatap matanya. “Tidak, ini bukan wajah orang gila. Bukan mata orang gila.”—pikir Joseph. Wajah Yeshudas, sepolos wajah seorang anak kecil.

“Dan untuk melayani Yesus, kamu berpikir tidak perlu menjadi orang Kristen.”—Joseph masih saja penasaran.

“Ya, saya pikir—saya tidak perlu menjadi ‘orang Kristen’. Saya pikir sudah cukup jika saya menjadi ‘orang’.”

“Jika setiap orang berpikir seperti itu—apa yang akan terjadi dengan agama? Manusia tidak akan beragama lagi.”

……………….

Di dalam mobil, mereka melanjutkan dialog yang terputus. “Jadi bagaimana dengan agama Yeshudas? Kalau setiap orang berpikir seperti kamu, di dunia ini tidak ada agama lagi.”

“Joseph, ‘agama’kan hanya jalan. Dan selama masih ada yang melakukan perjalanan, pasti ada jalan. Bahkan bisa saja terjadi pembukaan jalan baru. Di kota-kota besar ada jalan bebas hambatan, ada highway, ada jembatan layang. Setiap ‘jalan agama’ bertujuan satu—memanusiakan manusia. Tujuan agama bukanlah menciptakan ‘manusia Hindu’ atau ’manusia Islam’ atau ’manusia Kristen’ atau ’manusia Sikh’ atau ’manusia Buddhis’. Tujuan agama adalah menciptakan ‘manusia’—titik.”

“Lalu bagaimana dengan agama-agama yang berbeda? Sekian banyak jalan—untuk mencapai satu tujuan?”—tanya Joseph.

“Tentu. Bahkan seharusnya ada milyaran jalan. Satu jalan bagi setiap orang. Dan memang demikian adanya. Kendati beragama sama, pemahaman masing-masing pemeluk agama toh lain, berbeda. Kemudian pengamalannya pun akan berbeda.”

”Kalau begitu, lalu bagaimana dengan church, dengan gereja dan lembaga-lembaga keagamaan lainnya?”

“Ya, di situ memang bisa terjadi masalah. Tetapi, kamu harus membedakan antara religion atau agama dan religion institution atau lembaga keagamaan. Agama merupakan pengalaman pribadi, setiap orang harus mengalaminya sendiri. Seperti jika haus, kamu harus minum air sendiri. Tidak ada yang bisa mewakili dirimu. Lalu, kamu juga bisa memilih apakah mau minum air biasa, atau hangat, atau dingin, atau ditambah sirop. Sementara, lembaga keagamaan berupaya untuk menyuguhkan sesuatu yang seragam. Kalau air dingin, ya dingin saja. Kalau hangat, ya hangat saja. Kalau biasa, ya biasa saja. Kalau pakai sirop dengan rasa strawberry, ya strawberry saja. Kalau pakai sirop dengan rasa mocca, ya mocca saja.

“Dan yang namanya lembaga memang harus demikian. Tidak bisa tidak. Karena setiap lembaga harus memiliki dasar, asas. Dan kalau kita bicara tentang dasar, tentang asas, kita bicara tentang pembakuan beberapa konsep. Lalu pembakuan konsep-konsep itulah yang menciptakan keseragaman.”

“Berarti, lembaga-lembaga keagamaan itu sesungguhnya tidak dibutuhkan?”—tanya Joseph.

“Dibutuhkan untuk suatu masa pertumbuhan. Dan selama itu, keseragarnan pun dibutuhkan. Celakanya, para penyelenggara lembaga—lembaga keagamaan sudah terlanjur menjadi ‘haus-kuasa’. Mceeka tahu persis, selama umat mereka belum bertumbuh, mereka masih bisa dikuasai. Jadi dibiarkan tetap bodoh saja.”

“Lalu, apa yang seharusnya terjadi?”

“Lembaga-lembaga keagamaan harus melakukan re-positioning. Dari ‘lembaga yang menguasai’, mereka harus menjadi lembaga yang melayani. Selama ini mereka memang mengaku sudah melayani, tetapi sesungguhnya belum.

…………….

“Dan kamu sendiri, Yeshudas, ingin melayani umat…..”

“Tidak. Saya tidak ingin melayani umat. Umat apa? Saya tidak memiliki umat. Saya ingin melayani Yesus. Dan saya menemukan Yesus di setiap sudut jalan. Dia berdiri sendiri. Tidak seorang pun murid yang berani berdiri bersama dia.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s