Identitas Diri: Hasil Mind Memisahkan, Inteligensia Mempersatukan! Anand Krishna’s Sindhi Mehfil Solo

img-20161106-wa0023

Antara mind dan inteligensia

Ada mind, ada intelegensia…….. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia.

Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind.

Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum.

Bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis intelegensia, krisis “budhi”, krisis kesadaran. Ada yang berintelegensia tinggi dan bisa menerima perbedaan, tetapi ada juga yang berintelegensia sangat rendah, sehingga tidak bisa menerima perbedaan. Mereka yang berintelegensia rendah ingin menyeragamkan segala sesuatu. Akibatnya, kita berada di ambang disintegrasi. Jalan keluarnya hanya satu: yang berintelegensia rendah meningkatkan intelegensia diri. Atau yang berintelegensia tinggi turun ke bawah.

Mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, buddhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-atmabodha

Berikut pesan Bapak Anand Krishna………

Foto-foto oleh Ko Tunggul Setiawan

Lebih dari 50 orang sedang merayakan bersama Pesta Sindhi Mehfil dengan menari dan menyanyi di Anand Krishna Information Center Solo pada Saptu Malam tanggal 5 November 2016. Di ujung perayaan, para peserta retret Soul Awareness ditambah beberapa tamu undangan duduk dan menyimak Bapak Anand Krishna yang membuka pesan dengan sebuah Puisi Kabir:

Walau tidak ingat kata-kata yang tepat, namun kira-kira intinya, berada dalam merah-Nya, semua menjadi terasa merah, diri kita pun menjadi merah. Merah juga dapat berarti kemuliaan. Sehingga, berada dalam kemuliaan-Nya, semuanya menjadi mulia, diri kita pun larut dalam kemuliaan-Nya. Demikian cuplikan dari buku (Krishna, Anand. (2005). Jalur Sutra Cinta, Dikumpulkan dan Diterjemahkan oleh Rabindranath Tagore,  Saduran dan Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Identitas kita saat larut dalam Kemuliaan-Nya adalah Mulia juga.

img-20161106-wa0022

Identitas yang sama bagi semua orang (hasil Inteligensia)

Identitas kita yang sama adalah Prana, Energi Kehidupan. Semua ini adalah Permainan Energi…. Kita semua berada dalam kolam, atau, barangkali lebih tepat disebut Lautan Energi.

Kondisi Kita adalah seperti Ikan-Ikan di kolam, kali, sungai, ataupun Iaut. Ada air kehidupan di dalam diri setiap ikan, dan ada kolam air kehidupan di tempat ia berada. Ada air kehidupan di dalamnya, dan ada air kehidupan di luarnya. Ada energi di dalam diri kita, dan ada energi di luar diri kita. Setiap di antara kita mengandung, atau bahkan terbuat, terdiri atas energi—sekaligus diliputi energi.

Energi di luar sama penting dengan energi di dalam diri. Persis seperti air kehidupan di dalam ikan. Kendati berair, memiliki air “dalam”, ia tidak bisa bertahan hidup tanpa air “luar”—tanpa kolam air kehidupan di luar.

Kita semua mempunyai energi, Prana yang sama. Walaupun seseorang lahir cacat, dia pun juga mempunyai Prana. Yang tidak mempunyai Prana sudah mati. Interaksi Prana dalam diri dan Prana di luar diri penting. Coba kita menghisap Prana lewat hidung, kemudian tidak kita keluarkan, maka kita akan mati. Jadi Prana itulah identitas yang mempersatukan.

Bahkan bagi kita yang lahir di Wilayah Peradaban Sindhu, kita mempunya  DNA yang hampir sama, walau wujud kita bisa berbeda. Ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang mancung ada yang pesek.

Identitas aku anak siapa, dari suku bangsa apa, dengan agama/keyakinan apa, alumni mana, profesi apa, tinggal di komplek elit mana, semuanya kita peroleh setelah kelahiran kita. Identitas perolehan dari mind. Pada waktu lahir tidak ada cap di pantat kita terkait identitas-identitas tersebut.

Semuanya adalah identitas palsu, ilusi. Identitas yang mempersatukan kita adalah energi, Prana. Semua identitas dunia kita dapatkan setelah kita hidup. Yang kita bawa sejak lahir hanyalah Prana. Tanpa Prana kita tidak hidup.

Prana itulah yang membuat kita hidup, saat mati prana meninggalkan tubuh kita dan tubuh mengalami pembusukan kembali menjadi elemen alami. Sebenarnya atom pun tidak pernah punah, atom pada abu kremasi kita atau atom pada sisa tubuh kita pun masih berupa atom yang pada suatu kali berpindah ke makhluk lain. Pada waktu kita bernapas pun, kita menarik atom dan mengeluarkan atom dan bertukar atom dengan makhluk-makhluk lain di alam semesta.

Masih saja merupakan misteri, mengapa atom yang dalam keadaan bergerak melompat-lompat dan bervibrasi bisa terikat dalam tubuh kita.

 

Pengaruh Pergaulan

Boleh saja kita rajin meditasi, akan tetapi dengan pergaulan yang tidak menunjang, kesadaran kita akan menurun. Untuk mempertahankan identitas yang mempersatukan kita perlu memiliki pergaulan yang baik.

Bapak Anand Krishna bercerita tentang seorang Dokter Ashram di Rishikesh di tepi Sungai Gangga. Dia sudah berusia sekitar 45 tahun. Saat lulus ditanya oleh Sang Guru, apakah sudah bekerja dan dijawab belum. Kemudian diminta Sang Guru untuk menjadi dokter ashram dan sekarang sudah berjalan 20 tahun.

Apakah ada rasa takut kerja di ashram melayani 2.000 orang sendirian dengan gaji yang amat minim. Tidak! Menurutnya Tidak! Baginya tinggal di ashram sudah cukup. Tinggal di luar identitas dirinya bisa terkecoh dengan identitas-identitas palsu yang tidak membahagiakan.

Ada juga seorang psikolog Barat yang meninggalkan pekerjaannya untuk bekerja di ashram di Rishikesh. Dia pun tidak merasakan fear, cemas meninggalkan pekerjaannya di negerinya dan masuk ashram. “Selama ini saya merasa sudah menjadi ahli psikologi tetapi ternyata saya keliru tentang identitas saya. Ternyata selama ini adalah ego. Identitas sejati berada di atas ego yang hanya memikirkan diri sendiri. Tadinya saya merasa sudah tahu semuanya, ternyata sebelum masuk ashram saya telah salah memilih identitas pribadi saya. Sekarang justru saya takut keluar ashram, takut terpengaruh pergaulan yang tidak menunjang lagi.”

Foto-Foto Ko Tunggul Setiawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s