Datang Suka, Nikmati dan biarkan lewat! Tiba Duka, Hadapi dan Biarkan Berlalu!

buku-yoga-sutra-patanjali-air-yang-mengalir-plus-teks

Ketertarikan dan ketidaktertarikan muncul dari interaksi indra dengan pemicu luar

“Raga dan Dvesa — ketertarikan dan ketidaktertarikan, kesukaan dan ketidaksukaan, muncul dari interaksi antara indra dan pemicu-pemicu di luar diri. Seorang (bijak) hendaknya tidak terombang-ambing, karena dualitas suka dan tak-suka itu adalah penghalang utama dalam perjalanan menuju kesadaran diri atau pencerahan.” Bhagavad Gita 3:34

Dualitas suka dan tak suka, senang dan tak senang, cinta dan benci, ketertarikan dan ketidaktertarikan — semua adalah hasil dari cara pandang, cara berpikir yang masih terbagi.

Suka dan tak suka adalah tafsir otak berdasarkan pengalaman indra, saat terjadi interaksi dengan pemicu-pemicu di luar diri, yang kemudian, dicocokannya dengan rekaman yang sudah ada sebelumnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Yang disukai dikejar, yang tidak disukai ditinggalkan

Perhatikan pikiran anda; perhatikan pola kerja mind anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi.

Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berdasarkan penjelasan di atas Patanjali memberi solusi bagaimana memanfaatkan pola kerja mind tersebut, demi kebaikan kita, seperti tersebut Yoga Sutra Patanjali IV.17 di bawah ini:

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Pengetahuan atau ketidaktahuan tentang suatu objek disebabkan oleh harapan dan reaksi citta atau benih pikiran serta perasaan; dan apakah ia (citta) tertarik pada objek tersebut atau tidak.” Yoga Sutra Patanjali IV.17

 

Banyak objek, banyak benda di alam-benda, apakah kita tertarik dengan semuanya? Banyak peristiwa yang diberitakan oleh media, apakah kita mengikuti semuanya? Banyak kejadian di dunia ini, apakah kita memperhatikan dan terpengaruh oleh semuanya? Jelas tidak. Sebabnya adalah

 

CITTA ATAU BENIH PIKIRAN DAN PERASAAN MEMILIKI FAVORITNYA SENDIRI—ia mengejar apa yang disukainya. Ia tertarik pada apa yang disukainya berdasarkan kesan-kesan atau samskara, dan ingatan atau smrti dari masa lalu.

Bahkan, seperti yang dikatakan oleh Patanjali, citta tidak selalu merekam data tentang apa yang tidak disukai atau dibencinya. Ia lebih banyak merekam apa yang disukainya. Ragadvesa, suka dan tak suka, ketertarikan dan ketidaktertarikan—keduanya terekam. Namun, rekaman tentang suka lebih jelas dan tegas dibandingkan dengan rekaman-rekaman lain.

Sifat citta yang satu ini bisa menjadi berkah jika kita bersikap netral terhadap segala benda, segala kejadian, segala pemberitaan. Membiarkan semuanya terjadi dan mengalir, tidak menggenang. Tidak menyebabkan benih-benih baru.

Ada kenikmatan, ada suka, ya kita nikmati. Lalu membiarkannya lewat—tidak berusaha untuk mempertahankannya. Ada penderitaan, ada duka, ya kita hadapi. Lalu membiarkannya lewat pula—tidak mengenangnya sepanjang masa. Dengan demikian, kita terbebaskan dari “pendataan baru” oleh citta. Tinggal menyelesaikan, menghapus data-data lama saja.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s