Seks, Daya Tarik Alami Saat Pikiran Masih Liar

buku-paramhansa-sexy-bollywood

Pikiran tentang seks bisa muncul kapan saja, di mana saja, setiap saat. Ada interaksi dengan lawan jenis atau tidak, tak jadi soal. Saat Anda sedang sendirian pun, tetap bisa terganggu oleh seks. Janganlah sekali-kali melayani pikiran seperti itu. Sekarang masih berupa pikiran, sesaat lagi berubah menjadi fantasi. Saat itu gangguan yang Anda hadapi jauh lebih berat lagi. Sebab itu, seperti yang selalu dikatakan oleh Paramhansa Yogananda, setiap kali Anda mendeteksi seks dalam pikiran Anda, cepat alihkan pikiran Anda pada sesuatu yang lain.

Saat merasa “tergoda” oleh sesuatu yang kau lihat, terpikir, atau terasakan, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan mengalihkan perhatian pada napas. Tarik napas perlahan-lahan sambil mengembungkan perut, dan membuang napas sambil mengempisan perut. Setelah beberapa kali bernapas demikian, alihkan perhatian Anda pada suatu titik di antara kedua alis mata Anda. Dengan cara itu Anda bisa meningkatkan energi dan kesadaran Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut ini penjelasan dalam buku Otobiografi Paramhansa tentang Jiwa yang tidak mengenal perbedaan kelamin:

buku-paramhansa

Cover Buku Otobiografi Paramhansa Yogananda

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Dikisahkan tentang seorang murid baru Sri Yukteswar (gurunya Paramhansa Yogananda) yang sudah berguru tetapi masih bergaul dengan teman-temannya yang tidak menunjang evolusi spiritual. Akhirnya murid itu dikeluarkan karena dapat mempengaruhi murid-murid yang lain.

Seks dan minuman keras memang mempunyai daya tarik alami. Terbiasa memperoleh kebahagiaan sesaat dan kesenangan temporer dari objek-objek tersebut, kita lupa bahwa sumber segala kebahagiaan dan segala kesenangan berada dalam diri kita sendiri.

Shankaracharya, seorang pujangga terkenal, pernah menulis, “Dalam kedaan jaga, manusia selalu mencari kepuasan panca indera, lewat objek-objek di luar dirinya. setelah capai, lelah, letih, ia akan tertidur. Dan dalam alam tidur itu, ia akan memperoleh relaksasi yang berasal dari dirinya sendiri. Betapa pun menggairahkannya objek-objek itu – ketenangan, kenyamanan dan relaksasi yang diperoleh dari dalam diri melebihi yang dapat diperoleh dari luar diri.”

Berbicara tentang Kumar, Sri Yukteswar pernah mengatakan, “Pengetahuan memiliki dwifungsi. Seperti pisau—bisa digunakan untuk membedah bisul ketidaksadaran dalam diri kita, atau untuk membunuh ‘diri’ kita. Apabila pikiran kita sudah tidak liar, kita baru bisa memanfaatkan pisau pengetahuan, untuk membedah bisul ketidaksadaran.”

(Di Ashram ada saja pengalaman-pengalaman lucu. Salah satu kelompok kami pernah terlibat dalam suatu diskusi yang seru sekali. Kesimpulannya—dan ini didukung oleh seorang dokter—adalah bahwa “segala sesuatu yang terlihat ini sebenarnya hanyalah permainan pikiran, atau mind. Jadi, kita tidak perlu terlalu serius menghadapi kehidupan ini.

Kesimpulannya memang benar. Tetapi apabila pikiran kita masih liar, kita bisa menggunakannya untuk membenarkam kelemahan diri kita. Ya, kalau semua ini hanya sebuah permainan, kalau memang tidak perlu serius, saya bebas untuk bertindak ‘semau gue’. Saya boleh mencelakakan orang, toh hanya terjadi dalam sebuah permainan. Saya boleh menyakiti orang, kan hanya permainan. Saya boleh melakukan apa saja, karena semua ini hanyalah sebuab permainan. Demikianlah yang terjadi, kalau pikiran kita masih liar. Akhirnya, kita sendirilah yang celaka. Kita bisa saja membohongi diri kita—tetapi untuk berapa lama? Pikiran yang masih liar akan menggunakan ‘pengetahuan’, untuk mencelakakan diri sendiri.

Sebaliknya, pikiran yang sudah jinak, akan menggunakan ‘pengetahuan’ untuk meningkatkan kesadaran diri. Kesimpulan yang sama: dapat membuat kita semakin cerah, semakin bertanggung jawab. Apabila, semuanya ini suatu permainan, mari kita memainkan peran kita dengan lebih  bertanggung jawab. Mari kita memberikan sebuah pertunjukan yang indah, yang menyenangkan, yang akan dikenang sepanjang masa.

Seorang master akan sangat berhati-bati dalam hal menuntun anak didiknya. Pertama-tama, ia akan memberikan latihan-latihan untuk menjinakkan pikiran mereka yang masih liar. Ia tidak akan memberikan pengetahuan yang lebih tinggi, sebelum pikiran mereka terjinakkan. Memberikan pengetahuan lebih tinggi, sebelum terjinakkannya pikiran, persis sama seperti memberikan bom atom kepada orang gila. Ia akan mencelakakan dirinya dan orang lain.

Ada kritik yang sampai ke telinga saya—bahwa di Ashram ada pelajaran-pelajaran yang diberikan kepada kelompok-kelompok tertentu. Jadi ada semacam eksklusifisme. Memang ada, dan harus ada. Bagaimaa saya bisa memberikan pelajaran universitas pada anak TK? Spiritualitas bukanlah  sebungkus mie instan—dan kalaupun Anda mempersamakannya dengan mie instan, Anda harus ingat bahwa mie instan pun tidak untuk semua tingkatan umur. Spiritualitas menuntut kesabaran, keyakinan dan kerendahan diri—a.k.)

Guru saya tidak membeda-bedakan antara pria dan wanita, “Dalam alam tidur, Anda tidak tahu lagi, apakah_Anda pria, atau wanita. Sesungguhnya jiwa tidak mengenal perbedaan kelamin. Jiwa adalah bayangan Tuhan, yang tak pernah berubah, tak pernah ternoda.”

Beliau tidak pernah menganggap wanita sebagai “godaan”. “Pria pun bisa menggoda wanita. Ia yang menganggap wanita sebagai penggoda, seharusnya melakukan introspeksi diri. Karena tidak dapat mengendalikan dirl sendiri, janganlah kita rnenyalahkan wanita.

“Mereka yang tidak dapat mengendalikan diri, tidak dapat menikmati hidup ini. Mereka terjebak di tengah lumpur keinginan dan nafsu birahi.

“Kendalikan keinginanmu, nafsu birahimu. Jangan menjadi lemah. Jangan membiarkan keinginan serta nafsu birahi mengendalikan dirimu.” –

Nafsu birahi dan cinta terhadap objek-objek duniawi harus berubah rnenjadi kasih dan kerinduan terhadap Allah—dan Allah saja.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s