Keberagaman dan Keseragaman menurut Gita dan Yoga Sutra Patanjali

 

buku-yoga-sutra-patanjali-keberagaman

Keberagaman, kebhinekaan adalah “kebenaran-luar” — kulit dari Kebenaran Mutlak yang satu adanya. Jika kita menganggap kebenaran luar itu sebagai sesuatu yang mutlak, maka terciptalah perpisahan. Semestinya, keberagaman dan kebhinekaan luaran diterima sebagai ungkapan dari Hyang Tunggal, bukan sebagai faktor pemisah.

Perhatikan jus buah jeruk, atau buah apa saja….. Ketika belum diperas, belum menjadi jus — kulit setiap buah jeruk tampak beda. Ada yang tampak dekil, ada yang tampak segar. Jika kita memilih 3 buah saja untuk dibuatkan jus, rasanya mustahil kita bisa menemukannya yang ber-“penampilan” persis sama. Ya, 3 buah saja tidak bisa persis sama. Tetapi ketika tiga-tiganya diperas; maka jusnya sama. Esensinya sama. Khasiatnya sama. Rasa jeruk yang kita nikmati adalah sama.

Demikian pula dengan wujud-wujud keberadaan yang tampak beda – bhinneka – namun esensinya adalah satu, sama. Esensinya adalah Tunggal!

“Pengetahuan yang membuat seseorang melihat perpisahan antara satu makhluk dengan yang lain; seolah setiap makhluk berada sendiri-sendiri – adalah Pengetahuan Rajasika.” Bhagavad Gita 18:21

Mereka yang tidak dapat melihat esensi dan hanya memperhatikan perbedaan kulit adalah berpengetahuan Rajas. Jika kita rnelihat masih terjadinya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas, maka ketahuilah siapa pun yang melakukan diskriminasi itu adalah berpengetahuan rajasika. Dan, mereka yang membiarkan diskriminasi itu berlanjut, adalah sama pula – baru berpengetahuan rajasika.

Misalnya — bangsa ini, republik ini dibangun di atas landasan Pancasila, ya di “atas” landasan Pancasila. Dan landasan Pancasila adalah penjabaran dari semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, di mana kebhinnekaan kulit diakui, tanpa melupakan keekaan atau ketunggalan esensi, zat, daging! Jadi, republik ini dibangun di atas landasan sattvika – Sayang sekali jika landasan yang sudah betul itu diubah menjadi rajasika, di mana kebhinnekaan diagung-agungkan, sementara keekaan terlupakan… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut ini pandangan Yoga Sutra Patanjali tentang Keberagaman dan Keseragaman…….

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Suatu vastu atau benda materi tidaklah tergantung pada citta atau benih pikiran dan perasaan seseorang. Tiada yang dapat membuktikan hal itu. Bagaimana bisa? (Pengertiannya: Jika suatu benda dapat dijelaskan secara sempurna dan definitif berdasarkan persepsi citta seseorang, dan penjelasan itu dapat diterima secara universal oleh semua orang, maka tidak akan terjadi konflik, beda pendapat, argumentasi, dan sebagainya. Kenyataannya tidak demikian.)” Yoga Sutra Patanjali IV.16

 

Anjuran Patanjali lewat sutra ini jelas sekali, yakni kita mesti menerima perbedaan pendapat, perbedaan pandangan. Tiada suatu penjelasan yang definitif walau menyangkut benda yang sama, hal yang sama, sebab itu,

 

MEREKA YANG BERPANDANGAN SEMPIT sudah pasti tidak bisa menerima Yoga karena bagi mereka keberagaman pendapat adalah tabu.

Keseragaman adalah kebodohan.

Walau esensi dari segala benda, segala objek duniawi adalah sama, tapi penampilan mereka berbeda. Inilah keniscayaan. Dua helai daun dari pohon yang sama pun hanyalah mirip, tidak sama.

Kesatuan adalah pada inti segala benda—semua sama-sama carbon-based. Sedangkan pada Lapisan Luar, setiap benda berbeda. Jam tangan termahal dengan tingkat presisi setinggi apa pun masih tetap tidak bisa 100% precise, ada saja perbedaan nol koma nol nol nol nol sekian.

Hasil mesin pun tetap saja ada yang mesti di-reject karena tidak lolos standar kualitas yang ditentukan.

 

JIKA PANDANGAN SESEORANG—tentang apa saja—dibakukan, dijadikan dogma, doktrin kemudian setiap orang dipaksa untuk menerimanya, maka cepat atau lambat pasti terjadi penolakan berupa gejolak sosial.

Anehnya, walau memiliki sekian banyak contoh dari masa lalu, ada saja di antara kita yang masih tetap keukeuh ingin memaksakan kehendaknya, pandangannya, doktrinnya.

Hancurnya peradaban-peradaban besar pada masa lalu; demikian juga punahnya kepercayaan-kepercayaan yang sudah berusia ribuan tahun, disebabkan oleh ulah penguasa yang memaksakan “keseragaman”. Sebab, lebih mudah menguasai masyarakat yang seragam daripada yang beragam. Dan kepentingan penguasa umumnya adalah dengan kekuasaan by hook or by crook—menguasai dengan menggunakan cara apa pun. Bisa, tapi hanya untuk waktu yang sangat singkat Selanjutnya, mereka malah menjadi self-destructive, menghancurkan peradabannya sendiri.

Sutra-sutra seperti ini adalah bukti nyata bahwa Yoga tidaklah berurusan dengan gerakan-gerakan asana saja. Yoga mencakup segala aspek kehidupan. Yoga adalah pedoman hidup yang sangat komprehensif, sangat detail, sangat rinci.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s