Mengikuti Pikiran atau #SuaraHati?

buku-soul-awareness-ngefans-artist-atau-ngefans-jiwa

“Ketika pikiran kita tergoda untuk berbuat sesuatu yang ‘tidak tepat’; hati pun terbawa oleh nafsu; tapi, kita tetap ‘tidak’ melakukan hal itu; karena ada kekuatan lain yang mengatakan ‘tidak, itu tidak tepat’ — maka, ketahuilah bila kekuatan itulah kekuatan ‘diri’ kita yang sejati. Itulah nurani, itulah jiwa! Jiwa tahu persis ‘pengalaman’ apa yang hendak di ‘lewati’ nya, maka ia memandu kita — badan, indra, pikiran serta perasaan — untuk melewati pengalaman yang spesifik itu. Kita sudah sering mendengarkan dan mengikuti panduan Jiwa, lagi-lagi, hanya saja, belum selalu, belum sepenuhnya, belum 24/7.

“Bagaimana menyelaraskan lapisan fisik, mental/emosional, dan inteligensia kita dengan kehendak Jiwa? Dengan berlatih diri, dengan menumbuh-kembangkan keyakinan pada tuntunan Jiwa, dengan secara terus-menerus ngefans pada Jiwa, dan tidak ngefans pada tuntutan badan dan indra.

“Bhakti, devosi, panembahan – terjemahkan, artikan semua kata itu sebagai ‘ngefans’. Ketika kita ‘ngefans’ pada seorang penyanyi atau pemain sinetron, sesungguhnya kita sudah berbhakti padanya. Sekarang, mari ngefanslah pada diri sendiri, pada Jiwa. Mari meyakini kebijakan Jiwa. Dan, kita .menjadi’ Krsna — Oops, salah – tidak menjadi, tapi ‘menemukan’ Krsna di dalam diri, yang sesungguhnya sudah lama menantikan perhatian kita. Saat itu, kesadaran jasmani dan indrawi serta gugusan pikiran dan perasaan (mind) — semuanya menjadi alat untuk digunakan sewaktu kita membutuhkannya. Kita tidak lagi diperalat olehnya.” Demikian penjelasan Bhagavad Gita 7:26 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Demikian penjelasan suara nurani dalam Bhagavad Gita. Berikut penjelasan antara nurani/suara hati, suara mind dan suara insting manusia dalam buku Soul Awareness:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sahabat: Pak, dalam situasi tertentu, apakah bisa mind mengatakan begini, dan suara nurani mengatakan begitu? Maksudnya, apa yang dikatakan oleh mind bertolak belakang dengan apa yang dikalakan oleh hati nurani.

 

AK: Bisa saja, dan itulah yang sering terjadi. Itulah penyebab konflik yang terjadi dalam diri kita.

Suara mind tidak jauh Iebih baik daripada suara insting, dan insting kita sama dengan insting hewani. Urusannya makan, minum, tidur, kenyamanan, seks, dan survival—pertahanan diri. BoIak-balik itu saja.

Orang miskin maupun kaya raya; seorang pengusaha, pejabat, profesional, atau bahkan seorang pelacur, urusannya itu-itu saja. Ada yang melacurkan diri—dalam pengertian, melacurkan badannya—ada yang melacurkan batinnya.

Insting hewani berkepentingan dengan dirinya sendiri. Itu yang terutama. Sepenuhnya berada di bawah insting hewani, seseorang bisa saja tampak peduli terhadap keluarga, kerabat, atau siapa saja yang dekat dengannya—termasuk institusi, ideologi tertentu, dan sebagainya.

Ruang geraknya sebatas: aku, punyaku, milikku, itu saja. Ia tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut.

Sementara itu, jiwa berada dalam ruang tanpa batas. Semesta adalah miliknya, dan ia adalah milik semesta. Berada dalam ruang inilah, kemanusiaan kita bisa berkembang dan berbuah menjadi keilahian dan kemuliaan.

Saya pernah membaca: “Seseorang yang tidak lagi terpengaruh oleh insting hewani tidak bisa membenci. Bahkan, ia tetap mencintai orang yang memusuhi dan telah menyerangnya berulang kali.”

Tidak berarti “sleeping with the enemy”.

Tidak perlu sleeping with the enemy. Tidak perlu membuka usaha atau rekening baru dengan mereka yang jelas-jelas memiliki sifat raksasa. Namanya juga raksasa, kalau tidak bersifat seperti raksasa, bersifat seperti apa pula? Tidak perlu berurusan dengan mereka, tetapi tidak perlu membenci mereka pula.

Seperti itulah sifat seseorang yang telah mendengarkan suara hatinya, seseorang yang sudah tercerahkan, tersadarkan!

 

Sahabat: Pak, bagaimana tentang prosesnya? Ketika suara hati sudah mulai terdengar, apakah suara mind sudah tidak terdengar lagi?

 

AK: Idealnya demikian, pada suatu ketika pasti demikian. Namun, butuh waktu untuk mencapai kondisi ideal itu. Tidak secepat membalikkan tangan. Awalnya, mind memberikan parlawanan sengit, dahsyat. Ia ingin tetap berkuasa.

Saat itu, dibutuhkan kekuatan diri yang luar biasa untuk tidak mendengarkan suara mind, tetapi mengikuti kata hati, suara hati. Dengan demikian, sedikit demi sedikit, suara mind akan mengalami regresi, suara mind mulai mengendap… dan, suara nurani, kata hati mulai berkuasa.

Suara mind penuh keraguan, tiada kepastian, selalu bimbang namun memberikan kesan seolah mengetahui segalanya. Keras kepala “bodoh” adalah ciri khas seseorang yang sepenuhnya di bawah pengaruh mind.

Sementara itu, hati nurani selalu pasti, tidak pernah ragu. Ia tahu, maka ia tidak perlu bersikeras untuk mempertahankan sesuatu. Ia tidak perlu berkeras kepala. Bahkan, ia bisa mengalah walau tidak perlu. Mengalah untuk memberi kita waktu untuk memahami maksudnya.

Suara nurani selalu menggunakan kata-kata yang penuh dengan semangat, dengan encouragement. Dalam keadaan segenting apa pun, ia selalu teguh, bersemangat dan memberi, menyebar semangat. Tidak demikian dengan mind.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s