Aku Bersaksi, Bebas Karma atau Akulah Pelaku Terbelenggu #HukumKarma

buku-yoga-sutra-patanjali-aku-bersaksi-plus-teks

Berbagai karakter, kebiasaan dan kecenderungan kita saat ini adalah hasil dari kehidupan masa lalu

“Sebagai hasil (dari karma atau perbuatan baik, buruk, dan di antaranya) muncullah vasana, keinginan-keinginan atau obsesi-obsesi masa lalu, yang belum terpenuhi, mewujud sebagai kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan.” Yoga Sutra Patanjali IV.8

Sebaik-baik perbuatan kita, karma kita, jika masih ada setitik pun pamrih di baliknya, maka memunculkan vasana, obsesi, atau setidaknya keinginan untuk menikmati hasil dari perbuatan baik. Inilah yang kemudian—pada masa kehidupan berikutnya—menjadi modal bawaan. Inilah modal kebiasaan dan kecenderungan; atau sifat bawaan. Demikian penjelasan dari Yoga Sutra Patanjali IV.8

 

Sebagai Pelaku (Ke-aku-an) kita kena Hukum Karma, sebagai Saksi, Penonton tidak

Hukum Konsekuensi, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi, Karma, apa pun sebutannya menyangkut dunia-benda, alam-benda, kebendaan, prakrti. Jiwa tidak tersentuh olehnya. Sebagai Saksi atau Penonton, Jiwa tidak mesti tunduk pada disiplin panggung yang berlaku bagi para pemain. Hukum panggung berlaku bagi mind, manah, gugusan pikiran dan perasaan—tidak bagi Jiwa. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.7

 

Akar dari kelahiran dan kematian berulang-kali adalah Asmita, ke-aku-an

Akar dari segala penyakit adalah asmita—ke-aku-an, identitas-diri yang salah. Menganggap diri sebagai badan; manah, mind, dan gugusan pikiran serta perasaan; intelek; dan sebagainya—inilah akar segala penyakit, inilah sebab kelahiran kembali di alam-benda.

Dari asmita atau ke-aku-an inilah timbul vasana, obsesi-obsesi yang menjadi samskara, atau kesan dan smrti atau memori. Demikian, terkumpullah bahan-bahan untuk kelahiran ulang. Muncul citta, benih pikiran dan perasaan. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.9

 

Berikut ini penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.10 tentang Anugerah Tuhan dan IV.11 tentang kelahiran kembali karena keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi dalam kehidupan sebelumnya—adalah tragedi kita semua, tanpa kecuali. Kemudian, jika ditelusuri lebih lanjut ke belakang, ujung-ujungnya ke-aku-an atau asmita,

Sebelum memahami penjelasan lanjutan, mari kita sama-sama merenungkan dahulu: “Otak adalah hardware. Mind adalah software. Pada otak kita telah di-install program mind, maya/ilusi sehingga kita merasa sebagai Pelaku. Software tsb perlu di re-write dari mind menjadi buddhi/intelegensia, dari Pelaku menjadi Saksi. Mungkin saja kita sudah paham tapi bila otak kena masalah misal stroke pemahaman kita nggak berguna. Berimaginasi dengan otak (olah pikir) saja tanpa laku tubuh mungkin seperti onani, masturbasi. Tubuh, indra, otak perlu diperbaiki, diajak sujud diajak berbakti. Meditasi, yoga, seva/pelayanan, mantra/zikir penting utk mengubah tubuh, indra, otak. Pemahaman harus dilakoni dalam keseharian. Pujangga Sri Mangkunegara IV menyampaikan bahwa, “Ngelmu iku kalakone kanti laku”, Knowingness, Pengetahuan Sejati itu diperoleh dengan laku, praktek Namaste. Rahayu __/\__

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

 

“Ini (vasana, keinginan-keinginan atau obsesi-obsesi tampak) tanpa awal—anadi—, maka abadi—nitya. Namun, demikian pula Asisa atauAnugerah (llahi).” Yoga Sutra Patanjali IV.10

 

These, ini—dalam bahasa Sanskrit sudah disebut tasam, merujuk pada vasana, obsesi, atau keinginan-keinginan tersisa sebagaimana dijelaskan dalam sutra sebelumnya. Kemudian, ada lagi kata asisa, yang oleh setiap penerjemah dan pengulas yang pernah saya baca, lagi-lagi dikaitkan dengan hal yang sama, yakni vasana, obsesi, atau keinginan-keinginan tersisa.

 

SESUNGGUHNYA, KATA ASISA LEBIH SERING DIGUNAKAN UNTUK “BERKAH” atau “Anugerah”. Dari segi tata bahasa pun. sebagaimana Master menjelaskannya kepada saya, “Patanjali tidak pemah membuang Waktu. Ia tidak akan menggunakan dua kata untuk hal yang sama. Tasam atau Asisa —salah satu. Lagi pula, menerjemahkan asisa sebagai keinginan-keinginan yang tersisa, hanya karena ada ‘sisa’ dalam kata asisa, adalah suatu kesalahan.

“Sisa adalah sesa, taruhlah sisa pun bisa. Tapi kalau ada huruf a sebelumnya, maka kata tersebut menj adi negatif dan mesti diartikan sebagai kebalikannya. Jadi, kalaupun sisa diterjemahkan sebagai keinginan-keinginan yang ‘tersisa’, maka asisa mesti diterjemahkan sebagai keinginan-keinginan ‘yang tidak tersisa’. Kesalahan-kesalahan kecil ini dimulai oleh para penerjemah asing yang berniat baik, tapi sayang bukan pelaku Yoga. Kemudian, berlanjut terus. Tiada yang mengoreksinya. Sekarang, harus, mesti dikoreksi, tulis—asisa berarti anugerah. With it, Grace of God, all is possible. All vasanas can be eliminated, cancelled in an instant, just like that!

Dengan anugerah Tuhan, segala macam keinginan yang tersisa, vasana, bisa terhapuskan dalam sekejap. Waheguru, wow Guru, Engkau sungguh hebat! Terima kasih.

 

BAGI SEORANG NON-PRAKTISI, bagi seseorangyang tidak memahami Yoga, vasana, memang “terasa” anadi, tidak berawal. Dan, nitya, abadi, tidak pernah berakhir. Kenapa demikian?

Sebab kelahiran ini diawali vasana.

Vasana, obsesi atau keinginan-keinginan tersisa adalah yang menyebabkan kelahiran ini. Maka, kita yang masih terperangkap dalam pasang-surut ombak citta, manah, gugusan pikiran serta perasaan, sulit melihat awalnya. Apalagi mereka yang tidak memahami dan melakoni Yoga, bukan sulit lagi, tapi mustahil!

Sungguh tiada jalan lain untuk mengakhiri lingkaran samsara atau kelahiran dan kematian berulang-ulang, kecuali dengan berkesadaran Yoga, berkesadaran Jiwa.

Pengertian Yoga di sini adalah bersifat generik. Yoga dalam pengertian disiplin; Yoga dalam pengertian Kesadaran-Jiwa; Yoga dalam pengertian kemanunggalan dengan Jiwa Agung.

Kita tidak bisa memaksa seseorang yang tidak bisa atau belum bisa menerima hakikat Jiwa sebagai percikan Jiwa Agung yang tak-terpisahkan, untuk menerima Yoga. Percuma. Kemudian, perkara citta, vasana, dan hal-hal lain ini tidak perlu dijelaskan juga. Tidak ada gunanya.

 

“Berhubung akibat dan sebab saling terkait, terikat, maka lenyapnya atau berakhirnya sebab (asmita atau ke-aku-an, yang disebabkan oleh avidya atau ketidaktahuan tentang Jati Diri sebagai Jiwa, yang adalah percikan Jiwa Agung), melenyapkan, mengakhiri akibat (vasana atau obsesi dan keininginan-keinginan yang tidak terpenuhi, yang menjadi sebab bagi kelahiran ulang).” Yoga Sutra Patanjali IV.11

 

Lahir kembali karena keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi dalam kehidupan sebelumnya—inilah tragedi kita semua, tanpa kecuali. Kemudian, jika ditelusuri lebih lanjut ke belakang, ujung-ujungnya ke-aku-an atau asmita, yang sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya adalah akibat….

 

AVIDYA ATAU KETIDAKTAHUAN TENTANG HAKIKAT-DIRI. Karena tidak sadar bahwa hakikat kita semua adalah Jiwa, dan Jiwa adalah percikan Jiwa Agung. Sehingga terciptalah identitas-identitas palsu. Dan setiap identitas palsu tersebut ibarat badan.

Jadi, ada badan mental/emosional yang berpikir, “Aku berpikir, aku berperasaan, maka aku ada”; atau sebaliknya. Justru badan-fisik berpikir, “Aku ada, maka aku berpikir, aku berperasaan.” Intelek pun boleh beranggapan bahwa badan-fisik dan badan mental/emosional terkalahkan olehnya, atau berada di bawahnya. Demikian pula dengan badan-energi, “Tanpa aku, kalian semua tidak eksis.”

Demikian, setiap badan, setiap lapisan kesadaran menciptakan identitas palsu, ilusif. Semua berasal dari materi, dan akan kembali ke materi. Semua hanya bersubstansi sebatas substansi materi. Ada materi-kasar, gross, berupa tubuh, pancaindra, darah, tulang-belulang, otot, tisu, dan sebagainya. Ada badan halus, subtle, berupa indra-indra persepsi, gugusan pikiran serta perasaan, intelek, termasuk aliran kehidupan atau prana—semua materi.

Lebih halus dari segalanya.

Lebih halus daripada energi, sebagaimana kita mengenal energi, adalah sumber segalanya—Jiwa, Energi, Murni, Kesadaran Murni. Ketika kita menyadari hakikat diri sebagai Jiwa, maka lenyaplah avidya, ketidaktahuan. Bersamanya pula asmita—ke-aku-an palsu. Kemudian, vasana, samskara, smrti—semua tidak bisa bertahan juga. Semua gugur bersama asmita atau ke-aku-an palsu.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s