Hukum Karma Hukum Penuh Harapan #HukumKarma #Astrologi

buku-spiritual-astrology-konstelasi-bintang-plus-teks

“Segala sesuatu dalam alam ini saling berkaitan. Dalam hidup sehari-hari, manusia berhadapan dengan dua macam kekuatan. Kekuatan pertama adalah kekuatan gabungan elemen-elemen alami, seperti tanah, air, api , angin dan ruang angkasa, yang ada dalam dirinya. Kekuatan kedua adalah kekuatan alam di luar dirinya. Selama kesadaran manusia masih berada pada lapisan fisik yang bersifat sementara, ia akan selalu dipengaruhi oleh  perubahan-perubahan yang terjadi di bumi dan di langit.

 

“Astrologi merupakan ilmu untuk mempelajari respons manusia terhadap berbagai rangsangan yang diperolehnya dari planet-planet lain. Bintang-bintang dan planet-planet tidak pilih kasih.mereka tidak bisa membantu, atau mencelakakan manusia. Mereka hanya menjadi sarana bagi terlaksananya hukum sebab-akibat.

 

“Seorang anak lahir pada hari dan jam tertentu, dan dipengaruhi oleh bintang tertentu, karena karma dia pada masa yang lalu. Ilmu astrologi dapat menjelaskan pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang. Namun yang menguasai betul il mu itu, hanyalah segelintir manusia.

 

“Apabila kita menyadari sepenuhnya bahwa perbuatan kita pada masa lalu telah menentukan masa kini, maka dengan perbuatan kita pada masa kini, kita dapat merancang masa depan, sesuai dengan keinginan kita. Apalagi seorang manusia juga memiliki akses terhadap kekuatan-kekuatan spiritual, yang tidak terpengaruh oleh bintang dan planet.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut ini penjelasan tentang Karma pada buku Spiritual Astrology……..

buku-spiritual-astrology

Cover Buku Spiritual Astrology

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kelahiran seorang anak terjadi ‘saat’ pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu. -SRI YUKTESHWAR, 1855-1936 Mistikus/Yogi, Guru Yogananda.

Seorang guru mengaitkan “karma” dengan agama tertentu. Patut disayangkan. Apa yang akan diajarkannya kepada anak didiknya? Bahwasanya Hukum Gravitasi adalah Kristiani karena penemunya adalah seorang penganut agama Kristen? Atau, Hukum Relativitas adalah Yahudi karena penemunya adalah seorang penganut agama Yahudi? Atau, Ilmu Kimia adalah Arab karena istilah itu berasal dari bahasa Arab? Atau, Matematika itu India karena angka “0” (Nol) berasal dari India?

 

Hukum Karma, Sebab-Akibat, atau Aksi-Reaksi adalah Hukum Alam yang bersifat universal. Tidak bisa dikaitkan dengan agama, peradaban, atau budaya tertentu. Jika kita alergi terhadap bahasa Sanskerta, atau Kawi, boleh saja kita menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Cina, atau Arab. Tidak menjadi soal.

 

Hukum Karma dan Kelahiran Kita

Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri.

Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia.

Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu.

 

Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini.

 

Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan.

 

Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s