Yang Terikat Hukum Karma, Reinkarnasi dan Evolusi Adalah Mind Kita, Kesadaran Ilusif

buku-atma-bodha-david-copperfield

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku – maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.” Bhagavad Gita 7:19

 

Para Bijak – sebijak apa pun mereka – masih tetap berada dalam siklus kelahiran dan kematian. Mereka belum bebas. Banyak sekali pemikir hebat dan para filsuf spiritual – bukan sekadar berfilsafat memamerkan pengetahuan – semuanya masih terperangkap dalam dan oleh alam-benda. Semuanya masih belum dapat melihat apa yang sesungguhnya ada di balik tirai ilusif maya yang membingungkan.

Maya – Kekuatan yang bersifat ilusif memberi kesan “ada” padahal “tidak ada”. Maya memang diciptakan untuk memfasilitasi pertunjukan-Nya di atas panggung dunia ini. Seperti halnya para penyelenggara pertunjukan modern menggunakan sound system, lighting, dan berbagai peralatan mutakhir lainnya untuk memeriahkan pertunjukan – pun demikian Tuhan menggunakan maya untuk menciptakan berbagai ilusi!

Bayangkan kejadian ini – seorang penyelenggara atau stage director didatangi seorang sahabat lama. Ia ikut menyaksikan pertunjukan, yang dihebohkan sebagai sulap terbesar sepanjang masa. Kemudian, seusai show ia menyalami sang stradara dan mengucapkan selamat, “Wah, hebat sekali tadi – khususnya bagian…..”

Sang Sutradara tersenyum, “Bagian sulap yang kau saksikan itu, sungguhnya bukan sulap – hanya ilusi mata. Datanglah ke belakang panggung. Lihatlah peralatan yang canggih ini, semuanya digunakan untuk menciptakan ilusi sesaat, sehingga penonton terkesima, terperangah, menganggap sulap!”

SANG SUTRADARA MENJELASKAN HAL ITU kepada seorang sohib, seorang yang dipercayainya, dicintainya, disayanginya. Ia tidak akan membuka semua kartunya di depan siapa saja. Tidak. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan Shankaracharya dalam buku Atma Bodha tentang mind penyebab pandangan ilusif kita…….

buku-atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sebagaimana pelita menerangi tempat (di mana ia diletakkan), begitu pula Sang Aku menerangi Buddhi indra dan sebagainya. Sang Aku-lah yang memberdayakan mereka. Tanpa Sang Aku, mereka sungguh tak berdaya. Atma Bodha 28

 

Nyalanya bolam, karena listrik. Tanpa listrik, apa daya sebuah bolam?

Bagi seorang Buddha, bagi seorang Shankara, mind masih merupakan materi. Banyak orang bicara tentang pengosongan pikiran. Untuk apa? Pisahkan dirimu dari pikiran. Tidak perlu repot-repot dikosongkan segala. Bagaimana pula engkau bisa mengosongkan pikiran?

Bagaimana engkau bisa mengosongkan bolam yang “sedang menyala” dari aliran listrik? Selama engkau masih hidup, masih menyala, pengosongan pikiran tidak mungkin. Mustahil. Hal ini sudah sering kita bicarakan.

No-Mind berarti menyadari peran Sang Aku, menyadari peran Kasunyatan. Bila hal itu sudah kau sadari, bahkan perpisahan dari mind pun sudah tidak perlu lagi. Biarlah dia ada. Kapan mau pakai, dipakai. Tidak perlu pakai, biarkanlah beristirahat.

Cukup menyadari bahwa “Sang Aku” bukanlah mind, bukan pula indra. Mind dan indra bekerja karena Sang Aku. And yet, Sang Aku tak terpengaruh oleh mind, indra, dan lain sebagainya.

Seperti halnya seorang tukang pos, yang bertugas mengantar surat. Dia tidak perlu tahu apa isi surat yang hendak ia antar. Dia tidak terpengaruh oleh berita suka dan duka yang ada di dalam surat itu.

Swami Chinmayananda memberi perumpamaan. Misalnya Anda sedang bepergian dengan kereta api. Katakan dari Jakarta ke Yogyakarta. Di dalam gerbong terdapat puluhan orang dengan tujuan berbeda. Ada yang hendak menghadiri pesta. Ada pula yang melayat. Ada yang mau kuliah. Ada yang berlibur. Walau menggunakan kereta yang sama, bahkan gerbong yang sama, tujuan mereka berbeda-beda,

Berada di dalam gerbong itu, anda tidak peduli dengan tujuan mereka. Suka dan duka yang mereka alami sama sekali tidak mempengaruhi Anda.

Apa yang terjadi ketika Anda mendengar tentang kecelakaan lalu-lintas? Bila terjadi di Jakarta, Anda masih merasakan “sesuatu”. Bila terjadi di luar negeri, “sesuatu” yang Anda rasakan tidak seintens, tidak sekuat itu.

Apa pula yang anda rasakan bila kecelakaan itu menelan korban, dan korbannya seorang kawan, kerabat? Lebih-lebih bila yang menjadi korban, anggota keluarga sendiri?

Persoalannya bukanlah kecelakaan lalu lintas, tetapi apa “kaitan”-nya dengan diri Anda. Dan sang pencipta kaitan adalah mind! Padahal mind itu sendiri masih merupakan materi, yang tak berdaya bila tidak diberdayakan oleh Sang Aku. Pengalaman-pengalaman hidup kehilangan arti bila Sang Aku tak hadir.

Moksha berarti kebebasan. Kebebasan apa? Dari siapa? Dari keterikatan. Dari keterkaitan. Tidak mengkait-kaitkan diri dengan apa saja. Dengan siapa saja.

Untuk mcncapai moksha, untuk memperoleh keselamatan, untuk mengakhiri lingkaran kematian dan kelahiran, Anda tidak butuh lahir sampai seratus kali. Sekarang dan saat ini pun, Anda bisa terbebaskan. Anda bisa mcncapai moksha, bisa memperoleh keselamatan, bisa terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian.

Yang terikat dengan Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat, Reinkarnasi, Evolusi, dan lain sebagainya adalah badan Anda, mind Anda, jiwa Anda, ego Anda. Kesadaran Ilusiflah yang terikat dengan semua itu.

Merasa “terjerat” olch hukum-hukum itu pun adalah bagian dari Kesadaran Ilusif. Dengan melampuinya, engkau terbebaskan dari ilusi dan segala produk hukumnya.

Moksha atau kebebasan bukan sesuatu yang sulit dicapai. Saat ini pun bisa dicapai. Kita saja yang masih angong (tolol dalam bahasa Mandarin—a.k.), sehingga harus lahir kembali berulang kali. Berarti kita tidak naik kelas. Ada yang bilang dirinya sudah lahir seribu kali. Dan, anand krishna sudah lahir 2.000 kali. Itu sebabnya, kata dia, anand krishna sangat bijak. Bijak? Bijak apa? Tidak naik kelas 2.000 kali berarti tolol. Dan, bila anand krishna sudah lahir 2.000 kali menjadi manusia, dia lebih tolol lagi.

Tidak, tidak perlu lahir 1.000—2.000 kali. Sekarang dan saat ini juga, engkau bisa terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s