Galau tentang Kehidupan Kita di Teater Dunia? Sebagai Pelaku Baper atau Pemirsa Care?

buku-bhagavad-gita-teater-anak-muda

Pemain Baper?

Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan ‘peran’ yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika ‘peran’ itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.” Penjelasan Bhagavad Gita 7:14

Kita ini ibaratnya begitu menjiwai peran dalam teater kehidupan yang tragis…..

“Tertipu oleh peran – tertipu oleh karakter-karakter di atas panggung. Kita pun sedang menuju nasib yang sama. Mati secara alami dalam keadaan kecewa atau mati bunuh diri – sama saja. Unsur kekecewaan ada dalam keduanya.”

“Tapi apakah setiap orang mesti mengalami nasib yang sama? Tidak, Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut ini penjelasan Bhagavad Gita 15:7 tentang diri kita sebagai Jivatma, Jiwa Individu yang merupakan percikan dari Sang Jiwa Agung, sebagai penonton, pemirsa, saksi. Akan tetapi bila kita lupa peran kita sebagai saksi dan merasa sebagai pelaku (ke-aku-an muncul), maka kita akan mengalami suka-duka dalam kehidupan.

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Jivatma, Jiwa Individu, yang berada di dunia, di alam benda, sesungguhnya bersifat abadi, karena Ia adalah percikan-Ku. Ialah yang mengumpulkan (dan berinteraksi dengan) pancaindra dan gugusan pikiran dan perasaan (mind), yang semuanya adalah bagian dari Prakrti, Alam Benda.” Bhagavad Gita 15:7

 

Permainan di dunia ini, pertunjukan di atas panggung alam kebendaan ini disebabkan oleh pertemuan antara Jivatma atau Jiwa Individu, dengan segala perlengkapan di atas panggung alam benda.

 

JIVATMA ATAU JIWA INDIVIDU – aku dengan “a” kecil – adalah bagian atau percikan dari Purusa atau Gugusan Jiwa, yang adalah percikan Paramatma – Sang Jiwa Agung, Sang Aku. Sebab itu, ia memiliki sifat yang sama seperti Paramatma, Jiwa Agung – yakni, abadi.

 

Di atas panggung alam kebendaan ini tersedia tubuh dengan segala perlengkapannya; gugusan pikiran serta perasaan, intelegensia, indra, dan lain sebagainya. Ketika Purusa ingin mengalami permainan di atas panggung ini, maka ia menarik dan mengumpulkan para pemeran. Ia “menyinari” Anda, saya, dan atau siapa saja dengan sinar kehidupan. Dan mulailah pertunjukan!

Nah, setiap “sinar kehidupan” berfokus pada salah satu pemeran dengan segala perangkatnya – badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya. Saat itu, sinar kehidupan yang menguasai “seperangkat” itu disebut Jivatma, atau Jiwa Individu.

 

PERSIS SEPERTI LAMPU SOROT DI PANGGUNG – Jiwa Individu berfokus pada, dan menyoroti salah satu pemain. Kemudian, sebagai saksi, ia pun menyaksikan permainan sang pemeran tersebut. Demikianlah hubungan Jiwa Individu dengan tubuh dan segala perlengkapannya; pancaindra, pikiran serta perasaan, dan lain-lain.

Jivatma, lampu sorot itu, ibarat “Sinar Matahari”, adalah bagian yang tak terpisahkan dari “Cahaya” Matahari Purusa atau Gugusan Jiwa; yang ada karena adanya “Matahari” Paramatma – Jiwa Agung. Hyang adalah Sumber segala-galanya.

Jivatma tidak memiliki eksistensi di luar Purusa, dan Purusa di luar Paramatma. Tanpa Paramatma sebagai sumbernya, tidak ada Purusa, dan lampu sorot Jivatma pun tidak berdaya. Ia ada karena “adanya Purusa, adanya Paramatma”. Inilah Tritunggal Tertinggi: Jivatma, Purusa, dan Paramatma.

 

KETIKA JIVATMA MENYOROTI SALAH SATU PEMERAN – maka ikut tersorot pula setiap tubuh dengan segala perlengkapannya yang terkait dengan peran tersebut. Demikian, Jivatma atau Jiwa Individual turut menyinari salah satu cerita yang sedang “berlangsung” di atas panggung.

Banyak cerita yang sedang berkembang, banyak acara yang sedang berjalan, banyak sekali program di atas panggung alam benda. Jumlah pemeran, pemainnya pun tak terhitung. Bukan saja manusia, tetapi juga makhluk-makhlukm lain – dari cacing hingga gajah, dan lainnya.

Jivatma menyinari salat satu “set” dari dari sekian banyak “set” cerita. Sebagai penonton, ia bisa menikmati apa yang sedang disajikan. Namun, ketika ia lupa bila dirinya adalah penonton dan mengidentifikasikan dirinya dengan salah satu pemeran atau salah satu cerita – maka ia larut dalam permainan tersebut. Ia “merasa” dirinya ikut terluka ketika seorang pemeran terluka sesuai dengan jalur ceritanya. Ia “merasa” dirinya kaya, miskin, tinggi, rendah, punya, tak punya, dan sebagainya.

Untuk menghindariperasaan-perasaan keliru yang dapat mengguncangkannya, ia mesti selalu ingat bila dirinya bukan pemeran – tetapi saksi. Bila dirinya adalah bagian dari Diri-Abadi, Sang Jiwa Agung, Paramatma.  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s