Apa yang Berubah antara Sebelum dan Sesudah Pencerahan?

buku-dvipantara-jnana-sastra-anekdot-zen

Mengikuti Guru yang sedang naik Gunung atau yang sudah turun Gunung?

Di tahun 2008 sekitar empat tahun mengikuti Anand Ashram, penulis pernah meng-upload tulisan tentang “mengikuti Guru yang sedang naik gunung atau yang sudah menuruni gunung”?

Mereka yang sedang naik gunung, pandangannya terfokus ke puncak, kurang begitu peduli dengan lingkungan sekitar.

Mereka mengerti tentang hukum alam dan menjelaskan secara gamblang persoalan di alam ini. Mereka yang mengerti hukum alam tersebut disebut Resi.

Mereka yang sudah turun gunung, melihat keadaan di bawah dengan pandangan yang lebih jelas.Mereka melihat ketidakadilan dengan jelas. Mereka disebut Bhagawan, Maitreya.

Nabi Muhammad, Gusti Yesus adalah nasionalis sejati, walau jelas spiritualis, perhatikan ajaran kemasyarakatan mereka. Krishna tidak duduk diam menjadi Resi di puncak Gunung, beliau ditengah masyarakat membimbing Arjuna menegakkan keadilan.

Kalau banyak orang mengikuti Guru yang sedang naik ke puncak, maka kedamaian yang diperoleh masih semu. Kedamaian itu dimanfaatkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari kedamaian semu tersebut. Mungkin negeri kita sudah terpecah-belah tapi kita belum sampai ke puncak juga.

Berikut ini pandangan leluhur kita dalam buku Vrhaspati Tattva tentang perubahan dalam diri antara sebelum dan sesudah mencapai pencerahan……..

buku-dvipantara-jnana-sastra

Cover Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dengarkanlah Saptanga atau Tujuh Bagian diri (yang dibersihkan dan dimurnikan) — yaitu: Tanah, Air, Cahaya, Eter, Buddhi atau Inteligensia, dan Manah atau Mind.” Vrhaspati Tattva 62

 

SEMUA INI ADALAH ELEMEN-ELEMEN ATAU BAHAN BAKU dari tubuh fisik kita. Pertama-tama, elemen dasar ini dibersihkan dan dimurnikan – menjadikan kita sehat secara holistic. Bukan sekadar kesehatan fisik, tetapi juga ketajaman Buddhi atau Inteligensia, dan kemampuan mengendalikan mind atau Manah.

Berikutnya,

 

“Konon dikatakan ada Tujuh Api atau Saptagni (yang disebabkan oleh berbagai fakultas atau aspek diri kita) — api yang membaui; api yang mencecap; api yang melihat; api yang menyentuh; api yang mendengar; api yang berpikir; dan api yang mengetahui.” Vrhaspati Tattva 63

 

SESUNGGUHNYA MASING-MASING DARI TUJUH ASPEK DARI “DIRI” KITA INI merupakan tujuh fungsi dari tubuh materi. Sesungguhnya ada beberapa fungsi lain, baik yang tidak volunter seperti berdetaknya jantung, dan volunter seperti makan, dan lain-lain — namun, tujuh fungsi ini adalah yang terkait langsung dengan Trsna atau Craving, perasaan mendambakan yang paling intens. Setidaknya, dianggap demikian dalam model ini. Oleh karenanya, tujuh ini disebutkan mendapatkan manfaat dari laku spiritual seorang sadhaka sebagaimana dijelaskan di atas.

 

“Suara, sentuhan, wujud, rasa, bau, pikiran, dan pengetahuan (demikian, dibersihkan dari segala kotoran sehingga sadhaka atau pencari spiritual dapat menikmati semua itu yang sudah dimurnikan, dan,) sekarang disebut sebagai Saptamrta atau Tujuh Abadi.” Vrhaspati Tattva 64

 

ADA SEBUAH ANEKDOT ZEN YANG INDAH UNTUK MENJELASKAN HAL INI….. Seorang pemula bertanya pada Master, “Master, Master, apa yang Anda lakukan sebelum pencerahan? Maksud saya hidup macam apa yang Anda jalani sebelumnya?”

Sang Master menjawab, “Yah, saya bekerja di ladang, menanam kentang, menikmati the setelah bekerja keras seharian — seperti itu.”

Sang pemula merasa itu lucu, “Tapi, Master, itukah yang masih Anda lakukan.”

“Lalu, memangnya apa yang kau pikir terjadi setelah pencerahan? Apakah scorang Buddha, seorang insan tercerahkan menjadi bertanduk?”

Tidak, para Buddha tidak jadi bertanduk.

Mereka tetap sebagaimana adanya – setidaknya secara eksternal. Transformasinya terjadi secara internal. Minum teh sebelum dan sesudah pencerahan adalah dua hal yang berbeda. Menanam kentang sebelum pencerahan adalah sebuah tindakan egois demi keuntungan pribadi. Menanam kentang setelah pencerahan adalah sebuah tindakan persembahan – seperti menjadi bidan bagi Bunda Pertiwi, dan berbagi berkah-Nya dengan semua.

 

JIKA KITA MEMAHAMI CERITA ZEN INI, kita juga memahami makna tersirat dari ayat ini.

Api yang membara telah padam sekarang. Tiada lagi craving, mengidam-idamkan ini dan itu. Sekarang mereka menjadi penampung amrta, ambrosia kehidupan abadi yang siap dibagikan kepada semua orang.

Seorang Buddha, seorang insan tercerahkan melakukan segala hal yang kita lakukan – tetapi dengan — mind yang berbeda, mind yang telah ditransformasikan, dengan perspektif yang berbeda; dan, mungkin untuk sebuah alasan yang sama sekali berbeda pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s