Pelaku Yoga Tidak Terkena Karma? Pelaku yang Bagaimana?

buku-yoga-sutra-patanjali-pelaku-yoga

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

Kuncinya adalah berkarya tanpa pamrih.Ketika seseorang berkarya dengan semangat demikian,maka sesungguhnya ia ‘tidak berkarya’, karena ia tidak tersentuh oleh konsekuensi dari perbuatannya. Itulah Akarma-karma………..

…………..

Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab: DENGAN KESADARAN SEJATI. .. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun. Ini sisi lain dari filsafat spiritual.  Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya.

Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita.” Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 4:19 buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali tentang perbuatan yang bebas dari segala konsekuensi perbuatannya:

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Demikian, karma atau perbuatan seorang Yogi (yang dilakukannya secara meditatif) tidak putih, tidak pula hitam; sementara itu karma mereka yang tidak meditatif adalah tiga macam (hitam, putih, dan abu—berarti baik, buruk, dan di antaranya. Sehingga mereka mesti menanggung akibat dari setiap perbuatan mereka; tidak seperti seorang Yogi, yang bebas dari segala konsekuensi perbuatannya).” Yoga Sutra Patanjali IV.7

 

Adalah niat di balik suatu tindakan—tindakan apa saja—yang membedakan karma seorang Yogi dengan karma kita yang masih belum menjadi Yogi.

 

SEORANG YOGI BERKARYA TANPA PAMRIH, tanpa ke-aku-an, maka ia tidak menanggung konsekuensi dari perbuatannya. Dengan demikian, ia tidak menciptakan benih-benih baru yang bisa menjadi citta, bisa mengkristal menjadi manah, mind, atau gugusan pikiran dan perasaan.

Hukum Konsekuensi, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi, Karma, apa pun sebutannya menyangkut dunia-benda, alam-benda, kebendaan, prakrti. Jiwa tidak tersentuh olehnya. Sebagai Saksi atau Penonton, Jiwa tidak mesti tunduk pada disiplin panggung yang berlaku bagi para pemain. Hukum panggung berlaku bagi mind, manah, gugusan pikiran dan perasaan—tidak bagi Jiwa.

Seorang Yogi tidak menanggung akibat karma, sebab ia berada dalam Kesadaran Jiwa. Jadi bukan dengan sekadar melakukan berbagai latihan kemudian seseorang menjadi Yogi, kemudian terbebaskan dari Hukum Karma—tidak demikian. Seorang Yogi layak disebut Yogi, jika ia berkesadaran Jiwa. Jika belum, ia tidak layak disebut Yogi.

Sebagian di antara kita menganggap bahwa dengan melakukan beberapa asana setiap hari, dirinya sudah menjadi Yogi. Ada lagi yang beranggapan dengan membaca buku sepanjang hari, ia menjadi Yogi Itu pandangan-pandangan yang keliru. Seorang Yogi tidak bisa berada di antara tumpukan buku, tidak bisa juga dalam keadaan kaki di atas kepala di bawah sepanjang hari. Seorang Yogi berkarya, membanting tulang, berkeringatan, melakukan asana juga, baca buku juga—ia supersibuk dengan beragam kegiatan sepanjang hari. Ia menikmati semua itu. Ia melakukannya sebagai persembahan kepada Hyang Mahakuasa. Ia tidak mengharapkan imbalan apa pun. Kemudian, sesuai dengan jaminan Sri Krsna dalam Bhagavad Gita, segala kebutuhannya terpenuhi berkat anugerah, grace Hyang Mahakuasa.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s