Kesadaran Hakiki dan Aku Ilusif, Belajar dari Lempengan Aluminium Candi Mendut

buku-atma-bodha-cahaya-di-dalam-candi-mendut-karena-pantulan-lempeng-aluminium-plus-teks

Seandainya seorang penulis menulis tentang kejahatan, apakah ia menjadi jahat oleh karenanya? Seandainya seorang pelukis menggambarkan adanya kejahatan, apakah ia ikut menjadi jahat? Tanya Rumi lewat Masnawi. “Aku” sedang bercerita tentang baik dan buruk. Alam ini adalah lukisan “Tuhan”. Cerita tentang kebaikan dan keburukan tidak mempengaruhi “Aku”. Bila “aku” menganggap diri sebagai bagian dari cerita, bagian dari lukisan, maka kebaikan dan keburukan, keberhasilan dan kegagalan, keberuntungan dan kerugian terasa sangat “real”, seolah-olah terjadi benar.

Berikut ini penjelasan Atma Bodha tentang “Aku Ilusif” yang menganggap aku sebagai pelaku kisah Tuhan.

buku-atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Pertemuan Kesadaran Hakiki dengan Buddhi dalam Aviveka melahirkan “aku ilusif”. Padahal baik Kesadaran Hakiki maupun Buddhi, dua-duanya bagian dari “Sang Aku Sejati”. Atma Bodha 25

 

Sepasang saudara kandung berpisah di Pekan Raya Kehidupan dan bertemu lagi setelah belasan tahun. Mereka sudah tidak saling mengenal. Yang satu telah menjadi perwira polisi. Yang Iain seorang pencopet. Maka terjadilah kejar-mengcjar. Polisi mengejar pencopet. Semua itu terjadi dalam aviveka, dalam ketidaktahuan, dalam ketidakjelasan identitas diri.

Kendati demikian, apakah hubungan darah mereka terpengaruh oleh ketidaktahuan itu? Tidak. Mereka tetap saudara kandung, dilahirkan oleh seorang ibu yang sama.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi Candi Mendut di Yogyakarta. Tidak ada lampu di dalam Candi. Cahaya dari luar pun tidak masuk. Maka, para penjaga meletakkan lempengan aluminium di luar Candi. Posisi peletakannya tepat sekali, sehingga cahaya matahari yang memantul dari lempengan itu menerangi patung Buddha di dalam Candi.

Cahaya Matahari di luar adalah “Kesadaran Hakiki”. Lempengan aluminium adalah Buddhi. Cahaya yang masuk ke dalam candi adalah “aku ilusif”, pengetahuan ilusif tentang diri.

Cahaya di dalam Candi sesungguhnya “tidak ada”, walaupun “tampak ada”. Cahaya itu sepenuhnya berasal dari Cahaya Matahari yang tak terbatas, tetapi keberadaannya di dalam Candi terasa “terbatas”, cukup untuk menerangi patung Buddha saja. Bila lempengan aluminium di luar lebih besar ukurannya, ruang terang di dalam Candi pun akan meluas.

Yesus mengingatkan, cahaya yang berada dalam dirimu itu bukanlah cahaya biasa. Itulah Cahaya Ilahi. Maka ia pun bersabda, “Kerajaan Allah berada di dalam dirimu.” Para Sufi menyebutnya Nur-Ilahi.

Keberadaanmu, wahai insan, membuktikan Keberadaan Allah. Cahaya di dalam dirimu adalah Cahaya-Nya. Tidak ada dua cahaya. Tidak ada dua sumber cahaya. Yang ada di luar juga ada di dalam. Selama ini kita tidak menyadarinya. Itu saja

Refleksi anau pantulan cahaya di dalam diri menciptakan “aku ilusif”, pengetahuan ilusif, identitas palsu. Itu sebabnya, ketika seorang “ateis” menyatakan Tuhan tidak ada, sesungguhnya ia sedang “meniadakan” pantulan cahaya di dalam diri. Karena itu, janganlah engkau cepat-cepat menghakimi mereka yang kau anggap ateis. Pahami bahasa mereka. Yang mereka tolak adalah “konsep-konsepmu” tentang Tuhan. Yang membuatmu gerah adalah penolakannya terhadap apa yang “kau anggap” benar. Otherwise, how can one deny God? Mungkinkah seseorang menolak Keberadaan-Nya? Penolakan pun sesungguhnya hanya membuktikan Keberadan Dia. Bagaimana seseorang bisa menolak, bagaimana seseorang bisa “ada” sehingga bisa menolak, jika tidak ada Keberadaan? Penolakan dan penerimaan, dua-duanya terjadi di “dalam” Keberadaan.

Mereka yang tengah mencari Tuhan di “dalam” dunia dan di “dalam” diri sesungguhnya hanya menemukan ”pantulan”-Nya. Langkah berikutnya, seorang pencari harus menyadari bahwa cahaya yang ia temukan hanya “pantulan”. Tidak perlu menolak pantulan. Terimalah pantulan sebagai pantulan. Pantulan itu ada karena cahaya. Tanpa cahaya, tak akan ada pantulan. Pantulan itu ilusif, yang ada hanyalah cahaya, cahaya, cahaya….

Pernyataan para ateis bahwa “Tuhan tidak ada” hanyalah sebuah “reaksi” terhadap kesalahan yang dilakukan oleh para “teis”. Sementara ini para teis menganggap pantulan sebagai Sumber Cahaya. Kepercayaan, kitab suci, ajaran, dogma dan doktrin tertentu discjajarkan dengan Allah, dengan Tuhan. Semua itu memang “dari” Tuhan, tetapi tidak bisa disejajarkan dengan Tuhan. Pantulan tidak bisa disejajarkan dengan Cahaya. Sesungguhnya pantulan tak terpisahkan dari Allah. Pantulan tidak memiliki eksistensi diri di luar Allah.

Berada di luar candi, ateis meneriaki teis, Edan kau. . .. Itu bukan cahaya, hanya pantulan. Sesungguhnya tidak ada cahaya di dalam sana.”

Teis marah besar, “Apa katamu? Tidak ada cahaya? Lha ini apa? Kalau bukan cahaya, apa?”

Pertikaian antara ateis dan teis sesungguhnya tidak perlu terjadi. Kebenaran yang mereka tangkap hanyalah separuh. Bila ditangkapnya secara utuh, mereka tak akan bertengkar lagi. Pertikaian, pertengkaran dan perang atas nama agama terjadi karena penangkapan kita masih separuh-separuh.

Renungkan sejenak………

Apa gunanya lempengan aluminium, bila tidak ada cahaya? Lempengan aluminium pun berfungsi karena adanya cahaya. Tanpa Cahaya Ilahi, tanpa Kesadaran Hakiki, maka mind, Buddhi, pikiran atau apa pun sebutannya, tak akan berfungsi.

Karena itu, meniadakan mind sesungguhnya ibarat meniadakan lempengan aluminium. Pantulan tidak ada lagi, tetapi cahaya tetap ada. “Aku Ilusif—aku-badan, aku-pikiran, aku-rasa, aku-ini, aku-itu—tidak ada, tetapi Sang Aku tetap ada.

Saya memiliki sepasang mata, anda pun demikian. Tetapi untuk saling melihat, kita masih juga membutuhkan cahaya. Tanpa cahaya, saya tidak bisa melihat anda. Tanpa cahaya, anda tidak bisa melihat saya. Mata kita seperti lempengan aluminium saja. Tanpa cahaya, lempengan itu tak akan memantulkan apa-apa.

Bila kita merasa “berpisah” dari Dia, merasa “terusir” dari Taman-Nya, itu pun “karena” Dia. Perpisahan dan pertemuan, dua-duanya terjadi “karena” Dia. Dialah Sebab Utama segala kejadian.

Tanpa listrik, bola lampu tak akan menyala. “Ilusi” adalah ketika bola lampu merasa dirinya sebagai sumber cahaya. Ini yang disebut “aku ilusif”.

Biarlah bola lampu menyala terus, sampai rusak atau mati, maka lenyaplah “aku ilusif”. Habiskan pikiranmu, karena kalau sebatas melelahkannya saja, dia bisa beristirahat sebentar dan bangkit kembali dalam keadaan lebih segar.

Latihan-latihan yang disebut “meditasi”— padahal sebatas mengistirahatkan mind—justru memperkuat dan menyegarkan mind yang sudah lelah. Itu sebabnya, para “meditator”, ya “meditator” dalam tanda petik pun malah menjadi angkuh, sombong. Seolah-olah mereka sudah hebat. Pamer kekuatan metafisik, kesaktian, mengaku bisa keluar-masuk badan, bisa membaca pikiran segala. Taruhlah semua itu terjadi, lalu apa? Semuanya justru membuktikan mind yang amat sangat kuat. Pantulan yang amat sangat kuat. Lempengan aluminum berukuran raksasa. So what? Tanpa cahaya, lempengan sebesar apa pun tak berguna. Pantulan yang kau anggap real itu pun sesungguhnya ilusif.

Mind memang harus habis. Harus dihabiskan. Bila masih tersisa, maka ia berpotensi untuk menciptakan aku ilusif yang baru. Taruhlah hari ini matahari sudah terbenam. Tidak ada cahaya dari luar. Tidak ada pantulan aku ilusif. Bagaimana dengan hari esok? Bila matahari terbit, dan lempengan aluminium masih ada, maka pantulan aku ilusif pun akan tercipta kembali.

Sekali lagi, lenyapnya pantulan tidak melenyapkan cahaya. Sang Aku tidak berkurang. Bila Sang Aku itu adalah Kasunyatan dalam bahasa Anda, maka Kasunyatanlah yang tidak berkurang. Janganlah engkau mempersoalkan istilah.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s