Identifikasi Diri sebagai Badan Penyebab Penderitaan dan Kelahiran Ulang?

buku-yoga-sutra-patanjali-keterikatan-dan-keakuan

Pohon Keberadaan ada karena keterikatan

Serukun apa pun rumah tangga kita, semewah apa pun rumah kita, sebaik apa pun pekerjaan kita, hanya dapat menyenangkan untuk beberapa saat saja. Dedaunan Pohon Keberadaan ini bukanlah untuk selamanya. Pohon ini pun rentan terhadap pergantian musim, cuaca, dan sebagainya. Ada musim semi, ada musim gugur.

“Jiwa Abadi yang mengikat dirinya dengan pohon ini seolah kehilangan sayapnya untuk terbang. Padahal sifatnya adalah bebas, merdeka. Sebab itu, tebanglah pohon ini!

“Menebang Pohon Keberadaaan tidak berarti mengakhiri kehidupan. Tidak bisa. Bersama  atau tanpa kita, roda kehidupan tetaplah berputar terus. Ia tidak pernah berhenti. Kelahiran, kematian, bahkan kiamat – semuanya adalah bagian dari Kehidupan Agung yang tak berujung dan tak berpangkal. Setidaknya demikian — tak berujung dan tak berpangkal— “bagi kita” dengan segala keterbatasan pemahaman kita.

“Menebang Pohon Keberadaan dengan kapak ketidakterikatan adalah proses menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kepedulian terhadap setiap wujud kehidupan, rasa empati yang tinggi. Ya, menjalani hidup. Tidak berhenti. Keterikatan menghentikan perjalanan kita. Bolak-balik, lahir-mati — lahir dan mati lagi untuk mengurusi hal-hal yang sama. Bahkan, seringkali kita mengalami kelahiran dalam keluarga yang sama. Kita berjalan di tempat, tidak menjalani hidup.” Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 15:3 (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Keterikatan diawali dengan “aku”, “milikku”.  Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali bahwa sesungguhnya yang perlu diselesaikan adalah hanya satu musuh yaitu keakuan?

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Sesungguhnya citta atau benih pikiran dan perasaan (terbentuk oleh, atau lahir dari asmita atau ke-aku-an) adalah ekam prayojaka—satu-satunya inisiator bagi segala sesuatu, segala kejadian; walau tampak anekesam atau banyak kerena adanya berbagai, beragam pravrtti atau kegiatan.” Yoga Sutra Patanjali IV.5

 

Jika kita memahami betul sutra ini, maka sungguh tiada berita yang lebih baik dari apa yang disampaikan oleh Patanjali lewat buku ini.

 

CITTA ATAU BENIH PIKIRAN DAN PERASAAN adalah Tunggal.

Jadi, jika sebelumnya kita mengira, kita berpendapat bahwa yang menyebabkan kelahiran-ulang adalah “benih-benih” pikiran dan perasaan, kita mesti meralat pendapat tersebut.

Pada bagian awal ulasan ini pun, ada kala kita masih menyebut benih-benih. Sengaja saya tidak ralat. Biarlah sutra ini yang meralatnya.

Dengan sangat mudah saya bisa saja mengedit ulasan awal. Benih-benih diganti menjadi benih tunggal—apa susahnya? Namun jika saya melakukan hal itu, maka tujuan kita mengulas bersama sutra-sutra ini, menyelaminya bersama, dan mengalami evolusi bersama tidak tercapai.

Sesungguhnya, jika kita memahami the fineries—hal-hal yang halus dalam tata-bahasa Sanskrit—, maka menjadi jelas sekali bahwa Patanjali pun sedang berevolusi bersama kita lewat sutra-sutra ini, rumusan-rumusan ini.

 

KETIKA KITA MASIH BERADA DI LANTAI BAWAH, perspektif kita tentang lantai atas tidaklah lama-tidak bisa sama—dengan perspektif kita setelah berada di atas.

Banyak penuIis—bukan saja yang menulis tentang Patanjali—bahkan banyak saintis, ilmuwan yang melakukan bunuh diri terhadap keilmuannya karena urusan konsistensi.

Ini sebuah lelucon!

Jika seorang ilmuwan selalu konsisten dengan apa yang “pernah ditemukan”, maka untuk apa lagi melakukan pencarian atau penelitian? Sains, ilmu apa pun, termasuk Ilmu Jiwa, the Science of Soul—mesti berkembang terus sesuai dengan peningkatan kesadaran yang terjadi pada diri kita, sesuai dengan perspektif kita yang makin berkembang, makin luas.

Kembali pada sutra ini, berita baiknya adalah

 

DI BALIK SEGALA PENGALAMAN HIDUP, sesungguhnya hanya ada satu citta—ekam, tunggal.

Seperti dijelaskan dalam Gita, pohon dengan jumlah cabang, ranting, dedaunan, bunga, dan buah yang tak terhitung, sesungguhnya satu adanya,tunggal. Berarti, jika kita menginginkan supaya pohon ini tidak berbuah lagi, tidak berbunga lagi, tidak bertambah ranting, cabang, atau dedaunannya, cukup menebang pohon dan mencabut akarnya.

Karena tidak memahami hal ini,

 

SELAMA INI KITA SIBUK MEMOTONG RANTING-RANTING POHON, satu per satu. Sampai kapan? Jika akar pohon ini masih ada, batangnya pun masih ada, maka tinggal tunggu waktu karena pohon segundul apa pun bisa tumbuh kembali. Bisa menjadi lebat kembali

Tebanglah dari batangnya.

Cabutlah akarnya—tidak ada citta, tidak ada benih, tidak ada kelahiran ulang.

Nah, penebangan ini adalah proses peralihan identitas, Patanjali telah menyampaikan secara tegas dan jelas, bahwasanya:

 

“CITTA ATAU BENIH PIKIRAN DAN PERASAAN LAHIR DARI atau terbentuk oleh asmita, ke-aku-an.” Berarti, intinya adalah ke-“aku”-an.

Selama kita masih mengidentifikasi diri dengan, atau menganggap diri sebagai badan—citta akan tetap ada, kelahiran ulang tidak dapat dihindari.

Demikian juga jika kita mengidentifikasikan diri dengan intelek, mind atau manah, apalagi dengan citta itu sendiri. Kelahiran-ulang, suka-duka, samsara tak terelakkan.

Satu-satunya solusi adalah mengidentifikasikan diri dengan Jiwa. Atau lebih tepatnya, menyadari hakikat-diri sebagai Jiwa. Kemudian tidak berhenti pada tahap menyadarinya saja, tapi memahami juga relasinya dengan Jiwa-Agung; dan berupaya untuk manunggal dengan-Nya. Demikian, kita baru berhasil menebang pohon dan mencabut akarnya.

Sekali lagi—di balik 1001 macam keinginan, obsesi, harapan, impian, keterikatan, dan sebagainya-—ingatlah, hanya ada satu citta, tunggal, yang lahir dari ke-“aku”-an. Lawan kita tunggal, Juragan! Satu lawan satu, pasti menang lah. Jangan khawatir, jangan ragu. Seorang Yogi itu berjiwa kesatria, ia tidak bimbang, ia selalu siap sedia menghadapi segala macam tantangan. Jadilah seorang Yogi!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s