Seperti Nabi Ibrahim Kita Juga Diberi Pilihan, Jalan Tuhan atau Keterikatan Anak?

buku-soul-awareness-nabi-ibrahim

“Api keinginan, api keterikatan, api keserakahan, api ketidaktahuan, api ketidaksadaran entah berapa ‘jenis’ api yang tersimpan di dalam diri manusia. Atau mungkin semuanya itu hanyalah ekspresi dari satu jenis api yaitu api ke-‘aku’-an. Ego manusia.

“Nabi Ibrahim membiarkan ke-‘aku’-annya terbakar habis oleh api itu sendiri. Dia berhasil menaklukkan egonya, sehingga atas perintah Allah dia bersedia mengorbankan anaknya. Dalam kisah ini, anak mewakili ‘keterikatan’. Dan ketika Ibrahim berhasil membebaskan diri dari keterikatan itu, dia menjadi manusia api. Siapa pun yang mendekatinya akan terbakar.

“Demikianlah para nabi, para wali, para pir, para mursyid, para avatar, para buddha, para mesias, para guru, para master. Bersahabatlah dengan mereka, sehingga anda pun terbebaskan dari keterikatan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bahasa sederhananya, kita disuruh memilih: Jalan Tuhan atau keterikatan anak? Dan itu tergantung seberapa tinggi kesadaran kita. Silakan simak penjelasan buku Soul Awareness tentang keterikatan pada anak yang dapat menjatuhkan kesadaran kita:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Disampaikan sebelumnya, bahwa beberapa orang sesungguhnya sudah berada pada suatu level, suatu tingkat yang cukup tinggi—ini urusannya dengan kehidupan masa lalu–, kemudian dalam kehidupan ini, ia tinggal melanjutkan perjalanannya. Sudah melanjutkan, tetapi tertarik ke bawah lagi. Persis seperti dalam permainan ular tangga. Sudah berada di kotak 99, dipatok ular, jatuh lagi ke kotak pertama.

 

Sahabat: Alasan utama kejatuhan kita itu apa, Pak? Apa tidak bisa dihindari?

AK: Alasannya bisa apa saja.

Banyak alasan, tetapi pemicunya ada beberapa, dan pemicu utama adalah bad company, pergaulan yang tidak menunjang. Kita butuh support group, butuh satsang, butuh good company supaya tidak terpengaruh oleh bad company.

Segala kelemahan, kekurangajaran, kebajingan, kejahatan, bahkan kehewanian dari masa lalu itu masih tetap ada dalam diri kita. Persis seperti file yang sudah di-delete, tidak mudah dibuka. Namun bagi seorang ahli komputer, apalagi seorang hacker, mudah untuk me-retrieve-nya kembali.

Bad company adalah company para hackers. Mereka yang masih berada di bawah pengaruh kehewanian diri mereka sendiri. Berada di tengah mereka saja sudah cukup untuk memancing files lama kehewanian diri kita untuk muncul lagi ke permukaan. Sangat berbahaya.

 

Sahabat: Susah juga ya, Pak. Apalagi kalau bad company itu datang dari keluarga sendiri, kalau justru keluarga terdekat yang tidak menunjang peningkatan kesadaran kita.

AK: Memang itu yang menjadi tantangan terberat. Kalau ditelusuri lagi, dibedah lagi, dikerucutkan lagi—di antara kawan, kerabat, dan keluarga—, pengaruh yang paling berbahaya adalah dari anak kita sendiri.

Coba dipikirkan, saat anak kita lahir, kesadaran kita seperti apa? Maunya enak, dapatnya anak? Kecelakaan? Atau memang mengharapkan anak dengan karakter tertentu?

Banyak di antara kita bahkan tidak tahu jika kita bisa mengundang jiwa untuk lahir lewat kita.Tentu mengundang jiwa yang kurang lebih berada pada frekuensi yang sama dengan kita. Jadi, bisa diprogram.

Oke, sekarang kita tahu.

Tetapi, sudah terlanjur punya anak yang lahir tanpa programming. Jiwa yang menempati raga anak kita adalah atas undangan sengaja atau tidak sengaja dari kita sendiri, yang kita lontarkan beberapa tahun lalu, ketika kesadaran kita masih rendah. Ketika urusan kita masih sebatas makan, minum, tidur, dan seks. Jelas, jiwa yang kita undang pun urusannya kurang lebih sama, frekuensinya kurang lebih sama seperti frekuensi kita saat mengundangnya.

Apa jadinya?

Kita gelisah, jiwa yang menempati badan anak kita pun gelisah, “Nyokap dan bokapku kok tiba-tiba jadi begini? Pakai meditasi segala! Dulu masih normal, masih oke, sekarang…….”

Nah, terjadilah tarik-menarik antara Anda dan sang anak. Biasanya orangtualah yang mengalah, “Mau bagaimana, anak sendiri!” Padahal, sikap mengalah seperti itu bisa membahayakan anaknya sendiri. Setidaknya tidak rnengedukasi anak.

Semestinya para orangtua yang sudah berada pada jalur meditatif lebih agresif mendorong anak-anaknya—yang lahir ketika mereka masih berada pada jalur nonmeditatif—supaya ikut berpindah jalur juga…….. Tetapi tidak, kita tidak selalu melakukan hal itu, banyak pertirnbangan kita, “Anak kan tidak bisa dipaksa, mereka pun punya pilihan sendiri. Mereka kan lahir lewat kita, bukan dari kita, seperti kata Kahlil Gibran!”

Ya, betul. Tidak bisa dipaksa, dan sesungguhnya tidak perlu dipaksa. Namun, kita mesti menunaikan kewajiban kita sebagai orangtua. Setidaknya memberitahu tentang pilihan meditatif yang terbuka bagi dirinya, pilihan yang bisa membahagiakan dirinya.

 

Sahabat: Pak, beberapa waktu yang lalu kita baru bicara soal anak, sekarang soal yang sama lagi. Wah, berabe juga ya, Pak.

AK: Itulah yang rnenjadi tantangan terbesar.

Bukan kesalahan anak, bukan pula kesalahan orangtua. Just a case af mismatch, sudah tidak matching lagi, maka pilihannya: Orangtua menjatuhkan diri, atau membantu anaknya ikut naik. Itu saja.

Tentu anak-anak kita, walau masih remaja, dan belum mandiri, sudah merasa hebat, sudah merasa dewasa. Diberitahu apa saja, reaksinya, “What is your problem, Pa, Ma?

Mereka tidak mau dicampuri urusannya.

Padahal,urusannya masih sebatas cinta monyet dan sebagainya.

Sebagai orangtua, kita mesti berusaha supaya mereka meraih kesadaran yang lebih tinggi. Tidak memikirkan perut atau selangkang saja. Setelah itu, biarlah mereka sendiri yang menentukan garis hidup mereka.Tidak bisa dipaksa.

Di saat yang sama, sebagai orangtua, kita pun tidak perlu menjatuhkan diri hanya untuk mengakomodasi mereka yang memilih kebejatan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s